Editor
KOMPAS.com - Perayaan Idul Adha 2026 di Jalur Gaza kembali berlangsung tanpa tradisi penyembelihan hewan kurban bagi sebagian besar warga Palestina.
Krisis kemanusiaan yang berkepanjangan akibat perang dan pembatasan ketat membuat hewan ternak sulit diperoleh serta harganya melonjak tajam.
Kondisi tersebut menyebabkan banyak keluarga di Gaza hanya bisa mengenang tradisi Idul Adha yang dahulu identik dengan kebersamaan dan berbagi.
Baca juga: MUI Imbau Imam dan Khatib Shalat Jumat dan Idul Adha Bacakan Qunut Nazilah untuk Gaza
Tahun ini menjadi tahun ketiga berturut-turut warga Gaza menjalani Idul Adha tanpa kurban secara normal.
Menjelang Idul Adha yang di banyak negara Muslim identik dengan suasana perayaan, bagi Ahmed Nashwan, warga Palestina dari Jalur Gaza, hari raya justru menjadi pengingat penderitaan akibat perang.
Baca juga: MUI Serukan Imam Baca Qunut Nazilah untuk Gaza dan Palestina
Untuk tahun ketiga berturut-turut, dia tidak lagi pergi bersama saudara laki-laki dan putra-putranya ke pasar ternak untuk memilih hewan kurban, yang selama ini menjadi salah satu tradisi khas Idul Adha.
"Sebelum perang, Idul Adha merupakan momen penuh kebahagiaan bagi kami," kata Nashwan kepada Xinhua.
"Kami biasanya berkumpul sebagai keluarga untuk memilih hewan kurban, mempersiapkan hari raya, dan membagikan daging kepada kerabat serta keluarga miskin," lanjutnya.
Idul Adha yang berlangsung selama empat hari dan dimulai pekan ini merupakan salah satu hari raya besar umat Islam.
Hari raya tersebut biasanya ditandai dengan penyembelihan hewan ternak bagi Muslim yang mampu.
"Kini, hari raya itu bagi kami hanya tinggal doa dan kenangan karena tidak ada ternak yang masuk ke Gaza, dan sebagian besar orang hampir tidak mampu memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari," kata Nashwan.
Meski gencatan senjata antara Hamas dan Israel tercapai pada Oktober 2025, Israel disebut masih mempertahankan pembatasan ketat di Jalur Gaza.
Kondisi itu membuat arus barang, termasuk hewan ternak, sangat terbatas masuk ke wilayah tersebut.
Domba dan anak sapi yang menjadi kebutuhan utama kurban Idul Adha kini sulit ditemukan dan jumlahnya jauh dari kebutuhan masyarakat Gaza.
Menurut Maher al-Tabbaa, Direktur Kamar Dagang Gaza, harga seekor hewan kurban melonjak drastis dari sekitar 500 dolar AS sebelum perang menjadi sekitar 6.000 hingga 7.000 dolar AS saat ini.
Mohammed al-Hissi (40), ayah empat anak dari Gaza City, mengatakan hewan kurban kini hampir mustahil diperoleh karena kelangkaan dan tingginya harga.
"Idul Adha dulunya selalu menjadi salah satu masa paling membahagiakan bagi keluarga kami. Anak-anak saya biasanya bangun pagi, mengenakan pakaian baru, dan menemani saya mengunjungi kerabat setelah kami membagikan daging," katanya.
"Tetapi saat ini, semuanya telah berubah akibat perang dan memburuknya kondisi kemanusiaan di Gaza," jelasnya.
"Sebagian besar keluarga tidak lagi dapat memikirkan untuk membeli hewan kurban karena harganya sangat tinggi dan masyarakat telah kehilangan pendapatan serta rumah mereka."
Di Gaza selatan, Mohammed Shallah mengenang tradisi Idul Adha keluarganya saat berdiri di samping makam sang ayah yang tewas akibat serangan udara Israel di Khan Younis.
"Dulu, kami pergi bersama ayah dan kerabat saya untuk memilih hewan kurban," kata Shallah (22) kepada Xinhua, seraya menambahkan bahwa dia tidak lagi mampu melanjutkan tradisi tersebut.
"Bahkan jika ternak masih bisa ditemukan, harganya sangat mahal," katanya. "Saya tidak lagi mampu membeli hewan kurban sama sekali," ujarnya.
Pedagang ternak Salah Afana mengatakan harga hewan kurban meningkat berkali-kali lipat sejak perang meletus. Di sisi lain, permintaan masyarakat hampir hilang akibat kemiskinan yang meluas.
"Banyak hewan mati karena serangan udara, kekurangan pakan, dan kolapsnya layanan veteriner. Pada saat bersamaan, tidak ada ternak yang masuk ke Gaza akibat penutupan perlintasan," tambahnya.
Raafat Asaliya, juru bicara Kementerian Pertanian yang dikelola Hamas, mengatakan sebelum perang Gaza biasanya mengimpor sekitar 10.000 hingga 20.000 anak sapi serta 30.000 hingga 40.000 domba menjelang Idul Adha setiap tahun.
"Dengan adanya perang dan penutupan perlintasan, impor berhenti total," kata Asaliya kepada Xinhua, seraya menambahkan bahwa banyak peternakan, kandang, dan gudang pakan telah hancur selama perang.
Menurut al-Tabbaa, penghancuran wilayah penghasil ternak di Gaza timur memperparah krisis ketersediaan hewan kurban di wilayah tersebut.
"Penduduk Gaza telah kehilangan akses terhadap hewan kurban selama tiga tahun berturut-turut. Tidak ada yang tahu berapa banyak lagi Idul Adha tanpa kurban yang harus dijalani warga Gaza," ujarnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang