Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Berawal dari Surat Nabi, Ini Kisah Tragis 'Robeknya' Kerajaan Persia

Kompas.com, 11 April 2026, 16:00 WIB
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Sejarah mencatat satu peristiwa yang tidak hanya menggambarkan penolakan terhadap dakwah Islam, tetapi juga menjadi titik awal runtuhnya salah satu kekaisaran terbesar dunia, Persia.

Kisah ini bermula dari selembar surat Nabi Muhammad SAW yang dirobek oleh Raja Kisra, dan berakhir dengan kehancuran kekuasaan yang telah berdiri berabad-abad lamanya.

Peristiwa tersebut bukan sekadar konflik politik atau diplomasi, melainkan pelajaran mendalam tentang kesombongan, kebenaran, dan bagaimana sejarah bergerak di luar dugaan manusia.

Dakwah Global Pasca Hudaibiyah

Setelah Perjanjian Hudaibiyah pada tahun ke-6 Hijriah, Rasulullah SAW memasuki fase baru dalam dakwahnya. Jika sebelumnya fokus pada Jazirah Arab, kini Islam mulai diperkenalkan ke panggung dunia.

Dalam kitab Ar-Raheeq Al-Makhtum karya Safiur Rahman Al-Mubarakfuri dijelaskan bahwa Nabi mengirim surat kepada para penguasa besar, termasuk Romawi, Mesir, dan Persia.

Strategi ini bukan sekadar politik, melainkan bentuk dakwah universal: Islam untuk seluruh umat manusia.

Untuk Persia, Nabi memilih Abdullah bin Hudzafah as-Sahmi sebagai utusan. Ia dikenal cerdas, berani, dan mampu menjalankan misi diplomasi dengan baik.

Baca juga: Kisah Urwah bin Udzainah: Saat Tawakal, Ternyata Rezeki Datang Tanpa Diduga

Surat yang Mengguncang Istana Persia

Setibanya di hadapan Raja Kisra, Abdullah bin Hudzafah menyerahkan surat Nabi. Isi surat tersebut sederhana namun tegas, ajakan untuk beriman kepada Allah, mengikuti Rasul-Nya, dan menerima Islam sebagai jalan keselamatan.

Dalam buku Sejarah Kebudayaan Islam di Asia Barat karya Maidir Harun, disebutkan bahwa struktur surat Nabi selalu diawali dengan basmalah, dilanjutkan identitas pengirim, lalu ajakan kepada tauhid. Namun yang terjadi justru di luar harapan.

Kisra tidak fokus pada isi pesan. Ia tersinggung karena nama Nabi Muhammad disebut lebih dahulu daripada namanya. Bagi seorang raja besar dengan kekuasaan luas, hal itu dianggap merendahkan martabatnya.

Tanpa mempertimbangkan substansi, Kisra merobek surat tersebut.

Tindakan ini bukan hanya simbol penolakan, tetapi juga gambaran kesombongan kekuasaan yang menutup diri dari kebenaran.

Doa Nabi dan Awal Kejatuhan

Kabar perobekan surat itu sampai kepada Rasulullah SAW. Namun alih-alih membalas dengan kemarahan atau kekerasan, beliau merespons dengan doa singkat namun penuh makna:

“Semoga Allah mengoyak-oyakan kerajaannya.”

Dalam literatur sirah seperti Sirah Nabawiyah karya Ibnu Hisyam dan riwayat dalam Thabaqat Ibnu Sa’ad, doa ini kemudian menjadi kenyataan sejarah.

Tidak lama setelah itu, Kisra dibunuh oleh putranya sendiri, Syirawaih (Kavad II), dalam sebuah kudeta internal. Peristiwa ini menjadi awal dari keruntuhan Dinasti Sasaniyah.

Baca juga: Kisah Pembebasan Al-Aqsa oleh Shalahuddin: Strategi 12 Hari

Nubuat yang Terbukti

Menariknya, sebelum kabar kematian Kisra sampai ke Madinah, Rasulullah SAW sudah lebih dahulu mengabarkannya kepada utusan dari Yaman.

Dalam riwayat Tarikh Ath-Thabari, Nabi berkata bahwa Allah telah membunuh Kisra pada malam tertentu. Ketika berita itu dikonfirmasi, waktunya sesuai dengan yang disampaikan Nabi.

Peristiwa ini membuat Gubernur Persia di Yaman, Badzan, yakin akan kebenaran kenabian Muhammad SAW. Ia pun memeluk Islam bersama rakyatnya.

Dakwah yang ditolak di pusat kekuasaan justru diterima di wilayah pinggiran, sebuah ironi sejarah yang sarat makna.

Keruntuhan Bertahap Kekaisaran Persia

Kematian Kisra bukan akhir, melainkan awal dari kehancuran yang lebih besar.

Dalam buku Mausu’ah At-Tarikh Al-Islami karya Ahmad Syalabi dijelaskan bahwa setelah wafatnya Kisra, kekuasaan Persia mengalami instabilitas ekstrem. Dalam waktu singkat, tahta berpindah tangan berkali-kali.

Kemudian, pada masa Khulafaur Rasyidin, pasukan Islam mulai menghadapi Persia dalam serangkaian pertempuran besar:

  • Perang Qadisiyah (16 H) di bawah Sa’ad bin Abi Waqash, yang menewaskan panglima Rustum
  • Penaklukan Mada’in, ibu kota Persia
  • Perang Nahawand (19 H) yang disebut sebagai “kemenangan besar” atas Persia

Dalam Tarikh Ath-Thabari dan Futuh al-Buldan karya Al-Baladzuri, peristiwa-peristiwa ini digambarkan sebagai titik akhir dominasi Persia.

Akhirnya, pada masa Yazdegerd III, kekaisaran yang telah berdiri lebih dari 400 tahun itu runtuh sepenuhnya.

Baca juga: Kisah Ummu Mahjan, Marbot Wanita di Masjid Nabawi yang Dimuliakan Rasulullah SAW

Pelajaran dari Kisah Kisra

Kisah ini menyimpan pelajaran yang tetap relevan hingga kini.

Pertama, kebenaran tidak selalu diterima oleh mereka yang berkuasa. Justru, sering kali kesombongan menjadi penghalang utama.

Kedua, dakwah Islam dilakukan dengan cara damai, melalui dialog, tulisan, dan ajakan yang santun. Penolakan tidak dibalas dengan kekerasan, melainkan diserahkan kepada Allah.

Ketiga, kekuasaan dunia bersifat sementara. Dalam buku Sirah Nabawiyyah karya Abul Hasan Ali An-Nadwi dijelaskan bahwa kejayaan suatu peradaban sangat bergantung pada moral dan kerendahan hati pemimpinnya.

Lebih dari Sekadar Sejarah

Kisah robeknya surat Nabi oleh Kisra bukan hanya catatan masa lalu. Ia adalah refleksi tentang bagaimana manusia merespons kebenaran.

Ada yang menerima dengan lapang dada, ada pula yang menolak karena ego.

Namun pada akhirnya, sejarah menunjukkan bahwa kebenaran tidak pernah benar-benar hilang. Ia mungkin ditolak, bahkan dirobek, tetapi tetap hidup dan menemukan jalannya.

Sementara kekuasaan yang dibangun di atas kesombongan, sekuat apa pun, pada akhirnya akan runtuh oleh waktu.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Kemenag Susun Materi Pendidikan Cegah Budaya LGBT Sesuai Perpres 111/2025
Kemenag Susun Materi Pendidikan Cegah Budaya LGBT Sesuai Perpres 111/2025
Aktual
Kemenkeu Setujui Tambahan Anggaran Tunjangan Guru-Dosen Kemenag Rp 5,7 T
Kemenkeu Setujui Tambahan Anggaran Tunjangan Guru-Dosen Kemenag Rp 5,7 T
Aktual
MUI Tolak Sertifikasi Halal Croissant Pattaya: Visual Vulgar Jadi Alasan
MUI Tolak Sertifikasi Halal Croissant Pattaya: Visual Vulgar Jadi Alasan
Aktual
MUI Ternyata Sudah Keluarkan Fatwa Hukuman Mati Koruptor Sejak 2005
MUI Ternyata Sudah Keluarkan Fatwa Hukuman Mati Koruptor Sejak 2005
Aktual
Museum Al-Qur'an di Makkah Ungkap Media Penulisan Wahyu pada Zaman Nabi Muhammad
Museum Al-Qur'an di Makkah Ungkap Media Penulisan Wahyu pada Zaman Nabi Muhammad
Aktual
Ketum Muhammadiyah Sebut Korupsi di Indonesia Sudah Gawat Darurat
Ketum Muhammadiyah Sebut Korupsi di Indonesia Sudah Gawat Darurat
Aktual
Keteladanan Syekh Izzuddin, Ulama yang Melawan Nepotisme dan Berani Kritik Penguasa
Keteladanan Syekh Izzuddin, Ulama yang Melawan Nepotisme dan Berani Kritik Penguasa
Aktual
Menag ke 119 Guru Besar Baru: Jangan Berhenti pada Gelar, Hadirkan Dampak bagi Bangsa
Menag ke 119 Guru Besar Baru: Jangan Berhenti pada Gelar, Hadirkan Dampak bagi Bangsa
Aktual
PFI Dukung Zakat Jadi Pengurang Pajak Langsung, Dinilai Bisa Dongkrak Kepatuhan dan Kurangi Kemiskinan
PFI Dukung Zakat Jadi Pengurang Pajak Langsung, Dinilai Bisa Dongkrak Kepatuhan dan Kurangi Kemiskinan
Aktual
GP Ansor Apresiasi Kunjungan Kapolri ke Mabes TNI dan Kejaksaan Agung
GP Ansor Apresiasi Kunjungan Kapolri ke Mabes TNI dan Kejaksaan Agung
Aktual
5 Hadits tentang Larangan LGBT dalam Islam, Lengkap dengan Penjelasan Ulama
5 Hadits tentang Larangan LGBT dalam Islam, Lengkap dengan Penjelasan Ulama
Aktual
Jelang Muktamar NU 2026, Gus Salam Safari ke 22 Wilayah untuk Serap Aspirasi
Jelang Muktamar NU 2026, Gus Salam Safari ke 22 Wilayah untuk Serap Aspirasi
Aktual
Surah Tiga Qul Lengkap (Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas) Keutamaan dan Waktu Terbaik Membacanya
Surah Tiga Qul Lengkap (Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas) Keutamaan dan Waktu Terbaik Membacanya
Doa dan Niat
6 Ayat Al-Quran tentang Larangan LGBT, Lengkap dengan Penjelasan Ulama Tafsir
6 Ayat Al-Quran tentang Larangan LGBT, Lengkap dengan Penjelasan Ulama Tafsir
Aktual
Rashdul Qiblat 15-16 Juli 2026, Ini Waktu dan Cara Cek Arah Kiblat Secara Akurat
Rashdul Qiblat 15-16 Juli 2026, Ini Waktu dan Cara Cek Arah Kiblat Secara Akurat
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar