Editor
KOMPAS.com - Dosen Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta menekankan pentingnya penerapan aspek kesejahteraan hewan dalam pelaksanaan penyembelihan hewan kurban saat Idul Adha.
Penerapan prinsip animal welfare dinilai penting untuk menjaga kualitas proses penyembelihan sekaligus mengurangi stres pada hewan kurban.
Selain itu, panitia kurban juga diingatkan memperhatikan higienitas dan keamanan selama proses pemotongan hingga distribusi daging.
Baca juga: Idul Adha 2026 di Gaza Kembali Dirayakan Tanpa Tradisi Sembelih Hewan Kurban
Penggunaan wadah ramah lingkungan untuk pembagian daging kurban turut dianjurkan guna mengurangi risiko kesehatan dan pencemaran lingkungan.
Dosen Fakultas Peternakan UGM Cuk Tri Noviandi mengatakan aspek kesejahteraan hewan harus menjadi perhatian utama dalam pelaksanaan kurban.
Baca juga: Tata Cara Menyembelih Hewan Kurban Idul Adha 2026 Sesuai Syariat Islam
"Aspek kesejahteraan hewan perlu menjadi perhatian utama dalam pelaksanaan kurban, karena itu pentingnya melaksanakan prinsip animal welfare atau 5 freedom," kata Dosen Fapet UGM Cuk Tri Noviandi dalam keterangan di Yogyakarta, Selasa.
Menurut dia, prinsip animal welfare atau 5 freedom mencakup memastikan hewan bebas dari rasa lapar, haus, sakit, ketakutan, serta tetap dapat menunjukkan perilaku alaminya.
"Perlakuan yang baik terhadap hewan kurban diyakini akan membuat proses penyembelihan lebih aman dan berkualitas," katanya.
Cuk Tri menjelaskan suasana saat penyembelihan harus dijaga tetap tenang untuk mencegah hewan mengalami stres.
Kerumunan, suara bising, dan terlalu banyak orang di area penyembelihan dinilai dapat meningkatkan risiko kecelakaan kerja.
"Untuk itu, hanya petugas inti yang diperbolehkan berada di area penyembelihan, sementara anak-anak dan penonton diminta berada di luar radius aman," katanya.
Ia menambahkan persiapan teknis sebelum penyembelihan juga menjadi faktor penting dalam menjaga kualitas proses kurban.
Hewan disarankan diistirahatkan terlebih dahulu, dipuasakan selama sekitar 12 jam dengan tetap diberikan air minum, serta ditempatkan di area transit yang nyaman.
Selain itu, pisau sembelih harus dalam kondisi tajam, bersih, dan tidak diperlihatkan kepada hewan.
Panitia juga diwajibkan menyiapkan alat pelindung diri (APD), sanitasi yang memadai, serta alur kerja yang jelas untuk menjaga keselamatan dan higienitas.
"Penyembelihan harus dilakukan dengan satu gerakan efektif pada titik yang tepat di belakang jakun untuk memastikan saluran utama terpotong sempurna sesuai syariat halal," katanya.
Dosen Fakultas Peternakan UGM Rio Olympias Sujarwanta mengingatkan panitia kurban agar menjaga kebersihan selama proses pengolahan daging.
"Penggunaan sarung tangan plastik juga dianjurkan guna mencegah kontaminasi mikroba pada daging kurban," katanya.
Rio mengimbau panitia tidak memotong daging sambil merokok serta menghindari batuk atau bersin di dekat daging kurban.
Ia juga meminta panitia tidak mencuci jeroan di sungai karena berpotensi tercemar limbah dan bakteri.
Selain itu, pengelolaan daging dan jeroan harus dipisahkan untuk menghindari kontaminasi silang dan bau tidak sedap.
Daging juga tidak boleh diletakkan langsung di tanah karena dapat memicu pertumbuhan kuman dalam jumlah besar.
"Untuk distribusi, masyarakat dianjurkan menghindari penggunaan plastik hitam karena berpotensi mengandung bahan berbahaya, dan beralih menggunakan besek bambu atau wadah yang lebih aman serta ramah lingkungan," katanya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang