KOMPAS.com – Di antara rangkaian dakwah global yang dilakukan Nabi Muhammad, terdapat satu kisah yang kerap menarik perhatian, surat yang dikirim kepada Raja Persia, Kisra, yang justru berakhir dengan kemarahan dan penolakan.
Peristiwa ini bukan sekadar catatan sejarah, melainkan gambaran tentang bagaimana Islam disampaikan dengan cara damai, sekaligus menunjukkan konsekuensi dari sikap sombong terhadap kebenaran.
Lantas, bagaimana kisah lengkapnya? Dan apa sebenarnya isi surat Nabi yang dirobek oleh Raja Persia tersebut?
Setelah Perjanjian Hudaibiyah, Rasulullah SAW mulai memperluas dakwah Islam ke luar Jazirah Arab.
Salah satu langkah strategisnya adalah mengirim surat kepada para penguasa besar dunia saat itu.
Dalam kitab Ar-Raheeq Al-Makhtum karya Safiur Rahman Mubarakpuri, dijelaskan bahwa Nabi mengutus beberapa sahabat untuk menyampaikan surat dakwah, termasuk ke Romawi, Mesir, dan Persia.
Untuk wilayah Persia, Rasulullah menunjuk Abdullah bin Hudzafah as-Sahmi sebagai utusan. Ia membawa surat resmi kepada Kisra, penguasa Kekaisaran Persia yang saat itu berada di puncak kejayaannya.
Baca juga: Kisah Urwah bin Udzainah: Saat Tawakal, Ternyata Rezeki Datang Tanpa Diduga
Ketika surat tersebut sampai di tangan Kisra, respons yang muncul justru di luar dugaan. Alih-alih mempertimbangkan isi pesan, ia tersinggung oleh cara penyebutan nama dalam surat itu.
Menurut riwayat dalam literatur sirah, Kisra marah karena nama Nabi Muhammad disebut lebih dahulu sebelum namanya.
Ia merasa hal itu merendahkan kedudukannya sebagai raja besar. Dalam kemarahannya, Kisra merobek surat tersebut.
Sikap ini mencerminkan kesombongan kekuasaan yang menolak kebenaran hanya karena faktor ego dan status.
Meski surat itu dirobek, isi pesannya tetap tercatat dalam berbagai sumber sejarah Islam. Dalam buku Sejarah Kebudayaan Islam di Asia Barat karya Maidir Harun, disebutkan bahwa surat tersebut berbunyi:
Bismillahirrahmanirrahim
Dari Muhammad, utusan Allah, kepada Kisra, pembesar Persia.
Salam sejahtera bagi siapa yang mengikuti petunjuk, beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, serta bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.
Aku menyerumu dengan seruan Allah. Sesungguhnya aku adalah utusan Allah untuk seluruh umat manusia, untuk memberi peringatan kepada yang hidup dan agar ketetapan berlaku bagi orang-orang kafir.
Masuklah ke dalam Islam, niscaya engkau akan selamat. Jika engkau menolak, maka dosa orang-orang Majusi akan menjadi tanggung jawabmu.
Isi surat ini menunjukkan pendekatan dakwah yang tegas namun tetap santun, mengajak, memberi pilihan, dan menjelaskan konsekuensi tanpa paksaan.
Baca juga: Kisah Pembebasan Al-Aqsa oleh Shalahuddin: Strategi 12 Hari
Ketika kabar perobekan surat itu sampai kepada Rasulullah, ia tidak membalas dengan amarah atau kekerasan. Namun, Rasulullah berdoa:
“Semoga Allah mengoyak-oyakan kerajaannya.”
Doa ini kemudian menjadi kenyataan. Dalam waktu yang tidak lama, Kisra dibunuh oleh putranya sendiri, Syirawaih.
Peristiwa ini menjadi titik awal runtuhnya kekuasaan Persia yang sebelumnya sangat kuat.
Dalam banyak kajian sejarah Islam, peristiwa ini dipandang sebagai bukti bahwa kekuasaan yang dibangun di atas kesombongan tidak akan bertahan lama.
Menariknya, perkembangan selanjutnya justru menunjukkan hasil positif dari dakwah tersebut.
Gubernur Persia di Yaman, Badzan, yang sebelumnya berada di bawah kekuasaan Kisra, akhirnya memeluk Islam setelah menyaksikan kebenaran nubuat Rasulullah.
Hal ini menunjukkan bahwa meski ditolak oleh penguasa pusat, pesan kebenaran tetap menemukan jalannya kepada hati yang terbuka.
Baca juga: Kisah Ummu Mahjan, Marbot Wanita di Masjid Nabawi yang Dimuliakan Rasulullah SAW
Kisah ini menyimpan banyak pelajaran penting.
Pertama, dakwah Islam dilakukan dengan cara damai dan penuh hikmah, bahkan kepada penguasa besar sekalipun.
Kedua, kesombongan menjadi penghalang utama seseorang menerima kebenaran, sebagaimana yang ditunjukkan oleh Kisra.
Ketiga, kekuasaan dunia tidak menjamin keselamatan jika tidak disertai kerendahan hati dan keimanan.
Dalam buku Sirah Nabawiyah karya Ibnu Hisyam, dijelaskan bahwa sikap para raja terhadap surat Nabi menjadi cerminan bagaimana hati manusia merespons kebenaran, ada yang menerima, ada pula yang menolak dengan keras.
Di tengah dunia modern, kisah ini tetap relevan. Ia mengajarkan bahwa kebenaran tidak selalu diterima dengan mudah, terutama oleh mereka yang merasa memiliki kekuasaan dan keunggulan.
Namun pada akhirnya, sejarah menunjukkan bahwa yang bertahan bukanlah kekuasaan, melainkan kebenaran itu sendiri.
Surat yang dirobek itu mungkin hilang secara fisik, tetapi pesannya tetap hidup hingga hari ini menjadi bagian dari jejak dakwah yang mengubah peradaban.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang