KOMPAS.com - Di tengah hamparan Padang Arafah yang luas dan diselimuti terik matahari Arab Saudi, ribuan peziarah tampak berjalan perlahan menuju sebuah bukit batu yang sarat sejarah spiritual.
Tempat itu adalah Jabal Al-Rahmah, lokasi yang setiap tahun menjadi pusat perhatian jutaan umat Muslim saat puncak ibadah haji berlangsung.
Sejak fajar Hari Arafah, suasana di sekitar bukit tersebut dipenuhi gema talbiyah, lantunan ayat suci Al-Qur’an, serta doa-doa yang dipanjatkan dalam berbagai bahasa.
Para jamaah datang dengan langkah penuh harap, memohon ampunan, ketenangan hidup, hingga keberkahan bagi keluarga mereka di tanah air.
Dilansir dari Saudi Gazette, arus pergerakan peziarah menuju Jabal Al-Rahmah berlangsung tertib berkat sistem operasional lapangan terpadu yang diterapkan otoritas Arab Saudi.
Jalur pejalan kaki, layanan kesehatan, titik bantuan kemanusiaan, hingga petugas panduan disiagakan selama 24 jam demi memastikan kenyamanan jamaah.
Baca juga: Dari Arafah, Jemaah Haji Lanjutkan Rangkaian Puncak Haji di Muzdalifah dan Mina
Jabal Al-Rahmah bukan sekadar bukit batu di tengah Padang Arafah. Dalam tradisi Islam, tempat ini diyakini memiliki keterkaitan dengan pertemuan Nabi Adam AS dan Siti Hawa setelah keduanya diturunkan ke bumi. Karena itulah, bukit ini dikenal sebagai “Gunung Kasih Sayang” atau Gunung Rahmat.
Di puncaknya berdiri sebuah tugu putih yang menjadi penanda lokasi paling dikenal di kawasan Arafah.
Meski tidak ada kewajiban syariat untuk mendaki bukit tersebut, banyak jamaah memilih datang dan berdoa di sekitarnya karena nilai spiritual yang begitu kuat.
Dalam buku Ensiklopedia Haji dan Umrah karya Agus Hikmat Syaf, disebutkan bahwa Arafah merupakan simbol penghambaan total manusia kepada Allah SWT.
Seluruh jamaah haji berkumpul tanpa memandang status sosial, bangsa, maupun bahasa. Semua mengenakan pakaian ihram yang sama sebagai lambang kesetaraan di hadapan Sang Pencipta.
Sementara itu, dalam kitab Fiqih Sunnah karya Sayyid Sabiq dijelaskan bahwa wukuf di Arafah adalah inti ibadah haji. Rasulullah SAW bahkan menegaskan:
“Al-hajju Arafah”
“Haji itu adalah Arafah.”
Hadis tersebut menunjukkan betapa pentingnya momentum wukuf bagi umat Islam yang menunaikan rukun Islam kelima.
Baca juga: Puncak Ibadah Haji 2026 di Arafah, Lebih dari 1,5 Juta Jemaah Larut dalam Doa dan Munajat
Menjelang siang, suasana di sekitar Jabal Al-Rahmah berubah semakin khusyuk. Ribuan jamaah duduk bersila di atas sajadah, ada yang menengadahkan tangan sambil menangis, ada pula yang membaca Al-Qur’an dengan suara lirih.
Bahasa yang terdengar pun beragam. Dari Arab, Indonesia, Turki, Urdu, hingga bahasa-bahasa Afrika, semuanya menyatu dalam satu tujuan yang sama: memohon rahmat Allah SWT.
Momen inilah yang sering disebut sebagai gambaran miniatur Padang Mahsyar. Seluruh manusia berkumpul dalam keadaan sederhana, berharap ampunan dan pertolongan dari Tuhan mereka.
Dalam buku Rahasia Haji dan Umrah karya Muhammad Syukri Albani Nasution dijelaskan bahwa Hari Arafah merupakan salah satu waktu paling mustajab untuk berdoa.
Rasulullah SAW menyebut tidak ada hari ketika Allah membebaskan lebih banyak hamba dari api neraka selain Hari Arafah.
Oleh karena itu, banyak jamaah memanfaatkan waktu sejak tergelincir matahari hingga magrib untuk memperbanyak istigfar, dzikir, dan doa pribadi.
Pemerintah Arab Saudi tahun ini juga memperkuat sistem layanan di kawasan Arafah. Berbagai fasilitas modern diterapkan untuk menjaga kelancaran arus jamaah.
Petugas keamanan tampak berjaga di titik-titik strategis, sementara tim kesehatan siaga membantu jamaah yang mengalami kelelahan akibat suhu ekstrem. Jalur pedestrian diperluas agar pergerakan menuju Jabal Al-Rahmah lebih lancar.
Selain itu, sejumlah papan digital multibahasa dipasang untuk membantu jamaah memahami arah dan prosedur keselamatan. Layanan air minum, kabut pendingin, hingga ambulans bergerak turut disediakan di sekitar area wukuf.
Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi menegaskan bahwa seluruh sistem tersebut dirancang untuk memberikan pengalaman ibadah yang aman dan nyaman bagi para tamu Allah.
Baca juga: Otoritas Arab Saudi Imbau Jemaah di Arafah Tetap di Dalam Tenda Saat Cuaca Panas Ekstrem
Di balik kemegahan pelayanan modern, suasana di Jabal Al-Rahmah tetap menghadirkan kesan sederhana dan menyentuh.
Tidak ada perbedaan antara pejabat, ulama, pedagang, maupun rakyat biasa. Semua larut dalam pakaian ihram putih dan doa-doa yang dipanjatkan dengan penuh harap.
Banyak jamaah mengaku merasakan ketenangan batin yang sulit dijelaskan ketika berada di kawasan Arafah.
Ada yang menangis mengingat dosa-dosa masa lalu, ada pula yang merasa seperti mendapatkan kesempatan baru untuk memperbaiki hidup.
Dalam perspektif spiritual Islam, Arafah bukan hanya tempat berkumpul secara fisik, tetapi juga ruang perenungan tentang hubungan manusia dengan Allah SWT.
Ketika matahari mulai condong ke barat, suasana di Jabal Al-Rahmah justru semakin syahdu. Jamaah bertahan dalam doa-doa panjang sambil berharap amal ibadah mereka diterima.
Bagi umat Muslim, Hari Arafah adalah momentum yang sangat istimewa. Tidak hanya bagi jamaah haji di tanah suci, tetapi juga bagi Muslim di seluruh dunia yang menjalankan puasa Arafah dan memperbanyak ibadah.
Di bukit sederhana itulah, jutaan harapan dipanjatkan setiap tahun. Jabal Al-Rahmah seakan menjadi saksi bisu tentang kerinduan manusia kepada ampunan dan kasih sayang Tuhan-Nya.
Dan ketika gema talbiyah terus berkumandang di Padang Arafah, dunia kembali menyaksikan bagaimana ibadah haji menyatukan manusia dari berbagai bangsa dalam satu ikatan keimanan yang sama.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang