KOMPAS.com – Fajar itu datang pelan di langit Yerusalem. Udara masih menyisakan dingin malam ketika gema takbir perlahan menggantikan dentang lonceng yang selama puluhan tahun mendominasi kota suci tersebut.
Hari itu, Jumat 27 Rajab 583 Hijriah, menjadi penanda sebuah peristiwa besar dalam sejarah Islam, pembebasan Masjid Al-Aqsa oleh Shalahuddin Al-Ayyubi.
Namun kemenangan itu tidak lahir dalam semalam. Ia adalah puncak dari perjalanan panjang, strategi matang, dan kesabaran yang ditempa selama bertahun-tahun.
Lahir dengan nama lengkap Yusuf bin Ayyub pada 532 H/1137 M di Tikrit, Shalahuddin tumbuh dalam lingkungan militer sekaligus religius.
Ayahnya, Najmuddin Ayyub, merupakan pejabat penting, sementara pamannya, Asaduddin Syirkuh, adalah panglima perang yang berpengaruh.
Dalam buku Para Panglima Perang Islam karya Rizem Aizid, disebutkan bahwa sejak muda, Shalahuddin dikenal bukan hanya karena kecakapannya di medan perang, tetapi juga karena kecenderungannya pada ilmu agama dan akhlak yang lembut.
Ia bukan tipe penakluk yang haus darah, melainkan pemimpin yang menjadikan jihad sebagai jalan pembebasan, bukan penghancuran.
Karier militernya mulai menanjak saat mengikuti ekspedisi ke Mesir bersama pamannya. Dari sinilah ia kemudian menjadi wazir, lalu mendirikan Dinasti Ayyubiyah, sebuah kekuatan besar yang kelak menjadi fondasi pembebasan Al-Aqsa.
Baca juga: Asal Usul Hormuz hingga Duel Khalid bin Walid yang Mengubah Sejarah
Selama hampir 88 tahun, Yerusalem berada di bawah kekuasaan pasukan Salib sejak jatuhnya kota itu pada 1099 M dalam peristiwa berdarah Perang Salib Pertama.
Ribuan kaum Muslimin dan Yahudi dibantai, sementara Masjid Al-Aqsa diubah fungsi dan kehilangan kesuciannya.
Dalam Al-Bidayah wa an-Nihayah, Ibnu Katsir menggambarkan betapa dalamnya luka umat Islam akibat peristiwa tersebut.
Yerusalem bukan sekadar kota, tetapi simbol spiritual yang mengikat sejarah kenabian dan peradaban Islam.
Kesadaran inilah yang perlahan tumbuh dalam diri Shalahuddin, bahwa pembebasan Al-Aqsa bukan hanya misi politik, tetapi panggilan iman.
Salah satu langkah paling krusial yang dilakukan Shalahuddin bukanlah menyerang, melainkan menyatukan.
Dunia Islam saat itu terpecah dalam berbagai dinasti dan konflik internal. Tanpa persatuan, mustahil menghadapi kekuatan besar pasukan Salib.
Dalam buku Strategi Shalahuddin Al-Ayyubi dalam Penaklukan Baitul Maqdis karya Amir Sahidin, dijelaskan bahwa Shalahuddin memulai langkahnya dengan konsolidasi kekuasaan di Mesir dan Syam.
Ia membangun stabilitas politik, memperkuat ekonomi, serta menanamkan semangat jihad melalui dakwah para ulama.
Masjid, majelis ilmu, dan khutbah Jumat menjadi sarana membangkitkan kesadaran kolektif umat. Para ulama berperan sebagai motor spiritual, sementara militer disiapkan secara sistematis.
Ibnu Katsir mencatat bahwa ketika kabar rencana pembebasan Al-Aqsa tersebar, kaum Muslimin dari berbagai wilayah datang dengan sukarela. Mereka bukan tentara bayaran, tetapi orang-orang yang digerakkan oleh keyakinan.
Baca juga: Usianya Belum 22 Tahun, Al-Fatih Taklukkan Kota yang Dianggap Mustahil
Alih-alih menyerang secara frontal, Shalahuddin memilih strategi yang lebih kompleks: pengepungan total. Ia memahami bahwa Yerusalem memiliki benteng kuat dan dukungan logistik dari laut.
Langkah pertama adalah menguasai wilayah-wilayah strategis di sekitar Yerusalem, termasuk daerah pesisir. Dengan ini, jalur bantuan pasukan Salib dari Eropa dapat diputus.
Armada laut dari Mesir dikerahkan untuk memblokade pergerakan kapal musuh. Ini menjadi langkah penting yang sering luput dari perhatian, karena menunjukkan bahwa Shalahuddin tidak hanya unggul di darat, tetapi juga memahami pentingnya dominasi laut.
Di darat, ia memobilisasi pasukan dari berbagai wilayah, Mesir, Syam, hingga Jazirah Arab. Mereka bergerak dalam satu komando, sebuah hal yang jarang terjadi sebelumnya.
Kemenangan Shalahuddin juga tidak lepas dari pemanfaatan teknologi perang. Ia membawa berbagai alat berat seperti manjaniq (pelontar batu), bahan bakar, serta perlengkapan untuk meruntuhkan tembok kota.
Dalam catatan Amir Sahidin, disebutkan bahwa para insinyur memainkan peran vital. Mereka menganalisis struktur benteng, mencari titik lemah, dan menentukan posisi strategis untuk serangan.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa perang tidak hanya soal keberanian, tetapi juga ilmu dan perencanaan.
Kombinasi antara kekuatan militer, teknologi, dan strategi menjadi kunci keberhasilan pengepungan.
Pengepungan Yerusalem berlangsung selama sekitar 12 hari. Tekanan demi tekanan membuat pasukan Salib yang dipimpin oleh Balian dari Ibelin semakin terdesak.
Namun yang menarik, di tengah situasi genting, Shalahuddin tetap membuka ruang negosiasi. Ia tidak menginginkan pertumpahan darah seperti yang terjadi pada 1099.
Akhirnya, Balian menyerah dengan syarat keselamatan bagi penduduk kota. Shalahuddin menerima syarat tersebut.
Ia bahkan memberikan jaminan keamanan bagi warga Kristen, serta membebaskan banyak tawanan.
Dalam buku The Life of Saladin karya Beha ad-Din Ibn Shaddad, disebutkan bahwa sikap ini mencerminkan akhlak kepemimpinan Shalahuddin yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.
Baca juga: Harta Rampasan Perang Khalid vs Hormuz: Fakta yang Jarang Dibahas
Saat memasuki Yerusalem, tidak ada pembantaian. Tidak ada balas dendam. Yang ada justru pembersihan Masjid Al-Aqsa dan pengembalian fungsinya sebagai tempat ibadah.
Karpet digelar, adzan kembali dikumandangkan, dan kota suci itu kembali hidup dalam nuansa spiritual Islam.
Peristiwa ini menjadi kontras tajam dengan tragedi 1099. Jika pasukan Salib masuk dengan pedang terhunus, Shalahuddin masuk dengan hati yang lapang.
Dalam perspektif sejarah, inilah salah satu contoh langka kemenangan yang tidak diwarnai kekejaman.
Pembebasan Al-Aqsa oleh Shalahuddin bukan hanya peristiwa militer, tetapi juga simbol peradaban.
Ia menunjukkan bahwa kekuatan sejati tidak hanya terletak pada senjata, tetapi pada persatuan, strategi, dan nilai moral.
Dalam kajian modern, banyak sejarawan melihat Shalahuddin sebagai figur yang mampu menggabungkan antara kepemimpinan militer dan spiritual. Ia bukan hanya penakluk, tetapi juga pembangun.
Warisan ini tetap relevan hingga hari ini. Di tengah dunia yang penuh konflik, kisah Shalahuddin menawarkan pelajaran tentang bagaimana kekuatan dapat digunakan dengan bijak.
Kisah pembebasan Al-Aqsa adalah pengingat bahwa perubahan besar tidak terjadi secara instan. Ia membutuhkan proses panjang, kesabaran, dan keyakinan.
Shalahuddin tidak hanya memenangkan perang, tetapi juga memenangkan hati manusia. Ia membuktikan bahwa kemenangan sejati adalah ketika keadilan dan kemanusiaan berjalan beriringan.
Di balik tembok-tembok tua Yerusalem, sejarah itu masih berbisik. Tentang seorang pemimpin yang datang bukan untuk menghancurkan, tetapi untuk membebaskan. Dan mungkin, di situlah letak kekuatan sejati sebuah peradaban.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang