KOMPAS.com - Bulan Dzulhijjah menjadi salah satu momentum penting bagi umat Islam untuk memperkuat ketakwaan sekaligus memperbaiki hubungan sosial dengan sesama manusia.
Melalui ibadah kurban, Islam tidak hanya mengajarkan kepatuhan kepada Allah Swt., tetapi juga menanamkan nilai keikhlasan, kepedulian, dan semangat berbagi kepada mereka yang membutuhkan.
Kurban menjadi simbol pengorbanan hati, pengendalian ego, serta bentuk nyata kasih sayang terhadap sesama.
Di tengah kehidupan modern yang semakin sibuk dan cenderung individualistis, nilai-nilai kebersamaan perlahan mulai memudar.
Tidak sedikit orang lebih fokus pada kepentingan pribadi hingga lupa memperhatikan kondisi lingkungan sekitarnya.
Oleh karena itu, semangat kurban perlu dihidupkan kembali sebagai sarana membangun empati sosial, mempererat ukhuwah Islamiyah, dan menumbuhkan budaya saling membantu dalam kehidupan bermasyarakat.
Naskah khutbah Jumat ini berjudul: “Khutbah Jumat 22 Mei 2026: Mengorbankan Ego, Menebar Kepedulian melalui Semangat Kurban”. Khutbah ini mengajak jamaah untuk menjadikan ibadah kurban bukan sekadar ritual tahunan, tetapi juga sebagai pelajaran hidup tentang keikhlasan, solidaritas, dan kepedulian sosial.
Semoga materi khutbah ini dapat menjadi pengingat bagi umat Islam untuk terus menebarkan manfaat dan memperkuat rasa persaudaraan di tengah masyarakat.
Baca juga: Contoh Khutbah Idul Adha 2026 dalam Bahasa Jawa Lengkap dengan Doa
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْإِسْلَامَ دِيْنًا قَائِمًا عَلَى الرَّحْمَةِ وَالتَّكَافُلِ وَالْمَحَبَّةِ بَيْنَ الْعِبَادِ، وَفَضَّلَ بَعْضَ الْأَيَّامِ وَالشُّهُوْرِ لِيَكُوْنَ فِيْهَا مَيْدَانُ الطَّاعَاتِ وَالْقُرُبَاتِ. نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَلَى جَمِيْعِ نِعَمِهِ الظَّاهِرَةِ وَالْبَاطِنَةِ، وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَنَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، النَّبِيُّ الَّذِيْ عَلَّمَنَا مَعْنَى الْإِيْمَانِ وَالْإِحْسَانِ وَالْإِخْلَاصِ فِي الْعِبَادَةِ.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ:
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ
Artinya: “Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, lalu Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah ialah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13).
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Marilah kita panjatkan rasa syukur kepada Allah Swt. atas segala nikmat yang telah Dia limpahkan kepada kita. Nikmat kesehatan, kesempatan hidup, iman, Islam, keluarga, rezeki, dan kesempatan menghadiri shalat Jumat ini merupakan karunia yang tidak ternilai harganya. Tidak sedikit manusia yang hidup bergelimang harta, tetapi hatinya kosong dari ketenangan. Tidak sedikit pula yang memiliki kedudukan tinggi, tetapi hidupnya jauh dari keberkahan.
Oleh karena itu, nikmat terbesar dalam hidup seorang Muslim bukan sekadar kekayaan atau kemewahan dunia, melainkan hati yang dekat kepada Allah Swt. dan jiwa yang peduli terhadap sesama manusia.
Baca juga: Khutbah Jumat Menyentuh Hati: Cahaya Keadilan bagi Kaum yang Lemah
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Kita saat ini berada di bulan Dzulhijjah, salah satu bulan mulia dalam Islam. Bulan ini mengingatkan umat Islam pada kisah agung Nabi Ibrahim as. dan Nabi Ismail as., kisah tentang keikhlasan, pengorbanan, dan kepatuhan total kepada Allah Swt. Dari peristiwa itu, umat Islam belajar bahwa cinta kepada Allah harus berada di atas segala-galanya.
Namun demikian, ibadah kurban tidak hanya mengajarkan penyembelihan hewan semata. Kurban sejatinya adalah pendidikan jiwa agar manusia mampu mengorbankan sifat-sifat buruk yang ada dalam dirinya. Egoisme harus dikorbankan. Kesombongan harus dikorbankan. Rasa tamak dan cinta dunia yang berlebihan juga harus dikorbankan.
Di zaman modern seperti sekarang, tantangan terbesar manusia bukan hanya persoalan ekonomi, tetapi juga krisis kepedulian sosial. Banyak orang hidup dalam keramaian, tetapi merasa kesepian. Banyak orang terhubung melalui media sosial, tetapi hatinya jauh dari rasa empati.
Hari ini kita menyaksikan sebagian masyarakat lebih mudah menghabiskan uang untuk gaya hidup dan hiburan, tetapi berat mengeluarkan sedekah untuk fakir miskin. Ada yang rela membeli barang mahal demi gengsi, tetapi lalai membantu keluarganya sendiri yang sedang kesulitan.
Padahal Rasulullah Saw. telah mengingatkan bahwa seorang Muslim sejati ialah mereka yang mampu menghadirkan manfaat bagi orang lain. Rasulullah Saw. bersabda:
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
Artinya: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR Ahmad).
Baca juga: 3 Contoh Khutbah Idul Adha 2026 tentang Keikhlasan dan Pengorbanan
Hadis ini mengajarkan bahwa ukuran kemuliaan seseorang bukan pada banyaknya harta, jabatan, atau popularitasnya, melainkan pada manfaat yang ia berikan kepada sesama.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Islam adalah agama yang sangat menekankan kepedulian sosial. Dalam Al-Qur’an, Allah Swt. berkali-kali memerintahkan manusia untuk membantu fakir miskin, menyantuni anak yatim, dan menolong orang-orang yang membutuhkan.
Allah Swt. berfirman:
وَاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتُوا الزَّكٰوةَ وَمَا تُقَدِّمُوْا لِاَنْفُسِكُمْ مِّنْ خَيْرٍ تَجِدُوْهُ عِنْدَ اللّٰهِ
Artinya: “Dirikanlah salat, tunaikanlah zakat, dan segala kebaikan yang kamu kerjakan untuk dirimu, niscaya kamu mendapat balasannya di sisi Allah.” (QS. Al-Baqarah: 110).
Ayat tersebut menunjukkan bahwa ibadah dalam Islam tidak hanya bersifat vertikal kepada Allah, tetapi juga harus diwujudkan dalam hubungan sosial antarmanusia. Orang yang rajin salat tetapi enggan membantu sesama belum sempurna kesalehannya.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Momentum Idul Adha mengajarkan pentingnya membangun solidaritas sosial. Ketika daging kurban dibagikan kepada masyarakat, sesungguhnya Islam sedang mengajarkan pemerataan kebahagiaan. Orang-orang miskin yang jarang menikmati makanan layak ikut merasakan nikmat dan kegembiraan.
Karena itu, ibadah kurban tidak boleh berhenti hanya sebagai seremoni tahunan. Semangat berbagi harus terus hidup setelah Idul Adha berlalu. Jangan sampai kita hanya peduli pada sesama saat hari raya, tetapi kembali acuh setelahnya.
Dalam kehidupan sehari-hari, banyak bentuk pengorbanan yang dapat dilakukan. Membantu tetangga yang kesulitan, menyantuni anak yatim, menjaga lisan agar tidak menyakiti orang lain, memberi perhatian kepada orang tua, hingga membantu masyarakat yang tertimpa musibah merupakan bagian dari nilai pengorbanan yang diajarkan Islam.
Kita juga harus berhati-hati terhadap sifat cinta dunia yang berlebihan. Sebab, ketika manusia terlalu mencintai dunia, hatinya akan keras dan sulit peduli terhadap penderitaan orang lain.
Allah Swt. berfirman:
اَلْهٰىكُمُ التَّكَاثُرُۙ حَتّٰى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ
Artinya: “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.” (QS. At-Takatsur: 1–2).
Ayat ini menjadi peringatan agar manusia tidak terlena mengejar dunia hingga melupakan akhirat dan mengabaikan kewajiban sosialnya.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Mari kita jadikan bulan Dzulhijjah ini sebagai momentum memperbaiki diri. Mari kita hidupkan kembali budaya gotong royong, saling membantu, dan saling mendoakan. Jangan biarkan kehidupan modern menjadikan kita manusia yang individualistis dan kehilangan rasa kasih sayang.
Semoga Allah Swt. menjadikan kita hamba-hamba yang ikhlas dalam beribadah, ringan tangan membantu sesama, serta diberi hati yang penuh kasih dan kepedulian.
قَالَ اللهُ تَعَالَى:
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
Artinya: “Maka laksanakanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah.” (QS. Al-Kautsar: 2).
Semoga Allah menerima amal ibadah kita semua dan menjadikan kita termasuk golongan orang-orang yang bertakwa.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَاَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْبَشَرِ.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِيْنَ، وَاجْعَلْ قُلُوْبَنَا مُمْتَلِئَةً بِالرَّحْمَةِ وَالْمَحَبَّةِ وَالْإِخْلَاصِ.
اَللّٰهُمَّ وَفِّقْنَا لِلْإِنْفَاقِ فِيْ سَبِيْلِكَ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الَّذِيْنَ يُحِبُّوْنَ الْفُقَرَاءَ وَالْمَسَاكِيْنَ وَيَرْحَمُوْنَهُمْ.
اَللّٰهُمَّ احْفَظْ بِلَادَنَا إِنْدُوْنِيْسِيَا مِنَ الْفِتَنِ وَالْمِحَنِ وَالْبَلَايَا وَالْكَوارِثِ، وَاجْعَلْ هٰذَا الْبَلَدَ بَلَدًا آمِنًا مُطْمَئِنًّا وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.
فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang