Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Aktivis Pro Palestina Akhiri Mogok Makan usai Kontrak Senjata Israel Dibatalkan

Kompas.com, 15 Januari 2026, 16:05 WIB
Farid Assifa

Editor

KOMPAS.com - Tiga aktivis kelompok Palestine Action yang ditahan di Inggris mengakhiri aksi mogok makan selama 73 hari setelah pemerintah Inggris memutuskan tidak memberikan kontrak besar kepada anak perusahaan produsen senjata Israel, Elbit Systems.

Ketiga aktivis tersebut—Kamran Ahmed (28), Heba Muraisi (31), dan Lewie Chiaramello (22)—menjalani penahanan sambil menunggu proses persidangan.

Dukungan terhadap mereka datang dari kelompok Prisoners for Palestine, yang pada Rabu (waktu setempat) mengonfirmasi bahwa para tahanan telah menghentikan aksi mogok makan di masing-masing penjara tempat mereka ditahan.

Dalam pernyataannya, kelompok pendukung menyebut keputusan menghentikan mogok makan diambil setelah salah satu tuntutan utama mereka tercapai.

Baca juga: Pria Tertua Arab Saudi Wafat Usia 142 Tahun, Nasser Al Wadaei Tinggalkan 134 Keturunan

“Aksi mogok makan para tahanan kami akan dikenang sebagai momen perlawanan murni yang memalukan bagi negara Inggris,” bunyi pernyataan tersebut.

Salah satu dari tiga aktivis, Lewie Chiaramello, diketahui mengidap diabetes tipe 1. Karena kondisi kesehatannya, ia memilih mogok makan secara bergantian, yakni menolak makanan setiap dua hari sekali selama aksi berlangsung.

Empat tahanan lain yang memulai aksi serupa sejak awal November 2025 juga telah lebih dulu menghentikan mogok makan mereka pada bulan sebelumnya.

Seluruh aktivis tersebut memprotes lamanya masa penahanan sebelum sidang, yang dalam beberapa kasus bisa mencapai hampir satu tahun akibat menumpuknya perkara di pengadilan Inggris.

Para pendukung menyatakan bahwa ketujuh aktivis kini menjalani proses pemulihan medis berupa re-feeding treatment di bawah pengawasan dokter, sesuai pedoman penanganan mogok makan di lembaga pemasyarakatan.

Selama aksi berlangsung, kelompok tahanan mengajukan lima tuntutan utama. Di antaranya adalah pencabutan pelarangan terhadap organisasi Palestine Action, penutupan perusahaan pertahanan milik Israel di Inggris, serta perbaikan kondisi dan perlakuan terhadap mereka di penjara.

Keputusan pemerintah Inggris untuk tidak memberikan kontrak pertahanan bernilai sekitar 2,69 miliar dolar AS kepada Elbit Systems UK menjadi sorotan utama.

Harian The Times melaporkan bahwa Kementerian Pertahanan Inggris memilih konsorsium pesaing yang dipimpin Raytheon UK untuk proyek pelatihan militer tersebut.

Menurut Prisoners for Palestine, batalnya kontrak ini merupakan “kemenangan nyata” bagi para aktivis yang mempertaruhkan kondisi fisik mereka untuk menyoroti peran Elbit Systems dalam mendukung operasi militer Israel.

Selama bertahun-tahun, aktivis hak Palestina di berbagai negara menyerukan divestasi dari Elbit Systems, yang dituding memasok senjata bagi militer Israel dalam konflik di wilayah Palestina, termasuk Gaza.

Sejak Oktober 2023, serangan militer Israel di Jalur Gaza dilaporkan telah menewaskan lebih dari 71.000 warga Palestina.

Ketujuh aktivis Palestine Action ditahan atas dugaan keterlibatan dalam aksi pembobolan fasilitas Elbit Systems UK di Filton, dekat Bristol, pada 2024.

Pemerintah Inggris sendiri telah melarang Palestine Action pada Juni tahun lalu berdasarkan Terrorism Act 2000, yang menjadikan dukungan terhadap kelompok tersebut sebagai tindak pidana dengan ancaman hukuman hingga 14 tahun penjara.

Baca juga: Arab Saudi Pasang Sensor Pintar di Masjidil Haram untuk Kendalikan Arus Jamaah

Larangan ini memicu kritik luas dari pegiat HAM dan kebebasan sipil. Sejumlah demonstran ditangkap di berbagai kota Inggris karena menyuarakan dukungan terhadap kelompok tersebut, yang oleh pengkritik disebut sebagai pengetatan berlebihan terhadap kebebasan berekspresi dan berkumpul.

Anggota Parlemen Inggris dari Partai Buruh, John McDonnell, turut menyampaikan apresiasinya kepada para aktivis. Dalam unggahan di media sosial, ia memuji dedikasi mereka dan menegaskan bahwa perjuangan untuk keadilan bagi rakyat Palestina serta penghentian keterlibatan industri senjata Inggris akan terus berlanjut.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Maulid Nabi 2026 Tanggal Berapa? Cek Jadwal Libur, Cuti Bersama, dan Long Weekend
Maulid Nabi 2026 Tanggal Berapa? Cek Jadwal Libur, Cuti Bersama, dan Long Weekend
Aktual
Kemenag Sebut Masjid Istiqlal Tidak IPO, Hanya Fasilitasi Wakaf Saham
Kemenag Sebut Masjid Istiqlal Tidak IPO, Hanya Fasilitasi Wakaf Saham
Aktual
Wamenag Minta Pelaku Usaha dan Penyelenggara Acara Tak Jadikan Agama sebagai Komoditas
Wamenag Minta Pelaku Usaha dan Penyelenggara Acara Tak Jadikan Agama sebagai Komoditas
Aktual
100 Ucapan HUT ke-81 Kemerdekaan RI yang Islami untuk Status Media Sosial
100 Ucapan HUT ke-81 Kemerdekaan RI yang Islami untuk Status Media Sosial
Aktual
Doa Tolak Bala untuk Meminta Perlindungan: Lengkap Tulisan Arab, Latin, dan Artinya
Doa Tolak Bala untuk Meminta Perlindungan: Lengkap Tulisan Arab, Latin, dan Artinya
Doa dan Niat
Tren Umrah Mandiri, Menhaj ke Travel: Tingkatkan Layanan, Bukan Perang Harga
Tren Umrah Mandiri, Menhaj ke Travel: Tingkatkan Layanan, Bukan Perang Harga
Aktual
Intip Toko Oleh-Oleh 1915 di Yogyakarta, Wadah Baru Produk UMKM Muhammadiyah
Intip Toko Oleh-Oleh 1915 di Yogyakarta, Wadah Baru Produk UMKM Muhammadiyah
Aktual
Fenomena Sosial 'Marriage is Scary': Bagaimana Pandangan Islam?
Fenomena Sosial "Marriage is Scary": Bagaimana Pandangan Islam?
Aktual
5 Amalan Rabu Wekasan yang Dianjurkan dalam Islam
5 Amalan Rabu Wekasan yang Dianjurkan dalam Islam
Aktual
10 Doa Tolak Bala Rebo Wekasan di Akhir Bulan Safar: Arab, Latin dan Artinya
10 Doa Tolak Bala Rebo Wekasan di Akhir Bulan Safar: Arab, Latin dan Artinya
Doa dan Niat
Lomba Kemerdekaan 17 Agustus dalam Pandangan Islam: Antara Tradisi, Mubah, dan Sunnah
Lomba Kemerdekaan 17 Agustus dalam Pandangan Islam: Antara Tradisi, Mubah, dan Sunnah
Aktual
Menag Sebut Indonesia Berpeluang Jadi Pusat Ilmu dan Peradaban Islam Dunia
Menag Sebut Indonesia Berpeluang Jadi Pusat Ilmu dan Peradaban Islam Dunia
Aktual
Tak Cukup Zikir, Ini Cara Islam Menjaga Kesehatan Mental
Tak Cukup Zikir, Ini Cara Islam Menjaga Kesehatan Mental
Aktual
Rabu Wekasan 2026, Benarkah Hari Sial? Ini Penjelasan dan 4 Doa yang Bisa Dibaca
Rabu Wekasan 2026, Benarkah Hari Sial? Ini Penjelasan dan 4 Doa yang Bisa Dibaca
Doa dan Niat
MTQ Nasional 2026 Digelar September, Ini Daftar 162 Dewan Hakim dan Pengawas
MTQ Nasional 2026 Digelar September, Ini Daftar 162 Dewan Hakim dan Pengawas
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar