Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Khutbah Jumat 10 April 2026: Ramadhan Berlalu, Ujian Dimulai di Syawal: Apakah Ibadah Masih Terjaga?

Kompas.com, 10 April 2026, 08:57 WIB
Add on Google
Khairina

Editor

Sumber MUI

KOMPAS.com-Ramadhan telah berlalu, tetapi ujian sesungguhnya justru dimulai hari ini.

Apakah semangat ibadah tetap hidup, atau perlahan memudar tanpa disadari.

Syawal menjadi cermin keimanan, sekaligus penentu apakah Ramadhan benar-benar membekas dalam hati.

Seperti dalam khotbah Jumat yang dari KH Sobrun Jamili, S.Pd, Sekretaris 4 MUI Kota Tangerang berikut ini:

Khutbah I

اَلسَّلامُ عَليْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ

أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ أُوْصِيْكُمْ وَاِيَّايَ بِتَقْوَى اللّٰهِ تَعَالٰى وَطَاعَتِهِ بِاِمْتِثَالِ أَوَامِرِهِ وَاجْتِنَابِ نَوَاهِيْهِ. قَالَ اللّٰهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ، وقَالَ اللّٰه تَعَالٰى: فَاسْتَقِمْ كَمَآ اُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْاۗ اِنَّهٗ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Saya berwasiat kepada diri saya pribadi dan kepada jamaah sekalian untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi semua yang dilarang oleh Allah SWT.

Baca juga: 5 Rukun Khutbah Jumat yang Wajib Dipenuhi, Jangan Sampai Terlewat!

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Kita telah melewati bulan Ramadhan, bulan penuh ampunan dan keberkahan. Kini kita akan menuju penghujung bulan Syawal 1447 H. Ada satu hal penting yang patut direnungkan bersama. Mari kita bertanya pada diri sendiri: Apakah amal kita meningkat setelah Ramadhan, atau justru menurun?

Allah SWT berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.” (QS. Ali Imran: 102)

Ketahuilah, bahwa ketakwaan bukanlah amaliah yang bersifat musiman, bukan hanya pada bulan tertentu saja. Ketakwaan harus terus dijaga hingga akhir hayat kita.

Imam Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah mengatakan bahwa balasan dari satu kebaikan adalah kebaikan berikutnya, dan balasan dari satu keburukan adalah keburukan setelahnya.

Artinya, jika Ramadhan kita baik, maka tanda diterimanya adalah kita tetap istiqamah setelahnya. Syawal bukanlah akhir, tapi sepatutnya dimaknai sebagai awal peningkatan.

Rasulullah SAW bersabda:

أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللّٰهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

Artinya: “Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang terus-menerus walaupun sedikit.” (HR Bukhari dan Muslim)

Baca juga: Khutbah Jumat: Keutamaan Silaturahmi dan Memaafkan Sesama

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Syawal juga merupakan bulan pembuktian. Setelah sebulan penuh ditempa oleh ibadah di bulan Ramadhan, seorang Muslim diuji apakah semangat kebaikan itu masih terus hidup atau perlahan memudar.

Di bulan Ramadhan, masjid-masjid dipenuhi oleh kaum muslimin yang menjaga shalat berjamaah, lisan terbiasa basah dengan tilawah Alquran, dan tangan begitu ringan untuk bersedekah. Namun, ketika Ramadhan berlalu dan memasuki bulan Syawal, di situlah terlihat siapa yang benar-benar menjaga hasil didikan Ramadhan.

Syawal seakan bertanya kepada setiap hati: Apakah shalat berjamaah kita tetap terjaga seperti saat Ramadhan? Apakah tilawah Alquran masih menjadi kebiasaan harian? Apakah sedekah masih mengalir sebagaimana ketika hati begitu lembut di bulan puasa?

Sejatinya, keberhasilan Ramadhan tidak hanya terlihat pada kesungguhan ibadah selama sebulan, tetapi pada kemampuan mempertahankan kebaikan setelah Ramadhan berlalu. Itulah tanda bahwa Ramadhan benar-benar meninggalkan bekas dalam hati dan kehidupan seorang hamba.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Bahkan Rasulullah SAW menganjurkan puasa enam hari di bulan Syawal. Beliau bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

Artinya: “Barang siapa berpuasa Ramadhan kemudian diikuti enam hari di bulan Syawal, maka seperti puasa sepanjang tahun.” (HR Muslim)

Betapa besar rahmat Allah kepada umat Islam. Setelah menjalani ibadah puasa selama sebulan penuh di bulan Ramadhan, Allah masih membuka peluang pahala yang luar biasa melalui puasa enam hari di bulan Syawal.

Dengan menunaikan puasa enam hari tersebut, seorang muslim seakan mendapatkan pahala seperti berpuasa sepanjang tahun. Hal ini karena setiap amal kebaikan dilipatgandakan sepuluh kali lipat: puasa Ramadhan setara dengan sepuluh bulan, sementara enam hari di Syawal setara dengan dua bulan, sehingga genap seperti setahun penuh.

Semangat beribadah tidak seharusnya berhenti setelah Ramadhan berakhir. Puasa enam hari di bulan Syawal menjadi tanda kesinambungan ketaatan, bukti bahwa seorang hamba tetap menjaga semangat ibadahnya meskipun Ramadhan telah berlalu.

Ini adalah salah satu bentuk peningkatan spiritual setelah Ramadhan. Masih ada tujuh hari kedepan waktu yang tersisa dibulan Syawal ini, semoga Allah mudahkan kita semua untuk bisa memaksimalkannya.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Sebagian ulama berkata bahwa barang siapa yang amal kebaikannya setelah Ramadhan lebih baik daripada sebelumnya, maka itu tanda diterima. Dan siapa yang kembali kepada maksiat, maka itu tanda kerugian.

Allah SWT mengingatkan:

وَلَا تَكُونُوا كَالَّتِي نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ أَنْكَاثًا

Artinya: “Dan janganlah kamu seperti perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat menjadi cerai-berai kembali.” (QS. An-Nahl: 92)

Allah mengajarkan agar manusia menjaga apa yang telah dibangun dengan kebaikan; menjaga iman setelah mendapat hidayah, menjaga persaudaraan setelah terjalin, serta menjaga janji dan amanah setelah diikrarkan.

Seorang mukmin sejati tidak hanya berusaha melakukan kebaikan, tetapi juga berusaha mempertahankan kebaikan itu hingga akhir hidupnya. Ia tidak ingin amalnya runtuh karena kesalahan yang ia lakukan sendiri.

Melalui ayat tadi, Allah mengingatkan kita untuk selalu istiqamah, menjaga janji, dan mempertahankan amal saleh, agar kehidupan tidak menjadi seperti benang yang telah dipintal kuat tetapi kemudian diuraikan kembali menjadi sia-sia.

Jangan sampai kita rajin beribadah di bulan Ramadhan, lalu kembali lalai setelahnya. Karena keistiqamahan kita dalam melaksanakan ibadah dan amal kebaikan lainnya, melanjutkan semangat Ramadhan di bulan Syawal adalah sebuah indikasi diterimanya amaliyah Ramadhan kita.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Sesuai dengan artinya secara etimologis, Syawal adalah bulan peningkatan; peningkatan iman, peningkatan ibadah, peningkatan akhlak, peningkatan silaturahim dan peningkatan segala amal baik lainnya. Termasuk juga peningkatan terhadap tekad kita dalam menghindarkan diri dari segala bentuk kemaksiatan.

Maka di penghujung bulan Syawal ini, marilah kita berusaha untuk:

1. Istiqamah dalam ibadah wajib. Jangan sampai setelah Ramadhan shalat kita kembali lalai.
2. Menjaga amalan sunnah, seperti shalat sunnah, tilawah Alquran, puasa Syawal dan puasa sunnah lainnya.
3. Melanjutkan kebiasaan sedekah secara rutin walau sedikit.
4. Berkumpul dengan orang-orang saleh, karena lingkungan sangat mempengaruhi keimanan kita.
5. Menyambung tali silaturahim. Karena kita baru saja merayakan Idul Fitri, mari jadikan momen saling memaafkan sebagai awal memperbaiki hubungan dengan sesama, termasuk di dalamnya menjaga lidah dan akhlak dalam pergaulan.
6. Menjauhi maksiat karena tanda diterimanya amal adalah semakin menjauhnya kita dari dosa
7. Dan segala bentuk amar ma’ruf nahi munkar sesuai tuntunan syariat agama kita, agama Islam.

Dengan demikian, kita telah menjadikan Syawal sebagai momentum untuk menjaga konsistensi ibadah dan meningkatkan kualitas iman sebagai bukti bahwa kita adalah hamba yang istiqamah.

Allah SWT berfirman:

فَاسْتَقِمْ كَمَآ اُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْاۗ اِنَّهٗ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ

Artinya: “Maka tetaplah engkau (Muhammad) (di jalan yang benar), sebagaimana telah diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang bertobat bersamamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sungguh, Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Hud: 112)

Hadirin yang Berbahagia,

Istiqamah, itulah inti peningkatan. Istiqamah bukan hanya semangat beribadah pada waktu-waktu tertentu, tetapi juga kemampuan menjaga ketaatan secara terus-menerus dalam kehidupan. Tetap menjalankan perintah Allah, menjauhi larangan-Nya, serta tidak tergoda untuk menyimpang dari jalan yang lurus.

Karena itu, seorang mukmin tidak hanya memulai kebaikan, tetapi juga menjaga dan mempertahankannya. Ia berusaha tetap berada di jalan yang benar dalam setiap keadaan, hingga akhirnya menghadap Allah dalam keadaan membawa iman dan amal saleh.

Semoga Allah menerima amal Ramadhan kita dan memberi kekuatan untuk istiqamah hingga bertemu Ramadhan berikutnya.

بَارَكَ اللّٰهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْأَنِ الْكَرِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْم، وَتَقَبَّلَ اللّٰهُ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيْمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah II

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هٰذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَٰنِ وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ وَٱلۡبَغۡيِۚ يَعِظُكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ، فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Pembayaran Dam Jemaah Haji Indonesia Dikelola Resmi, Kemenhaj Sebut Jadi Sejarah
Pembayaran Dam Jemaah Haji Indonesia Dikelola Resmi, Kemenhaj Sebut Jadi Sejarah
Aktual
Haji 2026, Suhu Makkah Diprediksi Tembus 47 Derajat Celsius
Haji 2026, Suhu Makkah Diprediksi Tembus 47 Derajat Celsius
Aktual
Haji Gratis dari Raja Salman: 42 WNI Berangkat dari Jakarta ke Makkah
Haji Gratis dari Raja Salman: 42 WNI Berangkat dari Jakarta ke Makkah
Aktual
Pidato Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei 2026 Perspektif Islam: Menjaga Tunas Bangsa dan Kedaulatan Ruhani
Pidato Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei 2026 Perspektif Islam: Menjaga Tunas Bangsa dan Kedaulatan Ruhani
Aktual
Kisah Ummu Mihjan, Marbot Perempuan di Masjid Nabawi yang Dimuliakan Rasulullah
Kisah Ummu Mihjan, Marbot Perempuan di Masjid Nabawi yang Dimuliakan Rasulullah
Aktual
Puasa Sunnah Tarwiyah, dan Arafah Sebelum Idul Adha 2026: Tanggal, Niat, dan Tata Caranya
Puasa Sunnah Tarwiyah, dan Arafah Sebelum Idul Adha 2026: Tanggal, Niat, dan Tata Caranya
Aktual
Doa Niat Berkurban Idul Adha Lengkap dengan Waktu Membacanya
Doa Niat Berkurban Idul Adha Lengkap dengan Waktu Membacanya
Doa dan Niat
MUI Desak Pemerintah Selamatkan WNI yang Ditangkap Israel saat Jalani Misi Kemanusiaan Gaza
MUI Desak Pemerintah Selamatkan WNI yang Ditangkap Israel saat Jalani Misi Kemanusiaan Gaza
Aktual
Mengenal JULEHA, Juru Sembelih Halal yang Berperan Penting saat Idul Adha
Mengenal JULEHA, Juru Sembelih Halal yang Berperan Penting saat Idul Adha
Aktual
Kemenhaj Matangkan Skema Armuzna 2026, Atur Pergerakan Jamaah di Fase Puncak Haji
Kemenhaj Matangkan Skema Armuzna 2026, Atur Pergerakan Jamaah di Fase Puncak Haji
Aktual
Kisah Marbot Masjid Asal Bulukumba Berangkat Haji dari Menabung Hasil Panen Sawah
Kisah Marbot Masjid Asal Bulukumba Berangkat Haji dari Menabung Hasil Panen Sawah
Aktual
Orang Tua Wajib Tahu, Doa agar Anak Dimudahkan Saat Ujian Sekolah
Orang Tua Wajib Tahu, Doa agar Anak Dimudahkan Saat Ujian Sekolah
Aktual
Tidak Hanya Kurban, Ini 7 Tradisi Unik Idul Adha di Indonesia
Tidak Hanya Kurban, Ini 7 Tradisi Unik Idul Adha di Indonesia
Aktual
5 Toko Oleh-oleh Haji di Jogja Terlengkap, Cocok untuk Belanja Sesuai Budget
5 Toko Oleh-oleh Haji di Jogja Terlengkap, Cocok untuk Belanja Sesuai Budget
Aktual
 5 Toko Oleh-oleh Haji Terlengkap di Semarang, Ada Air Zamzam dan Kurma
5 Toko Oleh-oleh Haji Terlengkap di Semarang, Ada Air Zamzam dan Kurma
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com