Editor
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَمَرَ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ، وَنَهَى عَنِ الظُّلْمِ وَالطُّغْيَانِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، الصَّادِقُ الْأَمِينُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Marilah kita tingkatkan ketaqwaan kita kepada Allah SWT, dzat yang Maha Adil (al-Adl). Ketahuilah bahwa keadilan dalam Islam bukan sekadar konsep hukum yang kaku, melainkan napas kehidupan dan ajaran pokok bagi setiap Muslim. Keadilan adalah kunci utama untuk menciptakan manusia dan masyarakat yang bermartabat. Tanpa keadilan, suatu bangsa akan menjadi hina dan hancur.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Islam menempatkan keadilan sebagai bagian integral dari ketaqwaan. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Ma’idah ayat 8:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Tegakkanlah keadilan sebagai saksi karena Allah. Dan janganlah rasa benci mendorong kamu berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
Baca juga: Khutbah Jumat 8 Mei 2026: Nasihat untuk Berkata yang Baik atau Diam
Betapa agungnya ajaran ini. Allah memerintahkan kita untuk berlaku adil bahkan kepada orang yang kita benci sekalipun. Keadilan Islam melampaui batas suku, status ekonomi, hingga perbedaan keyakinan. Rasulullah SAW telah mencontohkan bahwa hak-hak non-Muslim pun harus dihormati dan dilindungi.
Jamaah yang dirahmati Allah,
Renungkanlah sebuah peristiwa yang menggetarkan hati saat Rasulullah SAW menegaskan ketegasan hukum Allah. Ketika beberapa orang mencoba memberikan syafaat atau keringanan bagi seorang wanita bangsawan yang mencuri, Rasulullah SAW bersabda dengan wajah yang memerah karena keseriusan beliau:
وَاَيْمُ اللهِ لَوْ اَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا
“Demi Allah, seandainya Fatimah binti Muhammad mencuri, niscaya aku sendiri yang akan memotong tangannya.” (HR. Bukhari).
Inilah keadilan sejati yang tidak pandang bulu. Beliau mengajarkan bahwa kehancuran umat-umat terdahulu disebabkan karena mereka membiarkan kaum bangsawan yang bersalah, namun menghukum dengan berat kaum yang lemah.
Sidang Jumat yang Berbahagia,
Keadilan juga harus dimulai dari diri sendiri dan keluarga terdekat kita. Allah SWT mengingatkan dalam Surah An-Nisa ayat 135:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَىٰ أَنفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ ۚ إِن يَكُنْ غَنِيًّا أَوْ فَقِيرًا فَاللَّهُ أَوْلَىٰ بِهِمَا
“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar menegakkan keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya.”.
Ayat ini mengetuk hati kita semua. Apakah kita sudah adil kepada anak-anak kita? Apakah kita sudah adil dalam pembagian warisan sesuai syariat, yang sejatinya mencerminkan keseimbangan hak dan tanggung jawab dalam keluarga? Ingatlah, keadilan adalah memberikan hak kepada pemiliknya dan menempatkan sesuatu pada tempatnya.
Marilah kita bermuhasabah. Keadilan adalah cahaya di hari kiamat, sedangkan kezaliman adalah kegelapan yang pekat. Semoga Allah SWT menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang teguh menegakkan mizan (timbangan) keadilan dalam setiap ucapan dan perbuatan kita.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ سَيِّدُ الْبَشَرِ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ خَيْرِ مَنْ لَبَّى وَكَبَّرَ.
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Sebagai penutup, marilah kita ingat bahwa keadilan seringkali bergandengan dengan Ihsan (kebajikan). Allah SWT berfirman:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ
“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan.” (QS. An-Nahl: 90).
Baca juga: Khutbah Jumat 8 Mei 2026: Hikmah di Balik Kisah Ulama yang Gagal Naik Haji
Keadilan adalah standar minimal, namun Ihsan adalah puncak kemuliaan. Orang yang adil akan memberikan hak orang lain dengan sempurna, namun orang yang Muhsin (berbuat ihsan) akan memberikan lebih dari kewajibannya karena ia merasa senantiasa diawasi oleh Allah SWT.
Marilah kita berdoa agar negeri kita, keluarga kita, dan hati kita senantiasa dipenuhi dengan cahaya keadilan.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ. اللَّهُمَّ اجْعَلْ بَلْدَتَنَا هَذَا بَلْدَةً طَيِّبَةً آمِنَةً مُطْمَئِنَّةً تَجْرِي فِيهَا الْعَدْلُ وَالْقِسْطُ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ، فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang