Editor
KOMPAS.com - Ketika banyak negara masih berjuang menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dengan pelestarian lingkungan, Arab Saudi justru menunjukkan langkah ambisius yang menarik perhatian dunia.
Melalui berbagai proyek penghijauan, konservasi laut, hingga pengembangan kota berkelanjutan, Kerajaan Arab Saudi menjadikan perlindungan lingkungan sebagai bagian penting dari transformasi nasional menuju Visi 2030.
Momentum itu kembali ditunjukkan saat peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang jatuh setiap 5 Juni.
Berbagai program konservasi dan pembangunan berkelanjutan dipamerkan sebagai bukti komitmen Arab Saudi dalam menjaga alam sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi jangka panjang.
Peringatan yang dipimpin Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) tersebut menjadi panggung bagi pemerintah, akademisi, pelaku usaha, dan masyarakat untuk menunjukkan upaya mereka dalam menghadapi perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, hingga pengelolaan sumber daya yang berkelanjutan.
Baca juga: Arab Saudi Bangun Taman Botani Raksasa, King Abdullah Gardens Siap Jadi Salah Satu Terbesar di Dunia
Salah satu fokus utama Arab Saudi adalah menjaga ekosistem Laut Merah yang dikenal sebagai salah satu kawasan laut paling berharga di dunia.
Membentang lebih dari 1.800 kilometer dengan luas sekitar 186.000 kilometer persegi, Laut Merah menjadi rumah bagi sistem terumbu karang terbesar keempat di dunia. Kawasan ini bahkan menampung sekitar 6,2 persen dari total terumbu karang global.
Menariknya, Arab Saudi menerapkan pendekatan "perlindungan sebelum pembangunan". Artinya, standar konservasi lingkungan diterapkan terlebih dahulu sebelum kawasan tersebut dikembangkan menjadi destinasi wisata berskala besar.
Melalui Strategi Keberlanjutan Laut Merah Nasional, pemerintah menargetkan peningkatan kawasan konservasi pesisir dan laut dari 3 persen menjadi 30 persen pada tahun 2030. Langkah ini menjadi bagian dari upaya membangun ekonomi biru yang berkelanjutan.
Tak hanya fokus pada laut, Arab Saudi juga melakukan rehabilitasi lingkungan dalam skala besar di wilayah gurun.
Otoritas Pengembangan Cagar Alam Kerajaan Raja Salman mengungkapkan bahwa lebih dari 750.000 hektare lahan terdegradasi telah dipulihkan.
Selain itu, lebih dari empat juta bibit pohon telah ditanam untuk mengembalikan tutupan vegetasi sekaligus menciptakan habitat aman bagi satwa liar dan tanaman asli kawasan tersebut.
Program restorasi ini menjadi salah satu proyek lingkungan terbesar di kawasan Timur Tengah dan mendukung target besar Saudi Green Initiative yang bertujuan meningkatkan kualitas lingkungan hidup di seluruh negeri.
Di balik citra Arab Saudi sebagai negara gurun, terdapat kawasan pegunungan hijau yang kaya keanekaragaman hayati, yakni wilayah Asir.
Terletak di bagian barat daya negara itu, Asir memiliki iklim yang relatif sejuk dengan curah hujan musiman yang mendukung pertumbuhan hutan juniper, zaitun liar, akasia, hingga berbagai tanaman obat dan aromatik.
Kawasan ini juga menjadi habitat penting bagi berbagai spesies burung lokal maupun migran, menjadikannya salah satu wilayah dengan biodiversitas terkaya di Arab Saudi.
Pemerintah setempat terus memperluas kawasan lindung dan mengembangkan ekowisata untuk menjaga keseimbangan antara pelestarian alam dan pengembangan ekonomi daerah.
Kota suci Makkah juga menjadi bagian dari transformasi lingkungan Arab Saudi.
Pemerintah kota memperluas program penghijauan melalui penanaman pohon, pembangunan taman kota, serta penambahan ruang terbuka hijau yang dapat dinikmati warga dan jutaan jemaah yang datang setiap tahun.
Selain itu, sistem pengelolaan sampah dan daur ulang terus diperkuat dengan dukungan teknologi pemantauan lingkungan berbasis digital.
Upaya tersebut diharapkan mampu menciptakan kota yang lebih nyaman, bersih, dan berkelanjutan bagi penduduk maupun para tamu yang berkunjung ke Tanah Suci.
Peran dunia akademik juga semakin menonjol dalam agenda keberlanjutan Arab Saudi.
King Khalid University di Abha, misalnya, menjadikan isu lingkungan sebagai bagian utama strategi riset menuju 2030.
Universitas tersebut telah mendokumentasikan lebih dari 20.000 sampel tanaman, melakukan 500 survei lapangan, menerbitkan 200 karya ilmiah, dan menyelesaikan lebih dari 50 proyek lingkungan.
Para peneliti kini mengembangkan berbagai inovasi mulai dari pertanian pintar, teknologi daur ulang, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan untuk melindungi hutan dan sumber daya alam.
Baca juga: Arab Saudi Hijaukan 1 Juta Hektare Gurun dan Tanam 159 Juta Pohon
Berbagai program yang dipamerkan pada Hari Lingkungan Hidup Sedunia menunjukkan perubahan besar dalam cara Arab Saudi memandang pembangunan.
Jika sebelumnya ekonomi identik dengan eksploitasi sumber daya, kini perlindungan lingkungan justru ditempatkan sebagai fondasi pertumbuhan ekonomi, inovasi ilmiah, dan peningkatan kualitas hidup masyarakat.
Melalui Visi 2030, Arab Saudi berupaya membuktikan bahwa pembangunan modern tidak harus mengorbankan alam, tetapi justru dapat berjalan berdampingan dengan upaya menjaga bumi untuk generasi mendatang.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang