Editor
KOMPAS.com — Menteri Agama Nasaruddin Umar menyebut dua perguruan tinggi di Italia dan Vatikan tertarik menjalin kerja sama untuk mempelajari pengalaman Indonesia menjaga persatuan di tengah masyarakat yang majemuk.
Peluang kolaborasi tersebut mengemuka dalam rangkaian kunjungan kerja Menag ke Italia dan Vatikan, termasuk saat menghadiri pertemuan tokoh agama dunia di Assisi.
“Ada dua universitas di Italia dan Vatikan itu mengajak kita kerja sama,” kata Nasaruddin dalam rilisnya, Jumat (30/10/2026).
Baca juga: Hadiri Forum di Italia, Menag Dorong Bahasa Agama Jadi Instrumen Diplomasi Global
Salah satu lembaga yang disebut Menag adalah Pontificio Istituto di Studi Arabi e d’Islamistica (PISAI) atau Institut Kepausan untuk Studi Arab dan Islam, yang berada di bawah naungan Takhta Suci.
Menurut Nasaruddin, kolaborasi tersebut dapat menjadi ruang pembelajaran bersama. Indonesia memiliki pengalaman mengelola kemajemukan, sementara Vatikan mempunyai kekayaan literatur dan tradisi keilmuan yang dapat dipelajari.
“Mereka berkepentingan untuk belajar ke Indonesia. Kita pun juga, saya kira, perlu belajar di Vatikan,” tuturnya.
Dalam kunjungan tersebut, Nasaruddin juga berkesempatan mendatangi perpustakaan di Vatikan.
Ia mengaku menemukan banyak koleksi literatur Islam, termasuk sejumlah kitab yang jarang dijumpainya di Indonesia maupun negara-negara Timur Tengah.
Menurut dia, pengalaman tersebut memperlihatkan pentingnya pertukaran pengetahuan dan dialog antartradisi keagamaan.
Selain perguruan tinggi, sejumlah perwakilan negara disebut menyampaikan ketertarikan untuk bekerja sama dengan Kementerian Agama dan Masjid Istiqlal. Mereka antara lain berasal dari Inggris, Australia, dan Pakistan.
“Mereka ingin kerja sama dengan Kementerian Agama dan Istiqlal, terutama di Inggris, ya, kemarin Inggris, Australia, dan Pakistan,” ujar Nasaruddin.
Baca juga: Menag Nasaruddin Umar Gagas Gerakan Sepekan Sekali Bersarung
Ia menilai ketertarikan itu menunjukkan perhatian terhadap pengalaman Indonesia dalam mengelola keberagaman dan mengembangkan moderasi beragama.
“Pokoknya Indonesia itu sekarang jadi model, ya, terutama moderasi beragama kita,” ungkapnya.
Nasaruddin mengatakan, gagasan ekoteologi dan diplomasi keagamaan yang disampaikannya dalam forum di Assisi mendapat respons positif dari penyelenggara.
Menurut dia, penyelenggara berencana mengangkat gagasan tersebut dalam agenda pertemuan berikutnya.
“Jadi, statement kita tentang ekoteologi dan tentang religious diplomacy itu nanti juga akan dijadikan tema besar yang akan datang,” jelasnya.
Perhatian peserta, kata Nasaruddin, juga tertuju pada Pancasila sebagai landasan kehidupan bersama di tengah keberagaman.
Ia menyebut kesempatan berbicara yang semula dialokasikan selama tujuh menit berkembang menjadi sekitar 30 menit karena peserta ingin mengetahui lebih jauh pengalaman Indonesia.
“Karena mereka itu tertarik, minta dijelaskan tentang Pancasila. Pancasila itu bisa menjadi bukan hanya nilai-nilai Indonesia, tetapi juga bisa menjadi nilai-nilai universal,” ungkapnya.
Nasaruddin menambahkan, sejumlah gagasan kerja sama antarumat beragama yang sebelumnya dibangun melalui Masjid Istiqlal turut mendapat perhatian untuk ditindaklanjuti.
Ia menyebut April 2027 sebagai salah satu momentum kelanjutan pembahasan tersebut.
Dalam rangkaian kunjungan itu, Nasaruddin juga bertemu dengan pejabat yang disebutnya sebagai Menteri Luar Negeri Vatikan. Pertemuan membahas penguatan hubungan Indonesia dan Vatikan serta kerja sama dalam menyuarakan nilai-nilai kemanusiaan.
Menurut dia, salah satu titik temu kedua pihak adalah komitmen membela masyarakat yang mengalami penindasan tanpa membedakan latar belakang agama.
“Bahwa siapa pun yang tertindas itu harus dibela, dari kelompok agama mana pun,” tegasnya.
Nasaruddin berharap berbagai peluang yang dibahas selama kunjungan dapat ditindaklanjuti menjadi kerja sama konkret dalam bidang dialog antaragama, pendidikan, dan diplomasi keagamaan.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.