KOMPAS.com – Bulan Muharram selalu memiliki tempat istimewa dalam kalender Islam. Selain menjadi bulan pertama dalam penanggalan Hijriah, Muharram juga termasuk salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan Allah SWT.
Karena kedudukannya yang istimewa, banyak umat Islam bertanya, Muharram ada peristiwa apa saja?
Pertanyaan tersebut tidak sekadar berkaitan dengan sejarah, melainkan juga menyentuh aspek spiritual dan teologis yang membentuk perjalanan umat manusia sejak masa para nabi hingga perkembangan peradaban Islam.
Baca juga: Hikmah Rasulullah SAW Dilahirkan Pada Hari Senin Bulan Rabiul Awal Tahun Gajah
Dalam berbagai kitab sejarah Islam dan literatur klasik, Muharram disebut sebagai bulan yang menyimpan sejumlah peristiwa besar.
Sebagian di antaranya berkaitan dengan kisah para nabi, sementara lainnya menjadi titik penting dalam perjalanan umat Islam hingga hari ini.
Lantas, peristiwa apa saja yang terjadi di bulan Muharram?
Sebelum membahas peristiwa-peristiwa pentingnya, penting untuk memahami posisi Muharram dalam Islam.
Allah SWT berfirman dalam Surah At-Taubah ayat 36:
"Sesungguhnya bilangan bulan menurut Allah ialah dua belas bulan ... di antaranya ada empat bulan haram."
Empat bulan haram tersebut adalah Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab.
Dalam kitab Lathaif Al-Ma'arif, ulama besar Al-Hafizh Ibnu Rajab Al-Hanbali menjelaskan bahwa Muharram disebut sebagai Syahrullah atau "Bulan Allah". Penyandaran nama bulan kepada Allah menunjukkan keagungan dan kemuliaan yang tidak dimiliki bulan-bulan lainnya.
Karena itu Rasulullah SAW menganjurkan umatnya memperbanyak ibadah, terutama puasa sunnah di bulan Muharram.
Dalam hadis riwayat Muslim disebutkan:
"Puasa yang paling utama setelah Ramadan adalah puasa di bulan Allah, yaitu Muharram."
Baca juga: Bukan Rabiul Awal, Ini Alasan Tahun Baru Islam Dimulai 1 Muharram
Salah satu peristiwa yang banyak disebut dalam literatur Islam adalah diterimanya taubat Nabi Adam AS.
Kisah ini bermula ketika Nabi Adam dan Hawa tergoda rayuan Iblis sehingga memakan buah yang dilarang Allah di surga.
Setelah diturunkan ke bumi, keduanya menyesali perbuatan tersebut dan memohon ampun kepada Allah SWT.
Dalam sejumlah riwayat yang disebut para ulama, Allah menerima taubat Nabi Adam pada tanggal 10 Muharram atau Hari Asyura.
Dikutip dari kitab Lathaif Al-Ma'arif karya Ibnu Rajab Al-Hanbali, Muharram dikenal sebagai bulan diterimanya taubat dan kembalinya seorang hamba kepada Allah SWT.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa pintu ampunan Allah selalu terbuka bagi siapa pun yang sungguh-sungguh bertobat.
Peristiwa besar berikutnya adalah berlabuhnya kapal Nabi Nuh AS setelah banjir besar yang menenggelamkan kaum yang menolak dakwah tauhid.
Dalam berbagai riwayat sejarah Islam disebutkan bahwa kapal Nabi Nuh akhirnya berlabuh di Bukit Judi setelah banjir surut.
Menurut sejumlah ulama, peristiwa tersebut terjadi pada tanggal 10 Muharram.
Dalam buku Qashash Al-Anbiya karya Ibnu Katsir dijelaskan bahwa keselamatan Nabi Nuh dan para pengikutnya menjadi simbol kemenangan iman atas penolakan dan kezaliman.
Sebagai bentuk rasa syukur atas keselamatan tersebut, Nabi Nuh disebut berpuasa pada hari itu.
Muharram juga dikaitkan dengan kisah penyelamatan Nabi Ibrahim AS dari hukuman Raja Namrud.
Saat itu Nabi Ibrahim menghancurkan berhala-berhala yang disembah kaumnya dan mengajak mereka kembali kepada tauhid. Akibatnya, ia dihukum dengan cara dibakar hidup-hidup.
Namun Allah SWT menunjukkan kekuasaan-Nya.
Dalam Surah Al-Anbiya ayat 69 Allah berfirman:
"Wahai api, jadilah dingin dan keselamatan bagi Ibrahim."
Mukjizat tersebut menjadi salah satu bukti nyata bahwa pertolongan Allah mampu mengalahkan kekuatan manusia sebesar apa pun.
Dalam Tafsir Al-Jalalain karya Imam Jalaluddin As-Suyuthi dijelaskan bahwa api tetap menyala, tetapi kehilangan sifat membakarnya sehingga Nabi Ibrahim selamat tanpa luka.
Baca juga: 1 Muharram 1448 H Jatuh 16 Juni 2026, Ini Jadwal Libur Nasional
Peristiwa yang paling kuat dasar riwayatnya terkait Muharram adalah penyelamatan Nabi Musa AS dan Bani Israil dari kejaran Firaun.
Saat Nabi Muhammad SAW tiba di Madinah, beliau mendapati kaum Yahudi berpuasa pada tanggal 10 Muharram.
Ketika ditanya alasannya, mereka menjawab bahwa hari tersebut adalah hari kemenangan Nabi Musa atas Firaun.
Rasulullah SAW kemudian bersabda:
"Aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian."
Lalu beliau berpuasa dan memerintahkan umat Islam untuk berpuasa pada hari Asyura. (HR Bukhari dan Muslim)
Dalam buku Keutamaan Asyura dan Bulan Muharram karya Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid dijelaskan bahwa peristiwa ini menjadi dasar utama dianjurkannya puasa Asyura bagi umat Islam.
Selain kisah kemenangan dan keselamatan para nabi, Muharram juga menyimpan salah satu tragedi paling menyedihkan dalam sejarah Islam.
Pada tanggal 10 Muharram tahun 61 Hijriah terjadi peristiwa Karbala di wilayah Irak.
Dalam peristiwa tersebut, cucu Rasulullah SAW, Husain bin Ali RA, bersama sejumlah anggota keluarga dan pengikutnya gugur setelah berhadapan dengan pasukan yang dikirim Khalifah Yazid bin Muawiyah.
Menurut Encyclopaedia Britannica, peristiwa Karbala menjadi titik sejarah yang sangat berpengaruh dalam perkembangan politik dan teologi Islam.
Bagi umat Syiah, Hari Asyura diperingati sebagai hari berkabung untuk mengenang kesyahidan Husain bin Ali.
Sementara mayoritas ulama Ahlus Sunnah memandang peristiwa tersebut sebagai tragedi besar yang patut dikenang dengan mengambil pelajaran tentang keberanian, keteguhan prinsip, dan pentingnya menjaga persatuan umat.
Baca juga: 10 Muharram Hari Asyura: Sejarah, Puasa, dan Keutamaannya
Banyak orang mengira Nabi Muhammad SAW berhijrah pada tanggal 1 Muharram.
Faktanya, hijrah Rasulullah dari Makkah ke Madinah terjadi pada bulan Rabiul Awal.
Namun pada masa khalifah Umar bin Khattab, para sahabat sepakat menjadikan peristiwa hijrah sebagai titik awal kalender Islam.
Dikutip dari buku Tarikh At-Tasyri' Al-Islami karya Muhammad Al-Khudhari Bek, bulan Muharram dipilih sebagai awal tahun karena bertepatan dengan dimulainya siklus baru setelah musim haji serta telah dikenal sebagai bulan suci sejak masa Arab pra-Islam.
Karena itu, Tahun Baru Islam selalu dimulai pada 1 Muharram meskipun peristiwa hijrah berlangsung beberapa bulan setelahnya.
Jika dicermati, berbagai peristiwa di bulan Muharram memiliki benang merah yang sama.
Kisah Nabi Adam mengajarkan pentingnya taubat. Kisah Nabi Nuh menunjukkan bahwa kesabaran dan iman akan berbuah keselamatan.
Peristiwa Nabi Ibrahim dan Nabi Musa membuktikan bahwa pertolongan Allah selalu datang kepada hamba-Nya yang bertakwa.
Sementara tragedi Karbala mengingatkan pentingnya mempertahankan prinsip kebenaran sekaligus menjaga persatuan umat.
Dalam Tafsir Al-Misbah, M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa sejarah dalam Al-Qur'an bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan sarana pembelajaran agar manusia mampu mengambil hikmah bagi kehidupan masa kini.
Karena itulah, menyambut Tahun Baru Islam tidak cukup hanya dengan pergantian angka kalender.
Muharram seharusnya menjadi momentum muhasabah, memperbaiki diri, memperbanyak amal saleh, serta memperkuat hubungan dengan Allah SWT.
Di tengah berbagai peristiwa besar yang pernah terjadi pada bulan ini, Muharram mengajarkan satu pesan penting, setiap perjalanan hidup selalu membuka kesempatan baru untuk menjadi pribadi yang lebih baik, lebih bertakwa, dan lebih dekat kepada Sang Pencipta.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang