KOMPAS.com – Kemenangan kaum Muslim dalam Perang Dzatus Salasil tidak hanya dikenang sebagai keberhasilan militer, tetapi juga membuka lembaran penting tentang bagaimana kekuatan ekonomi dapat terbentuk dari hasil peperangan.
Di balik duel antara Khalid bin Walid dan Hormuz, tersimpan fakta menarik mengenai harta rampasan perang (ghanimah) yang menjadi salah satu penopang ekspansi Islam pada masa awal.
Jika selama ini kisah duel dan strategi perang lebih sering disorot, maka sisi ekonomi dari kemenangan tersebut justru menyimpan dimensi lain yang tak kalah penting, yaitu bagaimana kemenangan itu mengubah peta kekuatan, bukan hanya secara militer, tetapi juga finansial.
Baca juga: 4 Perang Besar di Bulan Syawal dalam Sejarah Islam, dari Perang Uhud hingga Thaif
Dalam tradisi Islam, ghanimah bukan sekadar hasil perebutan harta dari pihak lawan. Ia memiliki aturan, nilai, dan tujuan yang jelas.
Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa harta rampasan perang harus dikelola dengan prinsip keadilan, di mana sebagian dialokasikan untuk kepentingan umum, sementara sisanya dibagikan kepada para prajurit.
Dalam buku Fiqh Sunnah karya Sayyid Sabiq, dijelaskan bahwa ghanimah menjadi salah satu instrumen penting dalam menjaga keberlangsungan pasukan, sekaligus memperkuat solidaritas di antara mereka.
Artinya, hasil perang tidak hanya dinikmati individu, tetapi juga berfungsi sebagai fondasi pembangunan kekuatan kolektif.
Baca juga: Iran Buka Jalur Bantuan Kemanusiaan di Selat Hormuz
Kekaisaran Persia Sassaniyah dikenal sebagai salah satu peradaban paling makmur pada masanya.
Kemewahan istana, perlengkapan perang yang canggih, hingga logistik yang melimpah menjadi ciri khas mereka.
Dalam kitab Al-Bidayah wan Nihayah karya Ibnu Katsir, disebutkan bahwa setelah kekalahan pasukan Hormuz, kaum Muslim berhasil menguasai harta dalam jumlah besar, bahkan disebut mencapai beban setara ribuan pikulan unta.
Jumlah tersebut bukan hanya menunjukkan skala kekayaan Persia, tetapi juga menggambarkan betapa besar dampak ekonomi dari satu kemenangan militer.
Barang-barang yang ditinggalkan di medan perang meliputi emas, perak, perlengkapan militer, hingga perbekalan logistik.
Dalam perspektif sejarah, ini menjadi salah satu momen awal di mana kekuatan ekonomi Persia mulai berpindah tangan secara signifikan.
Baca juga: Kisah Heroik Dua Anak Muda Menghabisi Abu Jahal di Perang Badar
Pertanyaan yang sering muncul adalah mengapa harta rampasan perang dalam jumlah besar bisa ditinggalkan begitu saja?
Jawabannya terletak pada strategi dan kondisi di medan perang. Dalam buku Tarikh al-Tabari karya Al-Tabari, dijelaskan bahwa kekalahan pasukan Hormuz berlangsung relatif cepat setelah struktur komando mereka runtuh.
Salah satu faktor utama adalah penggunaan rantai pada pasukan Persia. Strategi ini memang dimaksudkan untuk mencegah mereka melarikan diri, tetapi justru menjadi kelemahan fatal ketika formasi mulai kacau.
Ketika Hormuz tewas dalam duel, kepemimpinan pasukan langsung goyah. Dalam situasi panik, banyak prajurit tidak mampu bergerak cepat karena terikat, sehingga meninggalkan perlengkapan dan harta mereka demi menyelamatkan diri.
Baca juga: Jejak Kota Ubullah: Pelabuhan Persia yang Ditaklukkan Khalid bin Walid, Kini Tinggal Nama
Kemenangan ini memberikan keuntungan strategis yang besar bagi pasukan yang dipimpin Khalid bin Walid. Tidak hanya secara moral, tetapi juga secara logistik.
Dalam buku Panglima Perang Islam karya Mahmud Syit Khattab, dijelaskan bahwa keberhasilan memperoleh ghanimah dalam jumlah besar memungkinkan pasukan Muslim untuk memperkuat perlengkapan, meningkatkan kesejahteraan prajurit, serta memperluas jangkauan ekspansi.
Harta tersebut digunakan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari persenjataan, logistik, hingga dukungan terhadap keluarga prajurit.
Ini menjadi salah satu faktor yang membuat pasukan Muslim mampu bergerak cepat ke wilayah lain seperti Al-Hirah dan sekitarnya.
Berbeda dengan praktik perang pada umumnya di masa itu, Islam menetapkan aturan yang jelas dalam pembagian ghanimah. Tidak semua harta menjadi milik individu atau panglima.
Sebagaimana dijelaskan dalam berbagai literatur fikih, termasuk karya Imam Nawawi, pembagian ghanimah dilakukan secara proporsional.
Sebagian (khumus) diserahkan untuk kepentingan negara dan umat, sementara sisanya dibagikan kepada para prajurit yang terlibat langsung dalam pertempuran.
Sistem ini menciptakan keadilan sekaligus menjaga stabilitas sosial di dalam pasukan.
Baca juga: Khalid bin Walid, Dari Lawan Tangguh Menjadi Pedang Allah
Harta rampasan dari Perang Dzatus Salasil tidak bisa dipahami hanya sebagai kekayaan materi. Ia juga menjadi simbol pergeseran kekuasaan dari Persia ke tangan kaum Muslim.
Dalam buku The Great Arab Conquests karya Hugh Kennedy, disebutkan bahwa kemenangan-kemenangan awal seperti ini memiliki dampak psikologis yang besar, baik bagi pihak Muslim maupun lawannya.
Bagi kaum Muslim, kemenangan ini memperkuat keyakinan dan kepercayaan diri. Sementara bagi Persia, kekalahan ini menjadi tanda awal melemahnya dominasi mereka di kawasan tersebut.
Menariknya, dalam perspektif Islam, ghanimah tidak hanya dipandang sebagai keuntungan duniawi. Ia juga memiliki dimensi spiritual.
Para ulama menekankan bahwa kemenangan dan harta yang diperoleh harus disyukuri dan dimanfaatkan dengan cara yang benar. Tanpa itu, kemenangan justru bisa menjadi ujian.
Dalam konteks ini, Khalid bin Walid dikenal sebagai sosok yang tidak terikat pada harta. Fokus utamanya tetap pada misi dan tanggung jawab, bukan pada keuntungan pribadi.
Jika ditarik lebih jauh, fakta tentang harta rampasan perang ini menunjukkan bahwa sejarah tidak hanya dibentuk oleh kemenangan di medan tempur, tetapi juga oleh bagaimana hasil kemenangan itu dikelola.
Perang Dzatus Salasil menjadi contoh bagaimana satu peristiwa dapat mengubah banyak hal sekaligus dari strategi militer, keseimbangan kekuatan, hingga fondasi ekonomi.
Kisah ini juga mengingatkan bahwa dalam setiap kemenangan, selalu ada konsekuensi yang lebih luas dari sekadar hasil pertempuran.
Ada perubahan struktur, ada perpindahan kekuasaan, dan ada pelajaran yang terus relevan hingga hari ini.
Dan mungkin, di situlah letak sisi menariknya bahwa di balik denting pedang dan strategi perang, tersimpan kisah tentang bagaimana sebuah peradaban mulai bangkit, satu kemenangan demi kemenangan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang