Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Menggetarkan Hati, Inilah Isi Khutbah Terakhir Rasulullah SAW di Hari Arafah

Kompas.com, 26 Mei 2026, 17:00 WIB
Add on Google
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Di tengah lautan manusia yang memenuhi Padang Arafah pada tahun ke-10 Hijriah, Rasulullah SAW berdiri di atas untanya dan menyampaikan sebuah khutbah yang kemudian dikenang sebagai salah satu pesan paling bersejarah dalam Islam.

Khutbah itu bukan khutbah biasa. Para sahabat menyadari ada suasana haru yang berbeda ketika Nabi Muhammad SAW berbicara di hadapan puluhan ribu umat Islam yang datang menunaikan Haji Wada, haji pertama sekaligus terakhir beliau.

Di Padang Arafah itulah Rasulullah SAW menyampaikan pesan tentang persaudaraan, keadilan, hak perempuan, larangan riba, kesetaraan manusia, hingga pedoman hidup umat Islam sampai akhir zaman.

Banyak ulama menyebut khutbah tersebut sebagai rangkuman nilai-nilai utama ajaran Islam yang disampaikan langsung menjelang wafatnya Rasulullah SAW.

Hingga kini, isi khutbah wada masih sering dikutip dalam kajian Islam karena dinilai mengandung pesan kemanusiaan yang begitu kuat dan relevan sepanjang masa.

Lalu bagaimana suasana Haji Wada saat itu? Apa saja isi khutbah terakhir Rasulullah SAW di Hari Arafah? Berikut penjelasan lengkapnya.

Peristiwa Haji Wada yang Penuh Haru

Peristiwa khutbah terakhir Rasulullah SAW terjadi saat pelaksanaan Haji Wada pada 10 Hijriah.

Dikutip dari buku Teladan Indah Rasulullah dalam Ibadah karya Ahmad Rofi’ Usmani, Rasulullah SAW berangkat menunaikan haji bersama ribuan kaum Muslimin dari Madinah menuju Makkah.

Setelah tiba di Mina pada hari Tarwiyah, Nabi Muhammad SAW melaksanakan shalat Zuhur, Ashar, Magrib, Isya, dan Subuh di sana. Keesokan harinya, beliau bergerak menuju Padang Arafah.

Dalam buku Sirah Nabawiyah karya Ibnu Hisyam dijelaskan bahwa ribuan tenda telah berdiri di Arafah untuk menyambut kedatangan kaum Muslimin.

Jumlah umat Islam yang hadir ketika itu diperkirakan mencapai lebih dari 100.000 orang. Situasi tersebut menjadi salah satu pertemuan terbesar umat Islam pada masa Rasulullah SAW.

Baca juga: Wukuf Arafah: Doa Jemaah Haji Indonesia dan Harapan Terkabul

Rasulullah SAW Menyampaikan Khutbah di Padang Arafah

Saat matahari tergelincir pada 9 Dzulhijjah, Rasulullah SAW menaiki untanya dan mulai menyampaikan khutbah di hadapan umat Islam.

Dalam buku Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad karya KH Moenawar Chalil dijelaskan bahwa Rasulullah SAW meminta Rabi’ah bin Umayyah menyampaikan ulang khutbah beliau dengan suara lantang agar dapat didengar seluruh jamaah.

Khutbah tersebut kemudian dikenal sebagai Khutbah Wada atau khutbah perpisahan. Banyak sahabat merasa bahwa Rasulullah SAW sedang menyampaikan pesan terakhir kepada umatnya.

Hal itu tampak ketika beliau berkata:

“Barangkali aku tidak akan bertemu lagi dengan kalian setelah tahun ini.”

Ucapan tersebut membuat suasana Padang Arafah dipenuhi rasa haru.

Pesan tentang Kesucian Darah dan Harta

Salah satu pesan utama dalam khutbah terakhir Rasulullah SAW adalah larangan menzalimi sesama manusia.

Beliau menegaskan bahwa darah, harta, dan kehormatan seorang Muslim adalah sesuatu yang suci.

Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya darahmu dan hartamu haram atas kalian sebagaimana sucinya hari ini, bulan ini, dan negeri ini.”

Dalam buku Fiqih Sunnah karya Sayyid Sabiq dijelaskan bahwa khutbah tersebut menjadi dasar penting dalam ajaran Islam tentang perlindungan hak hidup dan hak kepemilikan manusia.

Islam melarang segala bentuk perampasan, kekerasan, dan penindasan terhadap sesama.

Baca juga: Ini Isi Khutbah Wukuf di Arafah Hari Ini

Rasulullah Menghapus Praktik Riba

Khutbah wada juga memuat penegasan keras tentang penghapusan praktik riba yang saat itu masih lazim terjadi di masyarakat Arab.

Rasulullah SAW menyatakan seluruh praktik riba pada masa jahiliah dihapuskan. Beliau bahkan memulai dari keluarganya sendiri dengan menghapus riba milik Abbas bin Abdul Muthalib.

Pesan tersebut menunjukkan bahwa Islam menekankan keadilan ekonomi dan melarang pengambilan keuntungan yang merugikan orang lain.

Dikutip dari buku Harta Haram Muamalat Kontemporer karya Dr Yusuf Al-Qaradawi, larangan riba menjadi salah satu fondasi utama sistem ekonomi Islam karena dapat menimbulkan ketimpangan sosial dan penindasan ekonomi.

Pesan Persaudaraan dan Kesetaraan Manusia

Bagian paling terkenal dari khutbah terakhir Rasulullah SAW adalah pesan tentang persaudaraan dan kesetaraan seluruh umat manusia.

Rasulullah SAW bersabda:

“Wahai manusia, Tuhan kalian satu dan ayah kalian satu. Kalian semua berasal dari Adam dan Adam berasal dari tanah.”

Beliau juga menegaskan:

“Tidak ada kelebihan orang Arab atas non-Arab kecuali karena ketakwaannya.”

Pesan tersebut dianggap sangat revolusioner pada zamannya karena masyarakat Arab ketika itu masih dipenuhi fanatisme suku dan status sosial.

Dalam buku Ar-Rahiq Al-Makhtum karya Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri dijelaskan bahwa Islam datang menghapus diskriminasi ras, warna kulit, dan keturunan.

Ukuran kemuliaan manusia di sisi Allah SWT hanyalah ketakwaannya.

Baca juga: Matahari Tepat di Atas Kabah pada Hari Arafah 2026, Fenomena Langka 33 Tahunan

Wasiat Rasulullah tentang Perempuan

Dalam khutbahnya, Rasulullah SAW juga berpesan agar umat Islam memperlakukan perempuan dengan baik.

Beliau mengingatkan bahwa perempuan adalah amanah dari Allah SWT.

Pesan tersebut menjadi salah satu bukti perhatian Islam terhadap hak-hak perempuan pada masa ketika kaum perempuan sering diperlakukan tidak adil.

Dikutip dari buku Ensiklopedi Wanita Muslimah karya Syaikh Ahmad Jad, khutbah wada menunjukkan bahwa Islam mengangkat martabat perempuan serta menempatkan hubungan suami istri dalam prinsip kasih sayang dan tanggung jawab.

Pegangan Hidup Umat Islam

Menjelang akhir khutbahnya, Rasulullah SAW menyampaikan pesan yang hingga kini menjadi pegangan utama umat Islam.

Beliau bersabda:

“Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara. Jika kalian berpegang teguh kepada keduanya, kalian tidak akan sesat selamanya, yaitu Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya.”

Pesan tersebut menegaskan pentingnya Al-Qur’an dan sunnah sebagai pedoman hidup umat Islam.

Dalam buku Al-Adzkar karya Imam An-Nawawi dijelaskan bahwa sunnah Rasulullah SAW menjadi penjelas ajaran Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

Khutbah yang Menggetarkan Hati Para Sahabat

Khutbah terakhir Rasulullah SAW membuat banyak sahabat menangis. Mereka merasa Nabi Muhammad SAW sedang memberikan pesan perpisahan.

Beberapa bulan setelah Haji Wada, Rasulullah SAW wafat di Madinah. Oleh karena itu, khutbah di Padang Arafah menjadi salah satu momen paling bersejarah dalam perjalanan Islam.

Pesan-pesan yang disampaikan Rasulullah SAW saat itu tetap relevan hingga sekarang, terutama tentang keadilan, persaudaraan, penghormatan terhadap hak manusia, dan pentingnya menjaga ketakwaan.

Hikmah Khutbah Wada bagi Umat Islam Masa Kini

Khutbah wada bukan hanya catatan sejarah, tetapi juga pelajaran besar bagi kehidupan modern.

Di tengah dunia yang masih dipenuhi konflik, diskriminasi, dan ketimpangan sosial, pesan Rasulullah SAW tentang persaudaraan dan kesetaraan manusia menjadi pengingat penting bagi seluruh umat.

Selain itu, khutbah tersebut juga mengajarkan pentingnya menjaga amanah, menghormati hak orang lain, menjauhi riba, serta menjadikan Al-Qur’an dan sunnah sebagai pedoman hidup.

Oleh karena itu, banyak ulama menilai khutbah terakhir Rasulullah SAW di Hari Arafah sebagai salah satu warisan spiritual terbesar dalam sejarah Islam.

Hingga lebih dari 14 abad berlalu, isi khutbah tersebut tetap mampu menggetarkan hati umat Islam di berbagai penjuru dunia.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Menag Nasaruddin Umar: Idul Adha Ajarkan Keikhlasan dan Kepedulian Sosial
Menag Nasaruddin Umar: Idul Adha Ajarkan Keikhlasan dan Kepedulian Sosial
Aktual
Muhammadiyah Siapkan 1.412 Lokasi Shalat Idul Adha 2026 di Yogyakarta
Muhammadiyah Siapkan 1.412 Lokasi Shalat Idul Adha 2026 di Yogyakarta
Aktual
Menggetarkan Hati, Inilah Isi Khutbah Terakhir Rasulullah SAW di Hari Arafah
Menggetarkan Hati, Inilah Isi Khutbah Terakhir Rasulullah SAW di Hari Arafah
Aktual
Idul Adha 2026 di Gaza Kembali Dirayakan Tanpa Tradisi Sembelih Hewan Kurban
Idul Adha 2026 di Gaza Kembali Dirayakan Tanpa Tradisi Sembelih Hewan Kurban
Aktual
Timwas DPR Menilai Optimalisasi Produk Pangan RI untuk Haji dan Umrah Bisa Gerakkan Ekonomi Nasional
Timwas DPR Menilai Optimalisasi Produk Pangan RI untuk Haji dan Umrah Bisa Gerakkan Ekonomi Nasional
Aktual
Tata Cara Mandi Sunnah Idul Adha 2026 Lengkap dengan Niat & Waktunya
Tata Cara Mandi Sunnah Idul Adha 2026 Lengkap dengan Niat & Waktunya
Aktual
Takbir Idul Adha 2026 Dimulai Malam Ini, Ini Bacaan & Amalan Sunnahnya
Takbir Idul Adha 2026 Dimulai Malam Ini, Ini Bacaan & Amalan Sunnahnya
Aktual
Tata Cara Menyembelih Hewan Kurban Idul Adha 2026 Sesuai Syariat Islam
Tata Cara Menyembelih Hewan Kurban Idul Adha 2026 Sesuai Syariat Islam
Aktual
Jelang Idul Adha 2026, Guru Besar UNP Ingatkan Bahaya “Kemelekatan” Harta dan Kekuasaan
Jelang Idul Adha 2026, Guru Besar UNP Ingatkan Bahaya “Kemelekatan” Harta dan Kekuasaan
Aktual
Bolehkah Minum Sebelum Shalat Idul Adha? Ini Penjelasan Hadis Nabi
Bolehkah Minum Sebelum Shalat Idul Adha? Ini Penjelasan Hadis Nabi
Aktual
Wukuf Arafah: Doa Jemaah Haji Indonesia dan Harapan Terkabul
Wukuf Arafah: Doa Jemaah Haji Indonesia dan Harapan Terkabul
Aktual
Daging Kurban Disimpan Lebih dari 3 Hari, Apakah Dilarang Islam? Ini Hukumnya
Daging Kurban Disimpan Lebih dari 3 Hari, Apakah Dilarang Islam? Ini Hukumnya
Aktual
Niat dan Tata Cara Shalat Idul Adha 2026, Beserta Waktu, Bacaan & Sunnahnya
Niat dan Tata Cara Shalat Idul Adha 2026, Beserta Waktu, Bacaan & Sunnahnya
Doa dan Niat
Jadwal Shalat Idul Adha 2026 di Masjid Istiqlal Jakarta, Terbuka untuk Umum
Jadwal Shalat Idul Adha 2026 di Masjid Istiqlal Jakarta, Terbuka untuk Umum
Aktual
Kumpulan Doa di Hari Arafah 2026 Paling Mustajab Beserta Keutamaannya
Kumpulan Doa di Hari Arafah 2026 Paling Mustajab Beserta Keutamaannya
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com