KOMPAS.com – Ucapan “Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh” hampir tak pernah absen dalam keseharian umat Islam.
Ia hadir di awal percakapan, menjadi pembuka pidato, hingga penanda kehadiran seseorang dalam sebuah majelis.
Namun di balik kebiasaan yang tampak sederhana itu, tersimpan makna mendalam yang sering kali luput disadari.
Bahkan, tidak sedikit yang masih keliru dalam penulisan maupun pengucapannya, padahal salam bukan sekadar sapaan, melainkan doa yang sarat nilai spiritual.
Lantas, bagaimana sebenarnya penulisan salam yang benar? Dan apa makna serta keutamaannya dalam ajaran Islam?
Penulisan salam yang tepat sesuai kaidah bahasa Arab adalah:
ٱلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ ٱللَّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ
Assalāmu‘alaikum warahmatullāhi wabarakātuh
Arti: Semoga keselamatan, rahmat Allah, dan keberkahan-Nya tercurah kepada kalian.
Ketepatan penulisan ini penting, karena dalam Islam, lafaz doa tidak hanya dilihat dari maknanya, tetapi juga dari keakuratan penyampaiannya.
Dalam kitab Riyadhus Shalihin karya Imam an-Nawawi, dijelaskan bahwa menyempurnakan salam hingga “warahmatullahi wabarakatuh” merupakan sunnah yang dianjurkan.
Baca juga: Arti Syafakillah, Syafakallah, Syafakumullah: Makna, Tulisan Arab, dan Cara Pakainya
Dalam perspektif Islam, salam adalah doa yang langsung dipanjatkan kepada Allah untuk orang yang mendengarnya. Setiap kata dalam salam memiliki makna:
Dalam Al-Qur’an Surah An-Nur ayat 61, Allah SWT memerintahkan umat Islam untuk menyebarkan salam sebagai bentuk penghormatan yang penuh berkah.
Artinya, ketika seseorang mengucapkan salam, ia sedang menebarkan doa kebaikan, bukan hanya kepada orang lain, tetapi juga kepada dirinya sendiri.
Dalam sebuah hadis riwayat Muslim, Rasulullah SAW bersabda bahwa menyebarkan salam adalah kunci untuk menumbuhkan cinta di antara sesama muslim.
Dalam buku Doa Anak Kecil karya Anhar Anshar dijelaskan bahwa salam menjadi jembatan emosional yang mempererat hubungan sosial. Ia menghilangkan sekat, meruntuhkan prasangka, dan menghadirkan rasa aman.
Hadis riwayat Bukhari dan Muslim menyebutkan bahwa salah satu amalan terbaik dalam Islam adalah memberi makan dan mengucapkan salam kepada siapa saja, baik yang dikenal maupun tidak.
Ini menunjukkan bahwa salam memiliki dimensi sosial yang luas. Ia tidak eksklusif, melainkan inklusif, ditujukan untuk membangun peradaban yang ramah dan penuh empati.
Dalam hadis riwayat Tirmidzi, Rasulullah SAW menyebutkan beberapa amalan yang bisa mengantarkan seseorang ke surga, salah satunya adalah menyebarkan salam.
Dalam buku Assalamu’alaikum: Tebarkan Salam Damaikan Alam karya Mahmud asy-Syafrowi dijelaskan bahwa salam adalah simbol perdamaian universal. Ia bukan hanya ritual, tetapi nilai yang harus dihidupkan dalam kehidupan sehari-hari.
Baca juga: Tulisan Man Jadda Wajada yang Benar Beserta Artinya
Selain sebagai doa, salam juga merupakan bentuk dzikir. Ketika seseorang mengucapkan salam, ia menyebut nama Allah dan mengingat-Nya.
Rasulullah SAW bahkan menegaskan bahwa orang yang pertama kali mengucapkan salam adalah yang paling dekat dengan Allah.
Hal ini menunjukkan bahwa salam memiliki nilai spiritual yang tinggi, bukan sekadar etika sosial.
Mengucapkan salam juga mencerminkan kondisi batin seseorang. Ia menjadi tanda kerendahan hati dan kebersihan jiwa.
Orang yang terbiasa memberi salam menunjukkan bahwa dirinya bebas dari kesombongan, iri hati, dan kebencian. Ia datang dengan niat baik dan membawa pesan damai.
Dalam kajian akhlak Islam, salam sering disebut sebagai “indikator keimanan sosial” yaitu bagaimana iman seseorang tercermin dalam interaksi sehari-hari.
Baca juga: Insya Allah atau Insha Allah, Mana Tulisan yang Benar?
Meski sering diucapkan, ada beberapa kesalahan umum yang kerap terjadi, seperti:
Padahal, menyempurnakan salam adalah bagian dari adab yang diajarkan Rasulullah.
Di tengah kehidupan modern yang serba cepat dan individualistik, salam menjadi pengingat akan pentingnya nilai kemanusiaan.
Ia sederhana, tetapi memiliki dampak besar. Dari satu ucapan, lahir rasa aman. Dari satu doa, tumbuh harapan. Dan dari satu kebiasaan, terbentuk budaya saling menghormati.
Pada akhirnya, “Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh” bukan hanya ucapan pembuka. Ia adalah doa, dzikir, dan simbol peradaban yang damai.
Sebuah kalimat singkat yang, jika dihayati, mampu menghadirkan ketenangan, baik bagi yang mengucapkan maupun yang mendengarkan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang