Penulis
KOMPAS.com- Beberapa kosakata dalam Bahasa Arab seperti Syafakillah, Syafakallah, dan Syafakumullah saat ini sudah lazim digunakan dalam percakapan sehari-hari maupun digunakan dalam unggahan media sosial.
Kata Syafakillah, Syafakallah, dan Syafakumullah kerap digunakan ketika menjenguk atau memberi ucapan kepada orang yang sakit.
Lantas apa arti dan makna kata tersebut serta untuk apa penggunaannya? Simak penjelasannya di bawah ini.
Baca juga: Doa Sapu Jagat: Bacaan Arab, Latin, Arti, Serta Waktu Terbaik Melafalkannya
Syafakillah ( شفاك الله ) artinya semoga Allah memberikan kesembuhan kepadamu (perempuan).
Ucapan ini digunakan untuk mendoakan kesembuhan bagi orang lain yang subjeknya perempuan, tunggal, dan diucapkan secara langsung kepada orang yang bersangkutan.
Syafakallah ( شفاك الله ) juga memiliki arti semoga Allah memberikan kesembuhan kepadamu (laki-laki).
Ucapan ini digunakan untuk mendoakan kesembuhan bagi orang lain yang subjeknya laki-laki, tunggal, dan diucapkan secara langsung kepada orang yang bersangkutan.
Baca juga: Bacaan Doa 4 Bulan Kehamilan Lengkap dengan Artinya
Syafakumullah ( شفاكم الله ) artinya semoga Allah memberikan kesembuhan kepada kalian semua.
Ucapan ini digunakan untuk mendoakan kesembuhan orang lain yang subjeknya jamak atau lebih dari satu dan diucapkan secara langsung kepada orang yang bersangkutan.
Perbedaan Syafakillah, Syafakallah, dan Syafakumullah
Istilah Syafakillah, Syafakallah, dan Syafakumullah sering diucapkan saat menjenguk atau mendoakan orang sakit.
Ketiganya merupakan doa dalam bahasa Arab yang bermakna memohon kesembuhan kepada Allah SWT, namun penggunaannya berbeda tergantung kepada siapa doa tersebut ditujukan.
Selain itu, pelafalan dan penulisan dalam bahasa Arab juga berbeda.
1. Syafakillah
Tulisan Arab: شفاكِ الله
Arab Latin: Syafākillāh
2. Syafakallah
Tulisan Arab: شفاكَ الله
Arab Latin: Syafākallāh
3. Syafakumullah (Untuk Jamak/Lebih dari Satu Orang)
Tulisan Arab: شفاكمُ الله
Arab Latin: Syafākumullāh
Penggunaan ucapan untuk orang ketiga dan orang ketiga jamak juga berbeda.
Pertama adalah Syafahullah ( شفاه الله ) yang artinya Semoga Allah memberikan kesembuhan kepadanya (laki-laki).
Ucapan ini digunakan untuk mendoakan kesembuhan orang lain yang subjeknya laki-laki dan tidak berada diantara orang yang sedang berkomunikasi.
Kemudian Syafahallah ( شفاه الله ) yang artinya Semoga Allah memberikan kesembuhan kepadanya (perempuan).
Ucapan ini juga digunakan untuk mendoakan kesembuhan orang lain yang subjeknya perempuan dan tidak berada diantara orang yang sedang berkomunikasi.
Jika ditujukan untuk orang banyak (jamak), bisa menggunakan Syafahumullah ( شفاهم الله )
yang artinya semoga Allah memberikan kesembuhan kepada mereka (laki-laki).
Ucapan ini digunakan untuk mendoakan kesembuhan orang lain yang subjeknya laki-laki, jamak dan tidak berada diantara orang yang berkomunikasi.
Bisa juga menggunakan Syafahunnallah ( شفاهن الله ) yang artinya semoga Allah memberikan kesembuhan kepada mereka (perempuan).
Ucapan ini digunakan untuk mendoakan kesembuhan orang lain yang subjeknya perempuan, jamak dan tidak berada diantara orang yang berkomunikasi.
Berikut beberapa contoh penggunaan Syafakillah dalam percakapan sehari-hari:
“Syafakillah Bu, semoga Allah angkat penyakitnya dan diberi kesehatan kembali.”
“Syafakillah Kak, semoga lekas sembuh dan selalu dalam lindungan Allah.”
“Syafakillah, Ukhti. Semoga Allah memberikan kesembuhan yang sempurna tanpa meninggalkan rasa sakit sedikit pun.”
Ucapan Syafakillah dianjurkan disampaikan ketika mengetahui seorang perempuan sedang sakit, baik dalam kondisi ringan maupun berat.
Selain itu, ungkapan ini bisa diucapkan ketika datang menjenguk teman, keluarga, atau kerabat setelah memberi salam atau saat berbincang untuk memberikan semangat.
Ucapan ini juga bisa disampaikan kepada seseorang baru saja sakit atau masih dalam masa pemulihan.
Tidak hanya itu, ucapan ini juga bisa disampaikan melalui pesan singkat, WhatsApp, atau media sosial sebagai bentuk dukungan moral.
Menjenguk orang sakit termasuk sunnah yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW sebagai bentuk kepedulian dan solidaritas antarsesama Muslim.
Amalan ini bukan sekadar tradisi sosial, tetapi juga bagian dari ajaran Islam yang memiliki nilai ibadah dan ganjaran pahala.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Barāʾ, Rasulullah SAW menyebutkan tujuh perkara yang diperintahkan kepada umatnya, dan salah satunya adalah menjenguk orang sakit.
عَنِ الْبَرَاءِ ، قَالَ : ” أَمَرَنَا النَّبِيُّ بِسَبْعِ، وَنَهَانَا عَنْ سَبْعِ: أَمَرَنَا بِعِيَادَةِ الْمَرِيضِ، وَاتَّبَاعِ الْجِنَازَةِ، وَتَثْمِيتِ الْعَاطِسِ، وَإِجَابَةِ الدَّاعِي، وَرَدِّ السَّلَامِ، وَنَصْرِ الْمَظْلُومِ، وَإِبْرَارِ الْمُقْسِمِ.
Al-Barāʾ meriwayatkan: “Nabi SAW memerintahkan kami untuk melakukan tujuh hal dan melarang kami dari tujuh hal lainnya: Beliau memerintahkan kami untuk menjenguk orang sakit, mengiringi jenazah, mendoakan orang yang bersin dengan ucapan ‘yarḥamuka Allāh’, memenuhi undangan, menjawab salam, menolong orang yang dizalimi, dan memenuhi permintaan orang yang bersumpah.” (Ṣaḥīḥ al-Bukhārī no. 6294 dan Ṣaḥīḥ Muslim no. 5510).
Hadits tersebut menegaskan bahwa menjenguk orang sakit memiliki kedudukan penting dalam kehidupan sosial umat Islam.
Selain menjadi wujud empati dan dukungan moral, amalan ini juga termasuk ibadah yang bernilai pahala besar di sisi Allah SWT.
Dalam ajaran Islam, terdapat penekanan kuat tentang pentingnya saling peduli, mendukung, dan memperhatikan kondisi sesama.
Anjuran menjenguk orang sakit tidak terbatas pada saudara seiman saja, melainkan berlaku secara umum sebagai bentuk kepedulian dan kasih sayang antarmanusia.
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah RA, dijelaskan bahwa ketika Rasulullah SAW menjenguk orang sakit, beliau membacakan doa berikut:
اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ أَذْهِبِ الْبَأْسَ وَاشْفِهِ وَأَنْتَ الشَّافِي لاَ شِفَاءَ إِلاَّ شِفَاؤُكَ شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا
Artinya: “Hilangkanlah kesukaran atau penyakit itu, wahai Tuhan manusia. Sembuhkanlah, Engkaulah Yang Maha Menyembuhkan. Tak ada kesembuhan, kecuali kesembuhan-Mu. Kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit lain.” (Ṣaḥīḥ al-Bukhārī 5737 dan Ṣaḥīḥ Muslim 5838).
Menjenguk orang sakit bukan sekadar kunjungan formal, tetapi juga sarana memberikan dukungan moral, menyampaikan doa kesembuhan, serta mengingatkan bahwa setiap ujian berada dalam rahmat dan kasih sayang Allah SWT.
Amalan ini turut mempererat tali persaudaraan, khususnya di kalangan umat Islam, sekaligus menumbuhkan empati, kepedulian, dan rasa kebersamaan dalam kehidupan sosial.
Selain doa singkat di atas, berikut ini adalah doa yang diajarkan Nabi Muhammad SAW ketika menjenguk orang sakit.
اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ أذْهِبِ البَأْسَ،وَ اشْفِهِ أَنْتَ الشَّافِي، لا شِفَاءَ إلَّا شِفَاؤُكَ، شِفَاءً لا يُغَادِرُ سَقَمًا
Arab Latin: Allahumma Rabbannasi adzhibil ba’sa wasyfi anta asy Syaafii laa syifaa’a illa Syifaa’uk, syifaa’an laa yughaadiru saqama.
Artinya: Ya Allah, Rabb manusia, hilangkanlah sakit ini, karena sesungguhnya Engkaulah Zat Yang Maha Menyembuhkan. Tidak ada kesembuhan, kecuali kesembuhan dari-Mu. Kesembuhan yang tidak akan meninggalkan penyakit setelahnya.
Syafakillah adalah doa yang diucapkan untuk perempuan yang sedang sakit. Ucapan ini berarti “Semoga Allah menyembuhkanmu.”
Kata ini digunakan ketika mendoakan satu orang perempuan, baik secara langsung maupun melalui pesan tertulis.
Ucapan Syafakillah dapat dibalas dengan beberapa cara, antara lain:
جزاكَ اللهُ خيرًا
Arab latin: Jazākallāhu khairan
Artinya: “Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan.”
آمين، بارك الله فيكِ
Arab latin: Āmīn, bārakallāhu fīki
Artinya: “Aamiin, semoga Allah memberkahimu.”
Selain itu, bisa juga menjawab dengan doa serupa dengan memohon kesehatan kepada Allah untuk lawan bicara.
Ucapan Syafakillah bisa disampaikan kepada sahabat non-muslim sebagai salah satu cara untuk menjaga hubungan sosial dan spiritual di antara sesama.
Dalam hal ini, Islam mengajarkan bahwa hubungan antar manusia harus dibangun di atas dasar kepedulian, empati, dan kasih sayang, dan salah satu caranya adalah melalui kunjungan kepada orang yang sedang sakit.
Ucapan Syafakillah bisa diucapkan dengan bahasa Arab maupun digabungkan dengan bahasa lain seperti bahasa Indonesia dan Inggris.
Hal ini tidak mengurangi tujuan atau niat tulus dalam mendoakan kesembuhan adalah yang paling utama, baik diucapkan dalam bahasa Arab maupun bahasa sehari-hari.
Perbedaan Syafakillah dengan doa kesembuhan lainnya adalah kepada siapa doa tersebut ditujukan.
Seperti yang terlah dijelaskan, Syafakillah diucapkan langsung untuk perempuan yang sedang sakit.
Sementara beberapa doa lainnya bisa diucapkan kepada laki-laki, secara langsung maupun tidak langsung.
Ada pula doa-doa kesembuhan yang lebih panjang, yang mengandung kalimat dan kata-kata yang baik dan bisa mendorong semangat.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang