Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Anak Mempertanyakan Agama, Ini Sikap Orang Tua yang Perlu Diperhatikan

Kompas.com, 30 Oktober 2026, 15:30 WIB
Puji Sri Rahayu,
Farid Assifa

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Anak yang mulai mempertanyakan ajaran agama terkadang membuat orang tua merasa khawatir. Pertanyaan seperti mengapa harus beribadah, bagaimana keberadaan Allah, atau mengapa ada aturan tertentu dalam agama bisa muncul ketika anak mulai mengembangkan rasa ingin tahu dan berusaha memahami hal-hal di sekitarnya.

Dalam situasi tersebut, orang tua sebaiknya tidak langsung memarahi, menghakimi, atau menganggap anak sedang menentang keyakinan keluarga. Sebaliknya, pertanyaan itu dapat menjadi kesempatan untuk membangun komunikasi, memberikan pemahaman secara bertahap, dan mendampingi anak mengenal agamanya dengan lebih baik.

Pertanyaan Anak tentang Agama Bukan untuk Dihindari

Rasa ingin tahu merupakan bagian dari proses anak mengenali lingkungan dan memahami berbagai hal yang belum diketahuinya. Ketika pertanyaan menyentuh persoalan agama, orang tua perlu memahami bahwa anak mungkin sedang mencari penjelasan yang lebih masuk akal baginya, bukan sengaja meragukan keyakinan.

Baca juga: Pesan Surah Al-Araf Ayat 31 agar Tidak Berlebihan dalam Segala Hal

Pertanyaan anak bisa muncul dari pengalaman di sekolah, percakapan dengan teman, tayangan digital, maupun pengamatan terhadap perilaku orang dewasa. Misalnya, anak mempertanyakan mengapa orang harus salat lima waktu atau mengapa ada perbedaan cara beribadah.

Orang tua dapat memulai dengan menanyakan alasan di balik pertanyaan tersebut. Cara ini membantu memahami hal yang sebenarnya ingin diketahui anak sehingga jawaban tidak melenceng dari persoalan yang sedang dipikirkannya.

Baca juga: Menag Sebut Kampus di Italia dan Vatikan Ingin Belajar Keberagaman Indonesia

Teladan Luqman Mengajarkan Cara Membimbing Anak

Al-Qur'an memberikan gambaran tentang pendidikan agama dalam keluarga melalui nasihat Luqman kepada anaknya. Allah berfirman dalam Surah Luqman ayat 13:

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَٰبُنَىَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

Wa iż qāla luqmānu libnihī wa huwa ya‘iẓuhū yā bunayya lā tusyrik billāh, innasy-syirka laẓulmun ‘aẓīm.

Artinya: “(Ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, saat dia menasihatinya, ‘Wahai anakku, janganlah mempersekutukan Allah! Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) itu benar-benar kezaliman yang besar.’” (QS Luqman: 13).

Baca juga: Dari Katering hingga Laundry, Usaha Pesantren Didorong Jadi Penopang Pendidikan

Ayat tersebut memperlihatkan Luqman menyampaikan nasihat kepada anaknya dengan panggilan penuh kasih, yakni yā bunayya atau wahai anakku. Nasihat tentang tauhid disampaikan dalam hubungan yang dekat antara orang tua dan anak.

Kisah ini dapat menjadi teladan bahwa pendidikan agama tidak hanya berisi perintah, tetapi juga membutuhkan komunikasi dan pendampingan. Orang tua perlu menyampaikan ajaran dengan bahasa yang dapat dipahami anak, tanpa menghilangkan substansi nilai yang diajarkan.

Memahami Hadis tentang Fitrah Anak

Rasulullah SAW juga menjelaskan keadaan dasar setiap anak ketika dilahirkan. Abu Hurairah RA meriwayatkan sabda Nabi dalam Sahih al-Bukhari 1358:

مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ، كَمَا تُنْتَجُ الْبَهِيمَةُ بَهِيمَةً جَمْعَاءَ، هَلْ تُحِسُّونَ فِيهَا مِنْ جَدْعَاءَ

Baca juga: SKB 3 Menteri Tetapkan 17 Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama 2027, Ini Daftarnya

Mā min maulūdin illā yūladu ‘alal-fiṭrah, fa abawāhu yuhawwidānihi au yunashṣirānihi au yumajjisānihi, kamā tunta jul-bahīmatu bahīmatan jam‘ā’a, hal tuḥissūna fīhā min jad‘ā’a.

Artinya: “Tidak ada seorang anak pun yang dilahirkan kecuali dilahirkan di atas fitrah. Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi, sebagaimana hewan melahirkan anaknya dalam keadaan sempurna. Apakah kalian melihat ada bagian tubuhnya yang terpotong?” (HR Bukhari 1358).

Hadis ini menjelaskan pentingnya peran lingkungan keluarga dalam pendidikan dan perkembangan keagamaan anak. Orang tua memiliki tanggung jawab mengenalkan nilai-nilai agama melalui pengajaran, kebiasaan, dan keteladanan. Karena itu, pendampingan tidak cukup dilakukan dengan meminta anak mengikuti aturan tanpa memberikan pemahaman.

Baca juga: Teks Khutbah Jumat Singkat: Jangan Jadikan Aib Orang Lain sebagai Hiburan

Dengarkan Pertanyaan dan Jawab Sesuai Usia Anak

Ketika anak bertanya, orang tua sebaiknya memberikan kesempatan untuk menyampaikan pikirannya sampai selesai. Hindari memotong pembicaraan, mempermalukan, atau langsung memberikan label negatif. Sikap tersebut membantu menjaga ruang komunikasi agar anak tidak merasa takut menyampaikan kebingungannya.

Jawaban juga perlu disesuaikan dengan usia dan kemampuan memahami anak. Pertanyaan sederhana dapat dijawab menggunakan contoh dalam kehidupan sehari-hari. Sementara itu, persoalan yang lebih kompleks dapat dijelaskan secara bertahap tanpa memaksakan anak memahami seluruh konsep dalam satu percakapan.

Baca juga: Berawal dari Masjid, Al-Qarawiyyin di Maroko Jadi Salah Satu Universitas Tertua Dunia

Penelitian dalam Jurnal Pendidikan Indonesia berjudul “Konsep Dasar Model Pembelajaran Islamic Parenting” yang ditulis Dinda Nopiana Sari Z dan tim dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menyoroti pentingnya komunikasi efektif, keteladanan orang tua, dan rumah sebagai lingkungan pendidikan Islam. Pendekatan tersebut dapat diterapkan dengan membiasakan percakapan terbuka tentang pengalaman serta pertanyaan keagamaan anak.

Jangan Mengarang Jawaban Jika Belum Memahami

Orang tua tidak harus mengetahui jawaban atas seluruh pertanyaan agama. Jika menemukan pertanyaan yang belum dapat dijelaskan, lebih baik mengakuinya daripada memberikan informasi yang keliru atau membuat jawaban tanpa dasar.

Baca juga: Teks Khutbah Jumat Singkat: Kritik Rakyat Bukan Kebencian, Pemimpin Perlu Mendengarkan

Orang tua dapat mengajak anak mencari penjelasan bersama melalui Al-Qur'an, hadis, buku keislaman, atau bertanya kepada guru agama dan ulama yang kompeten. Proses tersebut sekaligus mengajarkan bahwa memahami agama membutuhkan ilmu dan sikap hati-hati.

Bangun Pemahaman Agama Melalui Keteladanan

Penjelasan lisan perlu disertai perilaku sehari-hari. Anak dapat melihat bagaimana orang tua menjalankan ibadah, bersikap jujur, menghormati orang lain, dan menyelesaikan perbedaan pendapat. Keteladanan membantu anak mengenali penerapan nilai agama dalam kehidupan nyata.

Pada akhirnya, ketika anak mempertanyakan ajaran agama, orang tua perlu hadir sebagai pendamping yang sabar, bukan sekadar pemberi perintah. Mendengarkan, menjawab dengan ilmu, dan memberikan contoh merupakan langkah untuk membantu anak membangun pemahaman agama secara bertahap.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
Ragu Terkena Najis Saat Shalat, Haruskah Dibatalkan atau Tetap Dilanjutkan?
Ragu Terkena Najis Saat Shalat, Haruskah Dibatalkan atau Tetap Dilanjutkan?
Aktual
Apakah Sperma, Madi, dan Wadzi Termasuk Najis dan bisa Membatalkan Wudhu? Ini Penjelasan Hukumnya
Apakah Sperma, Madi, dan Wadzi Termasuk Najis dan bisa Membatalkan Wudhu? Ini Penjelasan Hukumnya
Aktual
Tak Perlu Menunda, Ini Anjuran Menyegerakan Pemakaman Jenazah
Tak Perlu Menunda, Ini Anjuran Menyegerakan Pemakaman Jenazah
Aktual
Arti Pentingnya Berhati-hati terhadap Najis dalam Islam, Ini Penjelasannya
Arti Pentingnya Berhati-hati terhadap Najis dalam Islam, Ini Penjelasannya
Aktual
40 Calon Jemaah Haji Manggarai Barat Dapat Layanan Paspor Jemput Bola dari Imigrasi
40 Calon Jemaah Haji Manggarai Barat Dapat Layanan Paspor Jemput Bola dari Imigrasi
Aktual
Anak Mempertanyakan Agama, Ini Sikap Orang Tua yang Perlu Diperhatikan
Anak Mempertanyakan Agama, Ini Sikap Orang Tua yang Perlu Diperhatikan
Aktual
Sudah Berjanji Tapi Ada Keperluan Mendadak, Bagaimana Jika Membatalkannya?
Sudah Berjanji Tapi Ada Keperluan Mendadak, Bagaimana Jika Membatalkannya?
Aktual
Hukum Memperlakukan Anjing dalam Islam, Termasuk Larangan Menyakiti dan Menyiksanya
Hukum Memperlakukan Anjing dalam Islam, Termasuk Larangan Menyakiti dan Menyiksanya
Aktual
Hukum Membunuh Nyamuk dalam Islam, Bolehkah Menggunakan Raket Listrik?
Hukum Membunuh Nyamuk dalam Islam, Bolehkah Menggunakan Raket Listrik?
Aktual
Pesan Surah Al-A'raf Ayat 31 agar Tidak Berlebihan dalam Segala Hal
Pesan Surah Al-A'raf Ayat 31 agar Tidak Berlebihan dalam Segala Hal
Aktual
Menag Sebut Kampus di Italia dan Vatikan Ingin Belajar Keberagaman Indonesia
Menag Sebut Kampus di Italia dan Vatikan Ingin Belajar Keberagaman Indonesia
Aktual
Dari Katering hingga Laundry, Usaha Pesantren Didorong Jadi Penopang Pendidikan
Dari Katering hingga Laundry, Usaha Pesantren Didorong Jadi Penopang Pendidikan
Aktual
SKB 3 Menteri Tetapkan 17 Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama 2027, Ini Daftarnya
SKB 3 Menteri Tetapkan 17 Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama 2027, Ini Daftarnya
Aktual
Teks Khutbah Jumat Singkat: Jangan Jadikan Aib Orang Lain sebagai Hiburan
Teks Khutbah Jumat Singkat: Jangan Jadikan Aib Orang Lain sebagai Hiburan
Aktual
Santri Dapat Kupon Belanja Rp 20.000 di Festival Hari Santri Jakarta
Santri Dapat Kupon Belanja Rp 20.000 di Festival Hari Santri Jakarta
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar