KOMPAS.com – Di tengah ancaman besar yang hampir meluluhlantakkan Madinah, lahir sebuah strategi yang tidak biasa dalam tradisi perang Arab.
Strategi itu bukan datang dari panglima perang Quraisy, bukan pula dari tokoh-tokoh senior Anshar atau Muhajirin. Ia justru muncul dari seorang sahabat yang berasal jauh dari tanah Arab, Salman Al-Farisi asal Persia yang kini menjadi Iran.
Peristiwa itu terjadi dalam Perang Khandaq pada tahun 5 Hijriah atau sekitar 627 Masehi. Di saat kaum Muslim berada dalam posisi terdesak, ide sederhana namun revolusioner dari Salman justru menjadi kunci penyelamat.
Perang Khandaq tidak lahir dari konflik biasa. Ia merupakan akumulasi dendam lama, terutama dari Bani Nadhir yang terusir dari Madinah.
Mereka kemudian bersekutu dengan Quraisy dan berbagai suku Arab lainnya untuk membentuk koalisi besar yang dikenal sebagai Ahzab.
Pasukan gabungan ini dipimpin oleh Abu Sufyan dan mencapai sekitar 10.000 orang—jumlah yang sangat besar pada masa itu. Sementara itu, kaum Muslim di Madinah hanya memiliki sekitar 3.000 pasukan.
Dalam buku Sejarah Kebudayaan Islam Madrasah Aliyah karya H. Abu Achmadi dan Sungarso, dijelaskan bahwa ketimpangan kekuatan ini membuat posisi kaum Muslim sangat rentan. Jika diserang secara terbuka, Madinah hampir pasti jatuh.
Baca juga: Kisah Haru Salman Al-Farisi, Pencari Kebenaran dari Persia
Menghadapi ancaman tersebut, Nabi Muhammad SAW tidak mengambil keputusan secara sepihak. Beliau mengajak para sahabat bermusyawarah untuk mencari solusi terbaik.
Dalam situasi genting itulah, Salman Al-Farisi mengajukan usulan yang belum pernah dikenal di Jazirah Arab: menggali parit besar mengelilingi kota Madinah.
Menurut Abul Syukur Al Azizi dalam Sejarah Terlengkap Peradaban Islam, ide ini berasal dari pengalaman Salman di Persia.
Di tanah kelahirannya, parit digunakan sebagai sistem pertahanan untuk menghadang pasukan berkuda dalam perang terbuka.
Bagi masyarakat Arab yang lebih akrab dengan taktik gerilya, serangan cepat, mundur, lalu menyerang kembali, gagasan ini terdengar asing. Namun, justru di situlah letak keunggulannya tak terduga.
Usulan Salman tidak berhenti sebagai wacana. Nabi Muhammad SAW langsung menerima ide tersebut dan mengorganisir pelaksanaannya.
Penggalian parit dilakukan secara gotong royong. Setiap sepuluh orang sahabat ditugaskan menggali sepanjang sekitar 40 meter.
Dalam waktu sekitar enam hingga sepuluh hari, terbentuklah parit sepanjang lebih dari lima kilometer yang melindungi sisi terbuka Madinah.
Dalam buku Ar-Raheeq Al-Makhtum karya Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri, digambarkan bagaimana Rasulullah sendiri ikut turun tangan menggali bersama para sahabat.
Mereka bekerja dalam kondisi lapar, dingin, dan penuh tekanan, namun tetap diliputi semangat kebersamaan.
Salman Al-Farisi tidak hanya memberikan ide, tetapi juga terlibat langsung dalam pelaksanaan. Ia membimbing, mengarahkan, dan memastikan strategi itu berjalan efektif.
Baca juga: Mengapa Ulama Hadis Terkemuka Banyak Lahir dari Persia? Ini Faktanya
Ketika pasukan Ahzab tiba di Madinah, mereka terkejut melihat parit yang menghalangi akses masuk. Taktik ini benar-benar di luar dugaan.
Pasukan berkuda Quraisy tidak dapat melompati parit tersebut. Mereka juga kesulitan mencari titik lemah untuk menyerang. Situasi ini membuat pengepungan berlangsung lama tanpa hasil signifikan.
Dalam The Sealed Nectar, disebutkan bahwa kondisi ini memicu kelelahan di pihak musuh. Cuaca dingin, logistik yang menipis, serta tekanan psikologis membuat moral pasukan Ahzab melemah.
Strategi parit yang sederhana justru berhasil mengimbangi bahkan melumpuhkan kekuatan besar yang jauh lebih unggul secara jumlah.
Meski parit menjadi benteng utama, ketegangan tetap terjadi. Salah satu momen paling dramatis adalah duel antara Ali bin Abi Thalib dan Amr bin Abdi Wudd.
Amr dikenal sebagai prajurit tangguh yang berhasil melompati parit. Ia menantang kaum Muslim untuk duel terbuka. Dalam situasi ini, Ali bin Abi Thalib maju menghadapi tantangan tersebut.
Awalnya, Nabi Muhammad SAW sempat menahan Ali karena khawatir kehilangan sosok penting setelah sebelumnya kehilangan Hamzah bin Abdul Muttalib dalam Perang Uhud. Namun, Ali tetap bersikeras.
Duel itu berakhir dengan kemenangan Ali. Kematian Amr menjadi pukulan besar bagi moral pasukan musuh dan memperkuat posisi kaum Muslim.
Baca juga: Berawal dari Surat Nabi, Ini Kisah Tragis Robeknya Kerajaan Persia
Hari-hari berlalu tanpa pertempuran besar. Pasukan Ahzab yang tidak mampu menembus pertahanan mulai menghadapi masalah internal.
Menurut berbagai riwayat, angin kencang dan cuaca dingin melanda perkemahan mereka. Tenda-tenda rusak, logistik terganggu, dan penyakit mulai menyebar.
Al-Qur’an sendiri menggambarkan situasi ini dalam Surah Al-Ahzab, ketika pasukan sekutu diuji dengan ketakutan dan kondisi yang tidak menentu.
Akhirnya, tanpa pertempuran besar, pasukan Ahzab memilih mundur. Madinah selamat—bukan karena kekuatan militer semata, tetapi karena strategi, kesabaran, dan keteguhan iman.
Perang Khandaq menjadi bukti bahwa keunggulan dalam konflik tidak selalu ditentukan oleh jumlah pasukan. Kreativitas dan pemikiran strategis dapat mengubah arah sejarah.
Salman Al-Farisi menunjukkan bahwa pengalaman lintas budaya dapat menjadi kekuatan. Ia membawa pengetahuan dari Persia dan mengadaptasikannya dalam konteks baru.
Dalam perspektif Islam, hal ini juga mencerminkan pentingnya hikmah (kebijaksanaan). Rasulullah SAW tidak menolak ide hanya karena berasal dari luar tradisi Arab. Sebaliknya, beliau membuka ruang bagi gagasan yang membawa kebaikan.
Kisah Salman Al-Farisi bukan hanya tentang perang, tetapi tentang keberanian berpikir berbeda. Ia mengajarkan bahwa solusi besar sering kali lahir dari perspektif yang tidak biasa.
Perang Khandaq juga menjadi titik balik dalam sejarah Islam. Setelah peristiwa ini, posisi kaum Muslim di Madinah semakin kuat, dan ancaman dari luar mulai melemah.
Lebih dari itu, strategi parit menjadi simbol bahwa pertahanan tidak selalu identik dengan kekerasan. Ia bisa dibangun dari kecerdasan, kerja sama, dan kepercayaan.
Dari parit yang digali di tanah Madinah, lahir pelajaran besar bagi peradaban: bahwa dalam situasi paling sulit sekalipun, jalan keluar selalu ada, bagi mereka yang mau berpikir, bersatu, dan berusaha.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang