KOMPAS.com – Dalam percakapan sehari-hari hingga kolom komentar media sosial, ungkapan “Masyaallah Tabarakallah” kerap muncul sebagai respons spontan ketika melihat sesuatu yang indah, mengagumkan atau membanggakan.
Namun, di balik popularitasnya, masih banyak yang belum memahami penulisan Arab yang tepat, makna yang terkandung di dalamnya, hingga bagaimana adab menjawabnya sesuai tuntunan Islam.
Padahal, kalimat ini bukan sekadar ekspresi kagum, melainkan bagian dari dzikir yang sarat nilai tauhid dan doa.
Lantas, bagaimana penulisan yang benar dan apa makna mendalam di baliknya?
Secara bahasa, ungkapan ini terdiri dari dua kalimat thayyibah yang sering digabungkan:
مَا شَاءَ ٱللَّهُ
Masyaa Allah
Arti: “Apa yang dikehendaki Allah, maka itulah yang terjadi.”
Kalimat ini menegaskan bahwa segala sesuatu yang terjadi, termasuk keindahan dan keberhasilan, adalah semata-mata karena kehendak Allah SWT.
تَبَارَكَ ٱللَّهُ
Tabarakallah
Arti: “Maha Suci Allah” atau “Semoga Allah memberkahi.”
Kalimat ini mengandung pujian sekaligus doa agar keberkahan senantiasa menyertai sesuatu yang dilihat.
مَا شَاءَ ٱللَّهُ تَبَارَكَ ٱللَّهُ
Masyaa Allah Tabarakallah
Arti: “Apa yang Allah kehendaki, itulah yang terjadi. Maha Berkah Allah.”
Gabungan ini mencerminkan pengakuan atas kuasa Allah sekaligus doa keberkahan bagi objek yang dipuji.
Baca juga: Arti Syafakillah, Syafakallah, Syafakumullah: Makna, Tulisan Arab, dan Cara Pakainya
Penggunaan kalimat ini memiliki landasan kuat dalam Al-Qur’an.
وَلَوْلَآ إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَآءَ ٱللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِٱللَّهِ
Artinya: “Dan mengapa kamu tidak mengatakan ketika kamu memasuki kebunmu: Masyaallah, laa quwwata illa بالله…”
Ayat ini menegaskan pentingnya mengaitkan kekaguman dengan kehendak Allah.
تَبَارَكَ ٱلَّذِى بِيَدِهِ ٱلْمُلْكُ
Artinya: “Maha Suci Allah yang di tangan-Nya segala kerajaan…”
Kata tabaraka menunjukkan keagungan dan keberkahan Allah sebagai sumber segala kebaikan.
Dalam kajian akhlak Islam, ungkapan ini tidak sekadar pujian, tetapi memiliki tiga dimensi utama:
Mengucapkan Masyaallah berarti mengakui bahwa segala hal terjadi atas kehendak Allah, bukan semata hasil usaha manusia.
Kata Tabarakallah menjadi doa agar apa yang dilihat tidak hanya indah, tetapi juga membawa kebaikan berkelanjutan.
Dalam beberapa riwayat, ulama menjelaskan bahwa menyebut nama Allah saat kagum dapat melindungi dari penyakit ‘ain (pandangan yang membawa dampak buruk).
Dalam buku Assalamu’alaikum: Tebarkan Salam Damaikan Alam karya Mahmud asy-Syafrowi, dijelaskan bahwa dzikir spontan seperti ini merupakan bentuk penjagaan spiritual dalam interaksi sosial.
Baca juga: Tulisan Man Jadda Wajada yang Benar Beserta Artinya
Penggunaan kalimat ini dianjurkan dalam berbagai situasi, seperti:
Dalam perspektif adab Islam, ini menjadi cara menjaga hati agar tidak terjerumus pada iri atau kekaguman berlebihan tanpa mengingat Allah.
Ketika seseorang mengucapkan kalimat ini kepada kita, dianjurkan untuk membalas dengan doa yang baik.
جَزَاكَ ٱللَّهُ خَيْرًا
Jazakallah khairan
Arti: “Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan.”
(Untuk perempuan: Jazakillah khairan)
بَارَكَ ٱللَّهُ فِيكَ
Barakallahu fiik
Arti: “Semoga Allah memberkahimu.”
Ini merupakan jawaban yang paling relevan karena saling mendoakan keberkahan.
وَفِيكَ بَارَكَ ٱللَّهُ
Arti: “Dan semoga Allah juga memberkahimu.”
Jawaban ini menunjukkan timbal balik doa yang indah dalam Islam.
Baca juga: Insya Allah atau Insha Allah, Mana Tulisan yang Benar?
Meski populer, masih ada beberapa kekeliruan umum, seperti:
Dalam kitab Riyadhus Shalihin karya Imam an-Nawawi, ditegaskan bahwa dzikir yang diucapkan dengan pemahaman akan menghadirkan nilai ibadah yang lebih sempurna.
Di tengah budaya digital yang serba cepat, Masyaallah Tabarakallah sering kali menjadi komentar singkat.
Namun jika dihayati, ia adalah bentuk dzikir yang menghubungkan manusia dengan Tuhannya, sekaligus menjaga hubungan sosial tetap hangat dan penuh doa.
Sebuah kalimat sederhana, tetapi mampu mengubah cara pandang dari sekadar kagum menjadi bentuk ibadah, dari pujian menjadi doa, dan dari kebiasaan menjadi kesadaran spiritual.
Pada akhirnya, bukan hanya apa yang diucapkan, tetapi bagaimana hati memaknainya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang