KOMPAS.com – Kalender Islam atau Hijriah bukan sekadar sistem penanggalan. Ia adalah penanda perjalanan spiritual umat Muslim, yang mengikat waktu dengan ibadah, sejarah, dan nilai-nilai keimanan.
Berbeda dengan kalender Masehi yang berbasis matahari, kalender Hijriah mengikuti peredaran bulan (lunar).
Dalam satu tahun, terdapat 12 bulan dengan jumlah hari sekitar 354 atau 355 hari. Perbedaan ini membuat tanggal-tanggal penting dalam Islam, seperti Ramadan dan haji, terus bergeser setiap tahun dalam kalender Masehi.
Dalam buku Fiqh Sunnah karya Sayyid Sabiq, dijelaskan bahwa penanggalan Hijriah memiliki kaitan erat dengan pelaksanaan ibadah, sehingga memahami urutan dan maknanya menjadi bagian penting dalam kehidupan seorang Muslim.
Penetapan kalender Hijriah dimulai pada masa Umar bin Khattab sebagai khalifah. Tahun pertama Hijriah dihitung dari peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah.
Al-Qur’an sendiri menegaskan bahwa jumlah bulan dalam setahun adalah dua belas, sebagaimana disebut dalam Surah At-Taubah ayat 36.
Empat di antaranya merupakan bulan haram (suci), yang memiliki kedudukan khusus dalam Islam.
Menurut Wahbah Az-Zuhaili dalam Fiqh Islam wa Adillatuhu, bulan-bulan ini bukan hanya penanda waktu, tetapi juga memiliki dimensi hukum dan spiritual yang memengaruhi berbagai aspek ibadah.
Baca juga: Kisah Pernikahan Rasulullah dan Aisyah di Bulan Syawal, Penuh Hikmah
Bulan pertama ini termasuk bulan haram yang dimuliakan. Kata “Muharram” berarti “yang diharamkan”, merujuk pada larangan peperangan di masa lalu.
Salah satu momen penting adalah Hari Asyura, yang dianjurkan diisi dengan puasa dan amal kebaikan.
Bulan kedua ini sering disalahpahami sebagai bulan sial pada masa Jahiliyah. Namun Islam menolak anggapan tersebut.
Dalam hadis, Nabi Muhammad SAW menegaskan bahwa tidak ada kesialan dalam bulan tertentu. Safar menjadi pengingat bahwa takdir hanya berasal dari Allah.
Bulan ini dikenal sebagai waktu kelahiran Nabi Muhammad SAW. Banyak umat Islam memperingatinya melalui tradisi Maulid Nabi.
Dalam buku Sirah Nabawiyah karya Ibnu Hisyam, bulan ini juga mencatat berbagai peristiwa penting dalam kehidupan Rasulullah.
Disebut juga Rabiuts Tsani, bulan ini melanjutkan fase Rabiul Awal. Meski tidak memiliki peristiwa besar yang populer, bulan ini tetap menjadi bagian penting dalam kronologi sejarah Islam.
Nama “Jumada” merujuk pada kondisi beku atau kering, yang mencerminkan musim dingin di Jazirah Arab saat penamaan bulan ini.
Bulan ini sering menjadi referensi dalam catatan sejarah Islam klasik.
Kelanjutan dari Jumadil Awal, bulan ini juga dikenal sebagai Jumadal Tsaniyah. Ia memperkuat pemahaman bahwa penamaan bulan dalam Islam memiliki latar belakang geografis dan budaya.
Baca juga: Kalender Bulan Syawal 1447 H Lengkap dengan Penanggalan Masehi dan Kalender Jawa
Rajab termasuk bulan haram yang dimuliakan. Salah satu peristiwa penting yang sering dikaitkan dengannya adalah Isra Mi’raj, perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW.
Dalam Ihya Ulumuddin, Imam Al-Ghazali menyebut Rajab sebagai bulan untuk memperbanyak amal sebagai persiapan menuju Ramadan.
Bulan kedelapan ini menjadi pengantar menuju Ramadan. Rasulullah SAW dikenal memperbanyak puasa sunnah di bulan ini.
Malam Nisfu Sya’ban juga dianggap sebagai momen penting untuk memperbanyak doa dan introspeksi diri.
Ramadan adalah bulan paling mulia dalam Islam. Di bulan ini, umat Muslim diwajibkan berpuasa. Selain itu, terdapat Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan.
Dalam buku The Study Quran, Ramadan disebut sebagai periode transformasi spiritual yang paling intens dalam Islam.
Syawal menandai berakhirnya Ramadan dengan perayaan Idul Fitri. Umat Islam juga dianjurkan menjalankan puasa enam hari di bulan ini sebagai penyempurna pahala Ramadan.
Zulkaidah adalah salah satu bulan haram. Pada masa lalu, bulan ini digunakan untuk menghentikan peperangan dan mempersiapkan ibadah haji.
Peristiwa penting seperti Perjanjian Hudaibiyah juga terjadi pada bulan ini.
Bulan terakhir ini menjadi puncak ibadah haji. Pada tanggal 10 Zulhijah, umat Islam merayakan Idul Adha. Sepuluh hari pertama bulan ini juga dianggap sebagai hari-hari terbaik untuk beribadah.
Baca juga: Kalender Bulan Syawal 1447 H Lengkap dengan Penanggalan Masehi dan Kalender Jawa
Jika diperhatikan, setiap bulan dalam kalender Hijriah tidak hanya berfungsi sebagai penanda waktu, tetapi juga membentuk siklus spiritual umat Islam.
Dari Muharram yang penuh refleksi, Ramadan yang sarat ibadah, hingga Zulhijah yang menjadi puncak pengorbanan, seluruhnya membentuk ritme kehidupan yang terarah.
Dalam perspektif Islam, waktu bukan sekadar angka, tetapi amanah. Setiap bulan membawa pesan yang mengajak manusia untuk terus memperbaiki diri.
Memahami 12 bulan dalam kalender Islam bukan hanya menambah pengetahuan, tetapi juga memperdalam kesadaran spiritual.
Di tengah kehidupan modern yang sering kali melupakan makna waktu, kalender Hijriah hadir sebagai pengingat bahwa setiap detik memiliki nilai ibadah.
Dari awal hingga akhir tahun, dari Muharram hingga Zulhijah, umat Islam diajak untuk menjalani hidup dengan ritme yang tidak hanya teratur, tetapi juga penuh makna. Sebab pada akhirnya, waktu dalam Islam bukan sekadar berjalan, ia membimbing.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang