ARAFAH, KOMPAS.com- "Labbaik Allahumma labbaik. Labbaik laa syariika laka labbaik. Innal hamda wan ni'mata laka wal mulk laa syariika lak.."
Suara talbiyah bersahut-sahutan dari hamparan tenda-tenda di Padang Arafah. Siang itu, Selasa (26/5/2026), waktu seolah sejenak berhenti berputar di Arafah.
Air mata jemaah tumpah. Doa-doa meminta ampunan mengalun perlahan dari tenda-tenda.
Hanya ada hamba dan juga Tuhannya dalam kesunyian. Baju ihram dengan warna sama yang dikenakan ribuan manusia di Arafah, menghapus sekat-sekat sosial.
"Di Padang Arafah ini manusia belajar bahwa tidak ada kemuliaan sejati selain ketakwaan," ungkap salah satu Amirul Hajj KH. Asep Saifuddin Chalim, dalam khutbah wukuf, Selasa (26/5/2026).
Baca juga: Seorang Jemaah Haji Embarkasi Banjarmasin Wafat Saat Wukuf di Padang Arafah
Secara etimologi, wukuf adalah berhenti atau berdiam sejenak. Namun bukan hanya berdiam begitu saja,manusia akan terlahir kembali seperti bayi jika mereka memohon ampunan.
Asep Saifuddin menganalogikan pengampunan Allah itu sebagai jamuan Tuhan pada tamu yang diundangnya di Padang Arafah.
"Ketika mereka (jemaah haji) meminta ampunan kepada Allah, maka akan diampuni dan ketika mereka memanjatkan permohonan maka akan dikabulkan oleh Allah," katanya.
Proses wukuf juga mengajarkan manusia pada sebuah proses penempaan. Suhu Arafah yang mencapai lebih dari 40 derajat Celcius, lautan manusia, dan tantangan menjauhi larangan ihram menjadi tempaan terbaik bagi kesabaran manusia.
Selain wukuf, dalam rukun haji ada tawaf yang mengajarkan pada manusia bahwa hidup selalu berputar atas kehendak Allah.
"Maka ketika datang cobaan kita akan mengganggap biasa karena hidup memang terus berputar, kadang ada saatnya di atas dan ada saatnya di bawah," paparnya.
Sedangkan proses sai mengajarkan bahwa manusia harus berusaha keras bertakwa pada Allah.
"Ada tantangan, ada godaan namun kita akan terus bisa menghadapinya," imbuh Asep.
Baca juga: Wukuf Arafah: Doa Jemaah Haji Indonesia dan Harapan Terkabul
Penempaan selama proses haji akan melahirkan pribadi baru. Bukan hanya sekadar gelar haji, namun ada tanggung jawab dan kontribusi sosial yang harus diberikan seorang hamba pada lingkungan mereka.
Kemabruran haji seseorang ditunjukkan pada sejumlah aspek perubahan positif kebribadian. Seperti kedermawanan, empati sosial, hingga ucapan yang baik.
Jika setiap jemaah menyadari hal tersebut, perubahan positif dan signifikan di tengah masyarakat sangat mungkin terjadi. Selamat Lebaran Haji, Labbaikallahuma labaik..
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang