Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bolehkah Minum Sebelum Shalat Idul Adha? Ini Penjelasan Hadis Nabi

Kompas.com, 26 Mei 2026, 15:30 WIB
Add on Google
Norma Desvia Rahman,
Farid Assifa

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Menjelang Hari Raya Idul Adha, banyak umat Islam mulai mempersiapkan diri untuk melaksanakan shalat Id berjamaah di masjid maupun lapangan terbuka.

Namun di tengah berbagai persiapan tersebut, muncul pertanyaan yang cukup sering dibahas setiap tahun, apakah boleh minum sebelum shalat Idul Adha?

Sebagian masyarakat memahami bahwa sebelum shalat Idul Adha umat Islam dianjurkan tidak makan.

Lalu bagaimana dengan minum air putih, teh, kopi, atau minuman lainnya? Apakah termasuk yang dianjurkan untuk ditinggalkan juga?

Pembahasan ini sebenarnya berkaitan dengan sunnah Rasulullah SAW ketika menyambut Hari Raya Kurban.

Dalam sejumlah hadis dijelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW memiliki kebiasaan berbeda antara Idul Fitri dan Idul Adha.

Pada Idul Fitri, Rasulullah SAW justru dianjurkan makan terlebih dahulu sebelum berangkat shalat Id.

Sementara pada Idul Adha, beliau menunda makan hingga selesai melaksanakan shalat Id dan penyembelihan kurban.

Lalu bagaimana hukum minum sebelum shalat Idul Adha menurut Islam? Berikut penjelasan lengkapnya.

Baca juga: Contoh Ucapan Selamat Idul Adha 2026 dalam Bahasa Jawa dan Artinya yang Penuh Doa

Apakah Boleh Minum Sebelum Shalat Idul Adha?

Secara hukum, minum sebelum shalat Idul Adha diperbolehkan dan tidak haram.

Namun dalam ajaran sunnah, umat Islam dianjurkan menahan diri untuk tidak makan maupun minum sebelum pelaksanaan shalat Idul Adha sebagai bentuk mengikuti kebiasaan Rasulullah SAW.

Dalam hadis riwayat Tirmidzi dan Abu Dawud dari Buraidah RA disebutkan:

“Rasulullah SAW tidak keluar pada hari Idul Fitri hingga beliau makan terlebih dahulu, dan beliau tidak makan pada hari raya kurban hingga selesai shalat.”

Dikutip dari buku Fiqih Sunnah karya Sayyid Sabiq, kebiasaan Rasulullah SAW tersebut menjadi dasar anjuran bagi umat Islam untuk menunda makan dan minum hingga selesai shalat Idul Adha.

Meski demikian, para ulama menjelaskan bahwa hal itu bersifat sunnah, bukan kewajiban. Karena itu, seseorang tetap boleh minum apabila merasa haus, lemas, sedang sakit, mengonsumsi obat, atau memiliki kondisi kesehatan tertentu.

Mengapa Dianjurkan Tidak Makan dan Minum?

Anjuran tidak makan dan minum sebelum shalat Idul Adha memiliki makna spiritual yang cukup dalam.

Dalam buku Al-Adzkar karya Imam An-Nawawi dijelaskan bahwa sunnah-sunnah hari raya bertujuan membentuk kesiapan lahir dan batin dalam beribadah.

Menahan diri sejenak dari makan dan minum sebelum shalat Idul Adha dipahami sebagai simbol kesabaran, pengendalian diri, serta bentuk penghormatan terhadap ibadah kurban yang akan dilaksanakan setelah shalat Id.

Selain itu, sebagian ulama menjelaskan bahwa Rasulullah SAW menunda makan hingga selesai shalat agar makanan pertama yang disantap berasal dari hewan kurban.

Tradisi tersebut menjadi simbol kedekatan antara ibadah shalat Id dan ibadah kurban dalam Hari Raya Idul Adha.

Baca juga: Lokasi Shalat Idul Adha 2026 Muhammadiyah di Semarang, Rabu 27 Mei 2026

Perbedaan Idul Fitri dan Idul Adha

Sunnah makan sebelum shalat ternyata berbeda antara Idul Fitri dan Idul Adha.

Pada Hari Raya Idul Fitri, Rasulullah SAW justru dianjurkan makan terlebih dahulu sebelum berangkat ke tempat shalat.

Dalam hadis riwayat Bukhari disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW biasa memakan beberapa butir kurma sebelum shalat Idul Fitri.

Dikutip dari buku Bidayatul Mujtahid karya Ibnu Rusyd, kebiasaan tersebut bertujuan menegaskan bahwa puasa Ramadhan telah selesai dan umat Islam sudah diperbolehkan makan kembali. Bahkan, berpuasa pada Hari Raya Idul Fitri diharamkan dalam Islam.

Sementara pada Idul Adha, Rasulullah SAW justru menunda makan hingga selesai shalat sebagai bagian dari sunnah yang berkaitan dengan ibadah kurban.

Apakah Jika Sudah Minum Shalat Id Menjadi Tidak Sah?

Banyak masyarakat khawatir bahwa minum sebelum shalat Idul Adha dapat membuat ibadahnya tidak sah.

Padahal para ulama menegaskan bahwa makan atau minum sebelum shalat Idul Adha sama sekali tidak membatalkan shalat maupun mengurangi keabsahan ibadah.

Anjuran tersebut hanya berkaitan dengan keutamaan mengikuti sunnah Rasulullah SAW.

Dalam buku Fikih Ibadah karya Wahbah Az-Zuhaili dijelaskan bahwa meninggalkan sunnah tidak membuat ibadah menjadi batal, tetapi seseorang kehilangan nilai keutamaan dari sunnah tersebut.

Oleh karena itu, umat Islam tidak perlu merasa berdosa apabila terlanjur minum sebelum shalat Id, terutama jika memiliki alasan tertentu.

Baca juga: Bacaan Bilal Sholat Idul Adha 2026 Lengkap Arab, Latin, dan Artinya

Sunnah Lain Sebelum Shalat Idul Adha

Selain anjuran tidak makan dan minum, terdapat sejumlah sunnah lain yang dianjurkan sebelum shalat Idul Adha.

Memperbanyak Takbir

Malam hingga pagi Hari Raya Idul Adha dianjurkan memperbanyak takbir sebagai bentuk pengagungan kepada Allah SWT.

Lafaz takbir yang umum dibaca antara lain:

“Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar, Laa Ilaaha Illallaah, Allahu Akbar Allahu Akbar Walillaahil Hamd.”

Mandi dan Berpakaian Bersih

Dalam buku Mukhtashar Minhajul Qashidin karya Ibnu Qudamah dijelaskan bahwa mandi sebelum shalat Id termasuk sunnah yang dianjurkan agar umat Islam datang beribadah dalam keadaan bersih dan rapi.

Berangkat Lebih Awal ke Tempat Shalat

Datang lebih awal memberi kesempatan untuk memperbanyak dzikir, mendengarkan takbir, dan mendapatkan saf depan.

Berjalan Kaki Jika Memungkinkan

Sebagian hadis menjelaskan bahwa Rasulullah SAW biasa berjalan kaki menuju tempat shalat Id jika memungkinkan.

Hikmah Idul Adha dan Makna Pengorbanan

Idul Adha bukan sekadar perayaan tahunan atau momentum menyembelih hewan kurban.

Hari raya ini menjadi pengingat tentang ketakwaan, keikhlasan, dan pengorbanan Nabi Ibrahim AS serta Nabi Ismail AS dalam menaati perintah Allah SWT.

Dalam Al-Qur’an Surah Al-Hajj ayat 37 disebutkan bahwa yang sampai kepada Allah bukanlah daging atau darah hewan kurban, melainkan ketakwaan dari hamba-Nya.

Oleh karena itu, berbagai sunnah kecil menjelang shalat Idul Adha, termasuk menahan diri dari makan dan minum, dipandang sebagai latihan sederhana untuk membangun kesadaran spiritual dan pengendalian diri.

Dengan demikian, minum sebelum shalat Idul Adha sebenarnya diperbolehkan dalam Islam dan tidak membatalkan ibadah.

Namun jika mampu menahannya hingga selesai shalat Id, hal tersebut lebih utama karena mengikuti sunnah Rasulullah SAW.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com