KOMPAS.com - Di jantung dataran tinggi Iran kuno, sejarah dunia pernah berubah arah. Dari lanskap yang keras dan jauh dari pusat-pusat peradaban besar, lahir sebuah kekuatan yang bukan hanya memperluas wilayah, tetapi juga memperkenalkan cara baru mengelola keberagaman manusia.
Sosok di balik perubahan besar itu adalah Cyrus the Great, pendiri Kekaisaran Akhemeniyah yang kerap disebut sebagai negara adidaya pertama dalam sejarah dunia.
Saat naik takhta pada 559 sebelum Masehi, Cyrus bukanlah penguasa besar. Ia hanya memimpin kerajaan kecil Persia yang berada di bawah dominasi Kekaisaran Media.
Namun, dalam waktu singkat, ia mengubah posisi tersebut secara dramatis. Sejarawan Yunani Herodotus mencatat kisah masa kecil Cyrus yang penuh legenda, tentang ramalan yang membuat kakeknya, Astyages, berusaha membunuhnya.
Meski kisah ini bercampur mitos, para ahli seperti Amélie Kuhrt dalam The Persian Empire menegaskan bahwa kebangkitan Cyrus lebih ditentukan oleh kecermatan politik dan kemampuannya membaca situasi.
Pada 550 SM, ia menggulingkan Media dengan bantuan pembelotan jenderal Harpagus. Kejatuhan ibu kota Ecbatana menjadi awal dari lahirnya kekuatan baru yang segera melampaui semua pendahulunya.
Baca juga: Sejarah Iran: Dari Kejayaan Persia hingga Ditaklukkan Islam di Nahavand
Setelah menyatukan Persia dan Media, Cyrus bergerak cepat. Ia menaklukkan Lydia yang dipimpin oleh Croesus, kerajaan kaya yang terkenal dengan sistem mata uang logamnya.
Dalam pertempuran di Sardis, keputusan Cyrus untuk menyerang tanpa menunggu musim berikutnya menjadi langkah berani yang membuahkan kemenangan.
Menurut Marc Van De Mieroop dalam A History of the Ancient Near East, keunggulan Cyrus terletak pada fleksibilitas strategi dan keberanian mengambil risiko. Ia tidak hanya mengandalkan kekuatan militer, tetapi juga momentum politik.
Ekspansi terus berlanjut hingga Asia Tengah, mencakup wilayah seperti Samarkand, membuka jalur perdagangan penting yang menghubungkan berbagai peradaban besar.
Puncak ekspansi terjadi saat Cyrus menargetkan Babilonia pada 539 SM. Kota ini adalah simbol kejayaan dunia kuno. Namun, penaklukannya tidak berlangsung dengan kehancuran besar.
Cyrus memanfaatkan krisis internal Babilonia dan memposisikan dirinya sebagai pembebas. Narasi ini terekam dalam Silinder Cyrus, yang menggambarkannya sebagai pemimpin yang dipilih untuk memulihkan ketertiban.
Dalam From Cyrus to Alexander, Pierre Briant menyebut pendekatan ini sebagai strategi ideologis yang canggih. Cyrus tidak memaksakan dominasi, melainkan membangun legitimasi melalui penerimaan.
Baca juga: 195 Situs Bersejarah Iran Rusak Akibat Serangan, Warisan Dunia Ikut Terdampak
Di tengah luasnya wilayah Kekaisaran Akhemeniyah, kekuatan utamanya bukan hanya pada ekspansi, tetapi pada cara mengelola keberagaman.
Cyrus tidak memaksakan agama atau budaya Persia kepada rakyatnya. Penduduk lokal tetap bebas menjalankan tradisi dan keyakinan mereka.
Kebijakan ini menciptakan stabilitas sekaligus membentuk peradaban multikultural yang kuat. Bangsa Yahudi, misalnya, diizinkan kembali ke Yerusalem setelah sebelumnya diasingkan, sebuah langkah yang membuat Cyrus dikenang dalam berbagai tradisi keagamaan.
Dalam perspektif Islam, prinsip menghormati perbedaan bukanlah hal asing. Al-Qur’an menegaskan,“Tidak ada paksaan dalam agama” (QS. Al-Baqarah: 256).
Ayat ini menjadi dasar penting bahwa keyakinan tidak dapat dipaksakan, melainkan harus lahir dari kesadaran.
Nilai tersebut menemukan resonansinya dalam kebijakan Cyrus. Meski hidup jauh sebelum Islam, pendekatan yang ia terapkan menunjukkan kesamaan dengan prinsip universal yang kemudian ditegaskan dalam ajaran Islam, bahwa keberagaman adalah realitas yang harus dihormati.
Sejarawan seperti Pierre Briant menegaskan bahwa stabilitas Persia dibangun bukan melalui penyeragaman, tetapi melalui pengakuan terhadap identitas lokal. Dalam konteks ini, toleransi bukan sekadar strategi politik, melainkan fondasi etika peradaban.
Mengelola wilayah yang membentang dari Eropa Timur hingga Sungai Indus membutuhkan sistem yang terorganisir. Cyrus membagi kekaisaran menjadi provinsi yang dipimpin oleh satrap.
Sistem ini memungkinkan kontrol pusat tetap kuat tanpa menghapus otonomi lokal. Selain itu, pembangunan jaringan jalan seperti Royal Road mempercepat komunikasi dan memperkuat integrasi wilayah.
Dalam Empires of the Ancient World, Susan Wise Bauer menyebut sistem ini sebagai cikal bakal birokrasi modern. Persia menunjukkan bahwa kekuasaan besar dapat dikelola melalui struktur yang efisien, bukan semata kekuatan militer.
Baca juga: Kisah Haru Salman Al-Farisi, Pencari Kebenaran dari Persia
Keberhasilan Persia terletak pada kemampuannya menyatukan berbagai peradaban. Dari Mesopotamia hingga Asia Tengah, semua berada dalam satu sistem politik yang relatif stabil.
Sejarawan Yunani Xenophon dalam Cyropaedia menggambarkan Cyrus sebagai pemimpin ideal, bukan hanya kuat, tetapi juga bijaksana.
Pendekatan ini membentuk identitas unik Kekaisaran Akhemeniyah: sebuah kekaisaran yang menjadikan keberagaman sebagai kekuatan, bukan kelemahan.
Setelah menaklukkan Babilonia, Cyrus dikenal sebagai “Raja Dunia.” Namun, warisannya melampaui gelar tersebut. Ia memperkenalkan model pemerintahan yang berbasis toleransi, keadilan, dan integrasi budaya.
Konsep ini memengaruhi peradaban-peradaban besar setelahnya, bahkan hingga sistem negara modern.
Persia di bawah Cyrus menjadi salah satu fondasi awal dunia yang terhubung.
Dalam perspektif yang lebih luas, kisah ini menunjukkan bahwa kekuasaan tidak selalu harus dibangun di atas penindasan.
Justru melalui penghormatan terhadap perbedaan, sebuah peradaban dapat mencapai kejayaan yang lebih bertahan lama.
Dari Iran kuno, lahir sebuah pelajaran penting, bahwa keberagaman bukan ancaman, melainkan kekuatan.
Dan dalam banyak hal, dunia modern masih berjalan di jejak yang pernah dibentuk oleh Cyrus berabad-abad silam.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang