KOMPAS.com - Al-Qarawiyyin di Fez, Maroko merupakan salah satu lembaga pendidikan bersejarah dalam peradaban Islam.
Berawal dari masjid yang didirikan pada 859 Masehi, tempat ini berkembang menjadi pusat pembelajaran agama dan ilmu pengetahuan yang menarik perhatian para pencari ilmu dari berbagai wilayah.
Sejarahnya juga berkaitan dengan peran perempuan dalam pembangunan pendidikan, terutama Fatimah al-Fihri, tokoh yang dikenal sebagai pendiri masjid tersebut.
Baca juga: Kemenag Siapkan 15 Program Kerukunan, dari Nikah Akbar hingga Masjid Ramah Pemudik
Perjalanan Al-Qarawiyyin memperlihatkan bagaimana tempat ibadah, tradisi belajar, dan dukungan masyarakat berkontribusi terhadap perkembangan intelektual dunia Islam.
Al-Qarawiyyin terletak di kawasan medina Fez, kota bersejarah yang berkembang sejak abad ke-9.
Menurut International Centre for Islamic Culture and Arts (IRCICA), masjid ini dibangun sekitar 859–860 Masehi dan kemudian mengalami sejumlah perluasan serta pemugaran sepanjang sejarahnya.
Baca juga: Tokoh Agama Sasak TGH Lalu Nurudin Marzuki Wafat Saat Pimpin Doa
Pada masa itu, masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah. Kompleks masjid juga menjadi ruang berkumpul masyarakat dan kegiatan pendidikan.
Tradisi pembelajaran yang berkembang di Al-Qarawiyyin kemudian memperkuat kedudukannya sebagai salah satu pusat intelektual penting di kawasan Maghrib.
Fatimah al-Fihri dikenal sebagai perempuan Muslim yang mendirikan Masjid Al-Qarawiyyin. Ia berasal dari keluarga yang bermigrasi dari Kairouan, wilayah yang kini berada di Tunisia, menuju Fez.
Nama Al-Qarawiyyin sendiri berkaitan dengan Kairouan, tempat asal komunitas tersebut.
Menurut World History Encyclopedia, Fatimah menggunakan kekayaan warisan keluarganya untuk membangun masjid yang kemudian menjadi bagian penting kehidupan masyarakat Fez.
Kisahnya menunjukkan bahwa kontribusi perempuan dalam peradaban Islam tidak terbatas pada kegiatan belajar, tetapi juga mencakup pembangunan sarana pendidikan dan keagamaan.
Baca juga: Mengapa Anak Disebut Perhiasan Dunia dalam Al-Quran? Ini Penjelasannya
Seiring waktu, Al-Qarawiyyin berkembang sebagai tempat pengajaran berbagai bidang ilmu.
Pembelajaran agama, termasuk Al-Qur'an dan fikih, menjadi bagian penting dari tradisi pendidikannya. Kajian sejarah juga mencatat perkembangan pembelajaran bahasa Arab dan sejumlah disiplin ilmu lain dalam lingkungan intelektual Fez.
Perkembangan tersebut berlangsung dalam konteks Fez sebagai pusat budaya dan perdagangan.
UNESCO mencatat bahwa kota ini mencapai masa kejayaan pada abad ke-13 hingga ke-14 di bawah Dinasti Marinid. Lingkungan perkotaan yang dinamis turut mendukung kehidupan keagamaan, kebudayaan, dan pendidikan.
Baca juga: 6 Amalan Selama November 2026, dari Puasa Sunah hingga Sedekah
Salah satu aspek penting dalam sejarah Al-Qarawiyyin adalah dukungan pendanaan untuk menjaga keberlangsungan kegiatan pendidikan.
Penelitian Muhammad Nazmul Hoque dan Md. Faruk Abdullah dalam Journal of Nusantara Studies pada 2021 membahas peran wakaf dalam menopang lembaga tersebut.
Wakaf merupakan penyerahan harta untuk kepentingan yang berkelanjutan sesuai ketentuan syariat.
Dalam sejarah Al-Qarawiyyin, dukungan wakaf dan sumbangan membantu membiayai kebutuhan lembaga serta komunitasnya.
Pengalaman ini menunjukkan bahwa keberlanjutan pendidikan tidak hanya bergantung pada pengajar dan peserta didik, tetapi juga pada sistem pendanaan dan dukungan sosial.
Al-Qarawiyyin kerap disebut sebagai salah satu universitas tertua yang masih beroperasi.
Namun, penyebutan tersebut perlu dipahami dengan memperhatikan perbedaan antara lembaga pembelajaran abad pertengahan dan universitas modern yang memiliki sistem kelembagaan berbeda.
Sejarahnya bermula dari masjid dan tradisi pengajaran, bukan langsung dari bentuk universitas modern seperti sekarang.
Baca juga: Danantara Beli Hotel di Mekkah, Apa Dampaknya bagi Biaya Haji?
Terlepas dari perbedaan definisi tersebut, warisan Al-Qarawiyyin tetap penting dalam sejarah pendidikan Islam.
Lembaga ini memperlihatkan kesinambungan tradisi belajar selama berabad-abad serta hubungan antara masjid, masyarakat, dan pengembangan ilmu pengetahuan.
Pentingnya ilmu juga ditegaskan dalam Al-Qur'an. Allah berfirman dalam Surah Al-Mujadilah ayat 11:
يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍ
Yarfa‘illāhulladzīna āmanū mingkum walladzīna ūtul-‘ilma darajāt.
Artinya: “Niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS Al-Mujadilah: 11).
Baca juga: Dari Madinah ke Gaza, MUI Serukan Perdamaian Dunia di Italia
Ayat tersebut menegaskan kedudukan orang beriman dan berilmu. Sejarah Al-Qarawiyyin memberi gambaran bagaimana semangat mencari ilmu dapat diwujudkan melalui lembaga yang dirawat lintas generasi.
Warisan utamanya bukan hanya bangunan bersejarah, melainkan juga pentingnya menjaga akses pendidikan, mendukung kegiatan belajar, dan meneruskan pengetahuan kepada masyarakat.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.