Editor
KOMPAS.com - Muharram merupakan bulan pertama dalam kalender Hijriah sekaligus penanda dimulainya Tahun Baru Islam.
Bulan ini memiliki kedudukan istimewa karena termasuk salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan Allah SWT.
Sejak masa Arab pra-Islam, Muharram dikenal sebagai bulan yang dihormati dan dijadikan waktu untuk menghentikan peperangan.
Baca juga: Kapan Libur Tahun Baru Islam 2026? Cek Jadwal Long Weekend 1 Muharram 1448 Hijriah
Dalam ajaran Islam, Muharram juga menjadi momentum untuk meningkatkan ibadah, menjauhi maksiat, dan memulai tahun baru dengan memperbaiki kualitas spiritual.
Secara bahasa, Muharram berarti "yang diharamkan". Namun makna yang terkandung di dalamnya tidak hanya sebatas larangan, melainkan juga kesucian dan kemuliaan.
Baca juga: 6 Peristiwa Besar Bulan Muharram, dari Nabi Adam hingga Tragedi Karbala
Pada masa Arab kuno, berbagai suku secara tidak tertulis sepakat menghentikan peperangan pada bulan ini. Karena itu, Muharram menjadi periode yang aman dan dihormati oleh masyarakat saat itu.
Muharram disebut demikian karena berada di awal tahun dan disepakati sebagai bulan yang diharamkan untuk berperang. Meski begitu, dalam praktiknya pernah muncul kelompok-kelompok yang menggeser waktu bulan haram sehingga peperangan tetap berlangsung.
Terkait hal tersebut, Allah SWT berfirman dalam Surat At-Taubah ayat 36:
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ ۚ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ
“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah menganiaya diri dalam bulan yang empat itu, dan perangilah musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka memerangi semuanya; dan ketahuilah bahwasannya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.”
Para ulama memiliki pandangan yang berbeda mengenai apakah larangan berperang pada bulan Muharram masih berlaku atau tidak.
Mayoritas ulama atau jumhur berpendapat bahwa ketentuan larangan perang tersebut telah dihapus setelah turunnya Surat At-Taubah ayat 36.
Namun sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa kemuliaan bulan haram, termasuk Muharram, tetap mengandung larangan tersebut.
Perbedaan pandangan ini menunjukkan besarnya perhatian ulama terhadap kedudukan bulan-bulan haram dalam Islam.
Dalam kitab Syarah Shahih Muslim, Imam As-Suyuthi menjelaskan bahwa Muharram memiliki keistimewaan dibanding bulan-bulan lainnya.
Sebelum Islam datang, bulan ini dikenal dengan nama Safar Awal. Setelah Islam hadir, Allah SWT mengganti penyebutannya menjadi Muharram sebagaimana disebutkan dalam Surat At-Taubah ayat 36.
Perubahan nama tersebut menjadi salah satu alasan mengapa Rasulullah SAW menyebut Muharram sebagai syahrullah atau bulan Allah.
Penyebutan ini menunjukkan adanya perhatian dan kemuliaan khusus yang diberikan Allah SWT kepada bulan tersebut.
Dalam kitab Fathul Bari Juz 8 halaman 108, Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan bahwa salah satu hikmah Muharram dijadikan awal tahun adalah karena kesuciannya.
Dengan dimulainya tahun Hijriah pada Muharram, perjalanan satu tahun diawali dengan bulan suci dan ditutup dengan bulan suci pula, yakni Dzulhijjah.
Di tengah perjalanan tahun terdapat Rajab, sementara menjelang akhir tahun terdapat Dzulqa'dah dan Dzulhijjah yang juga termasuk bulan haram.
Susunan tersebut menunjukkan betapa Islam memberikan ruang khusus bagi umat untuk memperbanyak kebaikan pada waktu-waktu yang dimuliakan.
Muharram juga hadir tepat setelah musim haji. Karena itu, bulan ini menjadi masa ketika para jamaah haji kembali ke kampung halaman setelah menyelesaikan rangkaian ibadah dan memperoleh kesempatan untuk memulai kehidupan baru dengan semangat spiritual yang lebih baik.
Imam Fakhruddin Ar-Razi dalam Tafsir Al-Fakhrir Razi Juz 16 halaman 53 menjelaskan bahwa perbuatan maksiat yang dilakukan pada bulan-bulan haram akan mendapatkan konsekuensi yang lebih berat.
Sebaliknya, ibadah dan amal saleh yang dilakukan pada bulan-bulan tersebut juga memperoleh ganjaran yang lebih besar di sisi Allah SWT.
Menurutnya, makna haram pada bulan-bulan tersebut menunjukkan bahwa kemaksiatan mendapatkan hukuman yang lebih berat, sedangkan ketaatan memperoleh pahala yang lebih banyak.
Karena itu, Muharram menjadi momentum penting bagi umat Islam untuk memperbanyak amal saleh sekaligus menjauhi berbagai bentuk kemaksiatan.
Ibnu Al-Jauzi dalam kitab At-Tabshirah Juz 2 halaman 6 menyebut Muharram sebagai bulan yang mulia dan menjadi kesempatan untuk menumbuhkan berbagai kebaikan.
Sebagai awal tahun, Muharram dapat dijadikan titik pijak untuk melakukan evaluasi diri sekaligus menyusun resolusi spiritual dan mental selama satu tahun ke depan.
Momentum ini juga menjadi pengingat agar setiap Muslim memulai tahun baru dengan kehati-hatian, memperbaiki hubungan dengan Allah SWT, serta meningkatkan kualitas ibadah sehari-hari.
Keistimewaan Muharram juga tercermin dalam hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan Imam Muslim dari Abu Hurairah RA:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم : أَفْضَلُ الصِّيَامِ، بَعْدَ رَمَضَانَ، شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ
Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda,“Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa pada syahrullah yaitu Muharram.”
Hadis tersebut menunjukkan betapa istimewanya bulan Muharram di sisi Allah SWT.
Penyebutan syahrullah menjadi penegasan bahwa Muharram memiliki kedudukan yang tidak dimiliki oleh bulan-bulan lainnya.
Karena itu, Muharram dapat menjadi momentum bagi umat Islam untuk memperbanyak ibadah, memperkuat ketakwaan, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT sebagai bekal menjalani tahun yang baru.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang