KOMPAS.com - Shalat Idul Adha menjadi salah satu ibadah yang paling dinanti umat Islam setiap datangnya 10 Dzulhijjah.
Pada momen ini, jutaan Muslim di berbagai penjuru dunia berkumpul di lapangan, masjid, hingga tanah terbuka untuk melaksanakan shalat hari raya secara berjamaah.
Tahun ini, pemerintah, Muhammadiyah, dan Nahdlatul Ulama (NU) menetapkan Hari Raya Idul Adha jatuh pada Rabu, 27 Mei 2026.
Keseragaman penetapan tersebut membuat suasana Idul Adha terasa semakin semarak karena umat Islam dapat merayakannya bersama-sama.
Meski dilaksanakan setiap tahun, masih banyak umat Islam yang mencari kembali panduan lengkap mengenai niat dan tata cara shalat Idul Adha.
Mulai dari jumlah takbir, bacaan surat yang dianjurkan, hingga bagaimana pelaksanaannya apabila dilakukan sendiri di rumah.
Lalu bagaimana sebenarnya tata cara shalat Idul Adha sesuai sunnah Nabi Muhammad SAW?
Para ulama memiliki pandangan berbeda mengenai hukum shalat Idul Adha. Namun seluruhnya sepakat bahwa ibadah ini sangat dianjurkan dan menjadi syiar besar umat Islam.
Dikutip dari buku Fikih Shalat Hari Raya karya Sofyan Chalid bin Idham Ruray, mayoritas ulama dari mazhab Syafi’i berpendapat hukum shalat Idul Adha adalah sunnah muakkad atau sunnah yang sangat dianjurkan.
Sementara Imam Abu Hanifah berpendapat shalat Idul Adha hukumnya wajib atau fardhu ‘ain bagi setiap Muslim laki-laki yang memenuhi syarat.
Pendapat serupa juga diikuti oleh Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim, dan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin.
Adapun Imam Ahmad bin Hanbal menyatakan hukum shalat Id termasuk fardhu kifayah, yaitu kewajiban kolektif yang gugur apabila telah dilaksanakan sebagian kaum Muslimin.
Perbedaan pendapat tersebut menunjukkan betapa besar perhatian para ulama terhadap ibadah hari raya ini.
Baca juga: Contoh Ucapan Selamat Idul Adha 2026 dalam Bahasa Jawa dan Artinya yang Penuh Doa
Shalat Idul Adha dilaksanakan pada pagi hari tanggal 10 Dzulhijjah setelah matahari terbit.
Dalam buku Waktu Shalat: Kajian Fikih dan Astronomi karya Abd Karim Faiz dijelaskan, waktu shalat Id dimulai ketika matahari naik setinggi tombak atau memasuki waktu dhuha hingga sebelum tergelincirnya matahari (zawal).
Rasulullah SAW juga dikenal menyegerakan pelaksanaan shalat Idul Adha. Hal itu berbeda dengan Idul Fitri yang biasanya sedikit diakhirkan.
Dikutip dari buku Nabi Muhammad Sehari-hari karya Muhammad Ismail Al Jawisy, penyegeraan shalat Idul Adha bertujuan memberi kesempatan lebih luas kepada umat Islam untuk segera melaksanakan ibadah kurban setelah shalat selesai.
Dalam banyak riwayat, Nabi Muhammad SAW lebih sering melaksanakan shalat Id di tanah lapang dibanding di masjid.
Hadis riwayat Imam Bukhari dan Muslim menyebutkan:
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar pada hari Idul Fitri dan Idul Adha menuju lapangan tempat shalat.” (HR Bukhari dan Muslim)
Oleh karena itu, para ulama menyebut lapangan atau tempat terbuka sebagai lokasi paling utama untuk melaksanakan shalat Idul Adha.
Meski demikian, apabila kondisi cuaca, keamanan, atau situasi tertentu tidak memungkinkan, shalat Idul Adha tetap boleh dilakukan di masjid maupun di rumah.
Pendapat ini dijelaskan dalam kitab-kitab fikih mazhab Malikiyah, Syafi’iyah, dan Hanabilah.
Baca juga: Doa Buka Puasa Idul Adha Lengkap Arab, Latin, dan Artinya
Niat menjadi bagian penting dalam setiap ibadah, termasuk shalat Idul Adha.
Dalam mazhab Syafi’i, melafalkan niat hukumnya sunnah untuk membantu menghadirkan niat di dalam hati.
أُصَلِّي سُنَّةَ عِيْدِ الْأَضْحَى رَكْعَتَيْنِ مَأْمُوْمًا لِلّٰهِ تَعَالَى
Ushallii sunnata ‘iidil adhhaa rak’ataini ma’muuman lillaahi ta’aalaa.
Artinya: “Saya berniat shalat sunnah Idul Adha dua rakaat sebagai makmum karena Allah Ta’ala.”
أُصَلِّي سُنَّةَ عِيْدِ الْأَضْحَى رَكْعَتَيْنِ إِمَامًا لِلّٰهِ تَعَالَى
Ushallii sunnata ‘iidil adhhaa rak’ataini imaaman lillaahi ta’aalaa.
Artinya: “Saya berniat shalat sunnah Idul Adha dua rakaat sebagai imam karena Allah Ta’ala.”
أُصَلِّي سُنَّةَ عِيْدِ الْأَضْحَى رَكْعَتَيْنِ لِلّٰهِ تَعَالَى
Ushallii sunnata ‘iidil adhhaa rak’ataini lillaahi ta’aalaa.
Artinya: “Saya berniat shalat sunnah Idul Adha dua rakaat karena Allah Ta’ala.”
Shalat Idul Adha dilaksanakan sebanyak dua rakaat dengan tambahan takbir pada rakaat pertama dan kedua.
Dikutip dari buku Panduan Lengkap Shalat Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha karya Ustadz Firanda Andirja, berikut tata cara lengkapnya:
Setelah shalat selesai, imam biasanya menyampaikan khutbah Idul Adha.
Baca juga: Lokasi Shalat Idul Adha 2026 Muhammadiyah di Semarang, Rabu 27 Mei 2026
Rasulullah SAW memiliki beberapa kebiasaan membaca surat tertentu ketika shalat Id.
Dalam hadis riwayat Muslim disebutkan Nabi SAW pernah membaca surat Qaaf pada rakaat pertama dan surat Al-Qamar pada rakaat kedua.
Riwayat lain menyebut Nabi membaca surat Al-A’la dan Al-Ghasyiyah.
Dari An-Nu’man bin Basyir RA:
“Rasulullah SAW membaca dalam shalat Id dan Jumat surat Sabbihisma Rabbikal A’la dan Hal Ataaka Hadiitsul Ghaasyiyah.” (HR Muslim)
Oleh karena itu, surat yang disunnahkan dibaca saat shalat Idul Adha antara lain:
Namun apabila tidak hafal, jamaah tetap boleh membaca surat lain dalam Al-Qur’an.
Selain tata cara shalat, terdapat beberapa amalan sunnah yang dianjurkan pada Hari Raya Idul Adha.
Dikutip dari buku Fiqih Sunnah karya Sayyid Sabiq, di antaranya:
Mandi sunnah Id dilakukan untuk membersihkan diri dan menyambut hari raya dengan keadaan terbaik.
Rasulullah SAW mengenakan pakaian terbaiknya ketika hari raya.
Berbeda dengan Idul Fitri, pada Idul Adha umat Islam dianjurkan menunda makan hingga selesai shalat dan menyantap daging kurban apabila ada.
Takbir Idul Adha disunnahkan sejak malam 10 Dzulhijjah hingga hari tasyrik.
Sebagian ulama menyebut Nabi SAW berjalan kaki menuju lapangan shalat Id.
Dalam kondisi tertentu, shalat Idul Adha boleh dilakukan di rumah, baik berjamaah bersama keluarga maupun sendiri.
Hal tersebut pernah dipraktikkan para sahabat ketika terdapat uzur tertentu.
Dalam buku Al-Fiqh Al-Manhaji karya Syekh Mustafa Al-Khin dijelaskan, shalat Id yang dilakukan di rumah tetap sah meskipun tanpa khutbah.
Tambahan takbir dalam shalat Id menjadi simbol pengagungan kepada Allah SWT.
Menurut Imam Ibn Rajab dalam Lathaif Al-Ma’arif, takbir-takbir tersebut menjadi bentuk syukur dan penghambaan seorang Muslim pada hari raya, sekaligus menghidupkan syiar Islam di tengah masyarakat.
Oleh karena itu, suasana shalat Idul Adha selalu terasa berbeda dibanding shalat lainnya. Gemuruh takbir, pakaian terbaik, hingga berkumpulnya umat Islam dalam satu tempat menjadi simbol persaudaraan dan ketakwaan.
Shalat Idul Adha bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan momentum spiritual untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT sekaligus meneladani keikhlasan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang