Editor
KOMPAS.com - Puncak ibadah haji di Padang Arafah menjadi momen paling penting bagi seluruh jemaah haji dari berbagai negara, termasuk Indonesia.
Di tengah cuaca panas ekstrem dan kepadatan aktivitas ibadah, kondisi kesehatan jemaah menjadi perhatian utama petugas haji.
Kabar duka pun datang dari rombongan jemaah haji Embarkasi Banjarmasin, Kalimantan Selatan, saat pelaksanaan wukuf di Arafah.
Baca juga: Seorang Jemaah Haji Asal Batang Wafat di Arafah Saat Persiapan Wukuf
Seorang jemaah dilaporkan meninggal dunia setelah sempat mengalami gangguan kesehatan dan mendapat perawatan medis.
Ketua Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Embarkasi Banjarmasin, H Eddy Khairani, membenarkan kabar wafatnya satu jemaah asal Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, atas nama Maniah Abdullah Ibai (64).
Baca juga: Seorang Jemaah Haji Asal Ciamis Wafat di Arafah Jelang Puncak Ibadah Haji
Jemaah yang tergabung dalam Kloter 05 Embarkasi Banjarmasin tersebut meninggal dunia saat menjalankan rukun haji wukuf di Padang Arafah pada Senin, 25 Mei 2026 sekitar pukul 13.25 Waktu Arab Saudi.
"Kemarin pada pukul 20.05 WiTA, kami menerima konfirmasi kebenaran berita duka tersebut. Atas nama seluruh keluarga besar Kanwil Kementerian Haji dan Umrah Provinsi Kalimantan Selatan dan PPIH Embarkasi Banjarmasin, kami menyampaikan duka cita yang mendalam atas wafatnya Maniah Abdullah Ibai, jamaah asal Kotawaringin Barat," ujarnya di Banjarbaru, Selasa (26/5/2026).
Petugas Kesehatan Kloter 05 Embarkasi Banjarmasin, dr. Tania, menjelaskan almarhumah sempat mengalami gangguan kesehatan sebelum memasuki fase Armuzna.
Menurutnya, almarhumah awalnya mengeluhkan sesak napas dengan saturasi oksigen 85 persen tanpa bantuan oksigen serta mengalami penurunan nafsu makan.
Almarhumah kemudian dirujuk ke RS Al Noor dan menjalani perawatan selama lima hari sebelum dinyatakan boleh kembali ke kloter.
Saat perjalanan menuju Arafah, kondisi almarhumah disebut stabil. Namun setibanya di Arafah, kondisinya kembali menurun karena mengalami sesak napas dan langsung dibawa ke klinik Arafah.
"Di klinik dilakukan tindakan pemasangan infus dan pemberian obat-obatan, namun Allah berkehendak lain. Beliau meninggal dunia dengan sebab cardiac arrest, distress napas dan pneumonia,” jelas dr. Tania dalam keterangannya.
Menyikapi peristiwa tersebut, Eddy Khairani mengingatkan seluruh petugas kloter agar terus mengedukasi jemaah untuk mencukupi kebutuhan cairan selama berada di Tanah Suci.
Ia mengatakan masih banyak jemaah yang mengurangi konsumsi air minum karena khawatir terlalu sering buang air kecil.
“Memang rata-rata jamaah takut minum banyak air dengan alasan agar tidak sering buang air kecil. Namun, karena alasan tersebut, ada di antara jamaah yang mengalami dehidrasi, yang dapat memicu kambuhnya penyakit yang sebelumnya pernah dialami (komorbid),” katanya.
Menurutnya, dehidrasi menjadi salah satu risiko yang perlu diwaspadai, terutama di tengah suhu panas ekstrem selama pelaksanaan puncak ibadah haji.
Dua Jemaah Embarkasi Banjarmasin Wafat di Tanah Suci
Sebelumnya, jemaah asal Seruyan, Kalimantan Tengah, Muhammad Darmawan (66), juga meninggal dunia pada 15 Mei 2026 akibat syok kardiogenik.
Dengan wafatnya Maniah Abdullah Ibai, jumlah jemaah haji asal Embarkasi Banjarmasin yang meninggal dunia di Tanah Suci menjadi dua orang.
Pada musim haji 2026, Embarkasi Banjarmasin memberangkatkan total 19 kloter yang terdiri atas 14 kloter asal Kalimantan Selatan dan lima kloter asal Kalimantan Tengah dengan jumlah keseluruhan 6.804 jemaah.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang