Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bukan Rabiul Awal, Ini Alasan Tahun Baru Islam Dimulai 1 Muharram

Kompas.com, 3 Juni 2026, 11:13 WIB
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Setiap memasuki bulan Muharram, umat Islam di berbagai belahan dunia menyambut datangnya Tahun Baru Hijriah.

Berbeda dengan pergantian tahun Masehi yang identik dengan pesta kembang api dan perayaan meriah. Tahun Baru Islam lebih banyak diisi dengan refleksi diri, doa, muhasabah, dan upaya memperbaiki kualitas keimanan.

Namun, tidak sedikit yang bertanya-tanya: mengapa Tahun Baru Islam dimulai pada 1 Muharram? Padahal, peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah yang menjadi dasar penanggalan Islam terjadi pada bulan Rabiul Awal.

Pertanyaan tersebut membawa kita pada kisah menarik tentang lahirnya kalender Hijriah yang hingga kini digunakan oleh umat Islam di seluruh dunia.

Baca juga: 12 Bulan Hijriah: Urutan, Makna, dan Bulan Haram dalam Islam

Sebelum Ada Kalender Hijriah, Umat Islam Belum Memiliki Penanggalan Resmi

Pada masa Rasulullah SAW, masyarakat Arab sebenarnya telah mengenal nama-nama bulan seperti Muharram, Safar, Rabiul Awal, hingga Zulhijah.

Namun, mereka belum memiliki sistem penanggalan yang menggunakan nomor tahun sebagaimana kalender modern saat ini.

Akibatnya, berbagai peristiwa penting hanya dikenang berdasarkan kejadian tertentu. Misalnya, tahun kelahiran Nabi Muhammad SAW dikenal dengan sebutan Tahun Gajah karena bertepatan dengan peristiwa penyerangan Ka'bah oleh pasukan Abrahah.

Kondisi tersebut masih berlangsung hingga beberapa tahun setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW.

Dalam buku Menggapai Berkah di Bulan-bulan Hijriah karya Siti Zamratus Sa'adah dijelaskan bahwa kebutuhan akan kalender resmi mulai dirasakan ketika wilayah Islam berkembang pesat pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab RA.

Administrasi pemerintahan yang semakin luas membuat surat-menyurat antara pusat pemerintahan dan para gubernur daerah sering menimbulkan kebingungan karena tidak mencantumkan tahun secara jelas.

Baca juga: 10 Muharram Hari Asyura: Sejarah, Puasa, dan Keutamaannya

Surat Abu Musa Al-Asy'ari yang Mengubah Sejarah Penanggalan Islam

Sejumlah literatur sejarah Islam menyebutkan bahwa gagasan penyusunan kalender Islam muncul setelah Gubernur Basrah, Abu Musa Al-Asy'ari, mengirimkan surat kepada Khalifah Umar bin Khattab.

Dalam surat tersebut, Abu Musa menyampaikan kesulitan yang dihadapi para pejabat daerah ketika menerima surat tanpa keterangan waktu yang pasti.

Surat itu kemudian menjadi titik awal lahirnya sistem kalender Islam. Merespons persoalan tersebut, Umar bin Khattab mengumpulkan para sahabat senior untuk bermusyawarah menentukan sistem penanggalan yang dapat digunakan secara resmi oleh umat Islam.

Musyawarah tersebut menjadi salah satu keputusan administratif paling penting dalam sejarah peradaban Islam.

Mengapa Hijrah Nabi Dipilih Sebagai Awal Kalender Islam?

Dalam musyawarah para sahabat, muncul berbagai usulan mengenai peristiwa apa yang layak dijadikan titik awal perhitungan tahun.

Sebagian sahabat mengusulkan tahun kelahiran Nabi Muhammad SAW. Sebagian lainnya mengusulkan tahun pertama turunnya wahyu di Gua Hira. Ada pula yang mengusulkan tahun wafatnya Rasulullah SAW.

Namun setelah melalui diskusi panjang, para sahabat sepakat memilih peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah sebagai penanda awal kalender Islam.

Dalam kitab Tarikh al-Umam wa al-Muluk karya Imam Ath-Thabari dijelaskan bahwa hijrah dipilih karena menjadi titik pembeda yang jelas antara fase dakwah Islam yang penuh tekanan di Makkah dan fase pembangunan masyarakat Islam di Madinah.

Hijrah bukan sekadar perpindahan tempat tinggal. Peristiwa tersebut menjadi tonggak lahirnya peradaban Islam yang mandiri, berdaulat, dan memiliki sistem sosial yang kuat.

Karena itulah, hijrah dianggap sebagai momentum paling tepat untuk dijadikan awal penanggalan umat Islam.

Baca juga: 1 Muharram 1448 H Jatuh 16 Juni 2026, Ini Jadwal Libur Nasional

Keputusan Khalifah Umar bin Khattab

Setelah kesepakatan dicapai, Khalifah Umar bin Khattab menetapkan tahun hijrah Nabi sebagai tahun pertama dalam kalender Islam.

Keputusan itu diambil sekitar tahun 17 Hijriah atau bertepatan dengan 638 Masehi. Sejak saat itulah kalender Islam resmi dikenal dengan nama kalender Hijriah.

Dikutip dari buku Sejarah dan Peradaban Islam Periode Klasik (Abad VII-XIII M) karya Prof. Faisal Ismail, penanggalan tersebut kemudian menjadi fondasi administrasi pemerintahan Islam dan terus digunakan hingga sekarang.

Kata "Hijriah" sendiri berasal dari kata Arab hijrah yang berarti berpindah atau meninggalkan suatu tempat menuju tempat lain demi tujuan yang lebih baik.

Mengapa Muharram Dipilih sebagai Awal Tahun?

Inilah bagian yang sering menimbulkan rasa penasaran. Jika hijrah Nabi terjadi pada bulan Rabiul Awal, mengapa kalender Islam justru dimulai dari Muharram?

Dalam buku Mengenal Nama Bulan dalam Kalender Hijriah karya Ida Fitri Shohibah dijelaskan bahwa para sahabat memiliki sejumlah pertimbangan ketika memilih Muharram sebagai bulan pertama.

Pertama, Muharram merupakan salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan Allah SWT bersama Rajab, Zulkaidah, dan Zulhijah.

Kedua, Muharram datang setelah berakhirnya musim haji. Pada masa itu, jamaah haji kembali ke daerah masing-masing dan memulai aktivitas baru sehingga dianggap tepat sebagai awal tahun.

Ketiga, masyarakat Arab sejak masa pra-Islam memang telah mengenal Muharram sebagai bulan pertama dalam urutan kalender mereka.

Pendapat serupa juga dijelaskan dalam buku Sirah Amirul Mukminin Utsman bin Affan karya Ali Muhammad Ash-Shalabi.

Disebutkan bahwa Utsman bin Affan RA termasuk sahabat yang mengusulkan Muharram sebagai awal kalender Islam karena memiliki nilai simbolik yang kuat.

Akhirnya usulan tersebut diterima oleh para sahabat dan disepakati sebagai awal tahun Hijriah.

Muharram, Salah Satu Bulan yang Dimuliakan

Keistimewaan Muharram tidak hanya terletak pada posisinya sebagai awal tahun. Allah SWT menyebut adanya empat bulan haram dalam Al-Qur'an Surah At-Taubah ayat 36.

Muharram termasuk di dalamnya, bersama Rajab, Zulkaidah, dan Zulhijah.

Dalam kitab Lathaif Al-Ma'arif, Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali menjelaskan bahwa Muharram disebut sebagai "Syahrullah" atau bulan Allah. Penyebutan khusus ini menunjukkan kemuliaan yang tidak diberikan kepada bulan-bulan lainnya.

Oleh karena itu, para ulama menganjurkan umat Islam memperbanyak amal saleh selama bulan Muharram, termasuk puasa sunnah.

Rasulullah SAW bersabda:

"Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah, yaitu Muharram." (HR Muslim)

Baca juga: Niat Puasa Senin Kamis, Doa Berbuka, dan Keutamaan Menurut Hadits

Makna 1 Muharram bagi Kehidupan Muslim

Lebih dari sekadar pergantian angka tahun, 1 Muharram membawa pesan spiritual yang sangat mendalam.

Jika hijrah Nabi menjadi dasar kalender Islam, maka setiap datangnya Tahun Baru Hijriah sejatinya menjadi ajakan untuk melakukan hijrah dalam kehidupan sehari-hari.

Hijrah yang dimaksud tidak selalu berarti berpindah tempat, tetapi berpindah dari kebiasaan buruk menuju kebiasaan baik, dari kelalaian menuju ketaatan, serta dari dosa menuju taubat.

Dalam buku Di Balik 7 Hari Besar Islam karya KH Muhammad Sholikhin dijelaskan bahwa Tahun Baru Islam merupakan momentum muhasabah atau evaluasi diri atas perjalanan hidup selama satu tahun terakhir.

Karena itulah, banyak ulama menganjurkan umat Islam menyambut 1 Muharram dengan memperbanyak istighfar, membaca Al-Qur'an, memperbanyak doa, serta memperkuat komitmen untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Daftar 12 Bulan dalam Kalender Hijriah

Kalender Hijriah terdiri atas 12 bulan yang didasarkan pada peredaran bulan (qamariyah), yaitu:

  1. Muharram
  2. Safar
  3. Rabiul Awal
  4. Rabiul Akhir
  5. Jumadil Awal
  6. Jumadil Akhir
  7. Rajab
  8. Syakban
  9. Ramadhan
  10. Syawal
  11. Zulkaidah
  12. Zulhijah

Sistem kalender ini berbeda dengan kalender Masehi yang menggunakan peredaran matahari sehingga jumlah hari dalam setahun lebih sedikit sekitar 10–11 hari.

Bukan Sekadar Pergantian Tahun

Sejarah 1 Muharram sebagai Tahun Baru Islam berawal dari kebutuhan administratif pada masa Khalifah Umar bin Khattab RA.

Melalui musyawarah para sahabat, peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dipilih sebagai titik awal kalender Islam karena menjadi tonggak penting perkembangan umat Islam.

Meski hijrah terjadi pada bulan Rabiul Awal, para sahabat menetapkan Muharram sebagai awal tahun karena merupakan bulan mulia, datang setelah musim haji, dan telah dikenal sebagai bulan pertama oleh masyarakat Arab.

Oleh karena itu, setiap datangnya 1 Muharram, umat Islam tidak hanya memperingati pergantian tahun, tetapi juga mengenang semangat hijrah Nabi Muhammad SAW sekaligus menjadikannya momentum untuk memperbaiki diri menuju kehidupan yang lebih baik.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Berapa Jumlah Rakaat Shalat Taubat? Ini Penjelasan dan Dalilnya
Berapa Jumlah Rakaat Shalat Taubat? Ini Penjelasan dan Dalilnya
Aktual
Bolehkah Mengulang Shalat Taubat dalam Sehari? Ini Penjelasan Ulama dan Dalilnya
Bolehkah Mengulang Shalat Taubat dalam Sehari? Ini Penjelasan Ulama dan Dalilnya
Aktual
Kemenag Siapkan Materi Pencegahan LGBTQ dalam Kurikulum, Tindak Lanjuti Perpres Nomor 111 Tahun 2025
Kemenag Siapkan Materi Pencegahan LGBTQ dalam Kurikulum, Tindak Lanjuti Perpres Nomor 111 Tahun 2025
Aktual
Anggaran Tambahan Sudah Masuk, Kemenag Cairkan Tunjangan Profesi Guru-Dosen Minggu Depan
Anggaran Tambahan Sudah Masuk, Kemenag Cairkan Tunjangan Profesi Guru-Dosen Minggu Depan
Aktual
7 Adab Imam Shalat Berjamaah Menurut Imam Al-Ghazali Agar Ibadah Lebih Sempurna
7 Adab Imam Shalat Berjamaah Menurut Imam Al-Ghazali Agar Ibadah Lebih Sempurna
Aktual
Tokoh NU Banten Dorong PBNU Kembali ke Khittah, Sebut Pengurus Harus Jadi 'Pelayan Ulama'
Tokoh NU Banten Dorong PBNU Kembali ke Khittah, Sebut Pengurus Harus Jadi "Pelayan Ulama"
Aktual
Kapan Shalat Taubat Dilakukan? Simak Penjelasan Waktu Terbaik dan Harus Dihindari
Kapan Shalat Taubat Dilakukan? Simak Penjelasan Waktu Terbaik dan Harus Dihindari
Aktual
Tunjangan Profesi Guru dan Dosen Kemenag 2025 Cair Minggu Depan
Tunjangan Profesi Guru dan Dosen Kemenag 2025 Cair Minggu Depan
Aktual
Ponpes Bahrul Ulum Tegaskan Netral Jelang Muktamar NU 2026, Fokus Layani Muktamirin
Ponpes Bahrul Ulum Tegaskan Netral Jelang Muktamar NU 2026, Fokus Layani Muktamirin
Aktual
3 Syarat Agar Taubat Diterima Allah Menurut Penjelasan Ulama
3 Syarat Agar Taubat Diterima Allah Menurut Penjelasan Ulama
Aktual
Tata Cara Shalat Taubat Lengkap dengan Niat dan Doa
Tata Cara Shalat Taubat Lengkap dengan Niat dan Doa
Doa dan Niat
Kemenhaj Umumkan Daftar Jemaah Haji 2027, ASN Diminta Segera Bangun Komunikasi
Kemenhaj Umumkan Daftar Jemaah Haji 2027, ASN Diminta Segera Bangun Komunikasi
Aktual
Arab Saudi Luncurkan Visa Umrah yang Izinkan Jemaah Masuk Berkali-kali
Arab Saudi Luncurkan Visa Umrah yang Izinkan Jemaah Masuk Berkali-kali
Aktual
UNICEF Puji Kurikulum Berbasis Cinta dan Ekoteologi Kemenag
UNICEF Puji Kurikulum Berbasis Cinta dan Ekoteologi Kemenag
Aktual
Bismillahi Tawakkaltu Alallah La Haula Wala Quwwata Illa Billahil Aliyil Adzim Arab: Tulisan, Arti, Keutamaan, dan Hadis Shahihnya
Bismillahi Tawakkaltu Alallah La Haula Wala Quwwata Illa Billahil Aliyil Adzim Arab: Tulisan, Arti, Keutamaan, dan Hadis Shahihnya
Doa Harian
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar