Makkah, KOMPAS.com - Rencana pembangunan Kampung Haji di Makkah sebagai kawasan terpadu bagi jemaah Indonesia terus dimatangkan. Di balik rencana ini, rupanya inisiasi tersebut terinspirasi dari jejak sejarah Aceh sejak lebih dari dua abad silam.
Kisah ini berpusat pada sosok dermawan bernama Habib Abdurrahman bin Alwi Al-Habsyi, atau yang lebih dikenal sebagai Habib Bugak Asyi.
Pada tahun 1224 Hijriah (1809 Masehi), di hadapan Hakim Mahkamah Syariah Makkah, ia mengikrarkan sebuah wakaf bersejarah, yaitu Wakaf Baitul Asyi, yang manfaat finansialnya masih terus mengalir dan dirasakan oleh jemaah haji asal Aceh hingga detik ini.
“Jadi Pak Prabowo menginisiasi Kampung Haji itu salah satu inspirasinya adalah apa yang dilakukan oleh Habib Bugak,” ujar Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj), Dahnil Anzar Simanjuntak, Kamis (21/5/2026).
Baca juga: Rumah Hancur Diterjang Banjir Aceh, Hartati Akhirnya Bisa Berangkat Haji
Hal ini terungkap ketika Wamenhaj melakukan kunjungan ke Hotel Burj Al Wahda Almutamayiz di Sektor 6 Makkah pada Kamis malam hingga Jumat. Kedatangannya disambut hangat oleh Imam Masjid Raya Baiturrahman Aceh, Abu Paya Pasi, beserta belasan ribu jemaah.
Hotel megah tersebut menjadi 'rumah sementara' bagi 53 kelompok terbang (kloter) yang terdiri dari lebih dari 11 ribu jemaah. Secara rincian, penghuni hotel ini berasal dari dua titik keberangkatan utama, yakni Embarkasi Aceh (BJT) dan Embarkasi Medan (KNO).
Di hadapan para jemaah, Dahnil yang juga putra kelahiran Tamiang, Aceh, menyampaikan kekagumannya atas kelestarian wakaf yang dijaga ketat oleh Kerajaan Arab Saudi tersebut.
“Habib Bugak telah lebih dari 200 tahun memberikan teladan bantuan yang terus memberi manfaat bagi warga Aceh,” ujarnya.
Baca juga: Tradisi Peusijuek Antar Jemaah Haji Asal Aceh besar Sebelum Berangkat ke Tanah Suci
Kontribusi Aceh bagi perhajian dan republik tidak hanya berhenti pada Wakaf Baitul Asyi. Keberadaan replika pesawat di Asrama Haji Aceh menjadi pengingat tentang sejarah kemerdekaan Indonesia.
Pesawat Seulawah, yang dibeli dari hasil patungan emas dan harta rakyat Aceh pada Juni 1948, merupakan embrio dari maskapai penerbangan nasional Garuda Indonesia.
“Jadi Aceh juga punya sejarah panjang buat perhajian Indonesia,” sebut Dahnil.
Secara geografis, Aceh adalah provinsi terdekat dengan Arab Saudi. Pada masa lampau, wilayah ini menjadi titik embarkasi pertama sekaligus tempat transit bagi jemaah haji Nusantara sebelum bertolak ke Tanah Suci.
“Makanya Aceh disebut serambi Makkah karena terdekat itu adalah dari Aceh,” ungkapnya.
Baca juga: Jamaah Haji Aceh Terima Dana Wakaf Baitul Asyi Rp 9,3 Juta per Orang
Dahnil juga menyoroti kegigihan dan semangat luar biasa jemaah asal Aceh. Meski wilayah mereka baru saja dilanda musibah, hal tersebut tidak menyurutkan niat suci mereka untuk menyempurnakan Rukun Islam kelima.
“Kami sempat ragu pelunasan haji dari Aceh itu akan turun. Tapi ternyata salah satu pelunasan Haji yang relatif cepat itu adalah Aceh," tambahnya.
Bagi masyarakat Aceh, menunaikan ibadah haji lebih dari sekadar perjalanan spiritual. Ada nilai-nilai yang terjalin erat dengan identitas mereka.
“Jadi sebenarnya dalam konteks haji bagi rakyat Aceh itu seperti kebanggaan, kehormatan, martabat dan penyempurnalah dalam berislam,” jelasnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang