Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pilih Kambing Jantan atau Betina untuk Kurban? Ini Kata Ulama

Kompas.com, 8 Mei 2026, 16:00 WIB
Add on Google
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Menjelang Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah, umat Islam mulai mempersiapkan hewan terbaik untuk ibadah kurban.

Di pasar-pasar hewan, suasana pun semakin ramai oleh calon pembeli yang mencari sapi, kambing, maupun domba untuk disembelih pada hari raya kurban.

Namun di tengah proses memilih hewan kurban, sering muncul pertanyaan yang cukup umum di masyarakat: lebih utama memilih kambing jantan atau kambing betina untuk kurban?

Sebagian orang menganggap kambing jantan lebih afdal karena posturnya biasanya lebih besar dan terlihat gagah.

Di sisi lain, kambing betina kerap memiliki harga yang lebih terjangkau meski kondisinya sehat dan memenuhi syarat kurban.

Lalu bagaimana sebenarnya pandangan Islam soal kurban kambing jantan dan betina? Apakah salah satunya lebih utama? Berikut penjelasan lengkapnya.

Kambing Jantan dan Betina Sama-Sama Sah untuk Kurban

Dalam syariat Islam, kambing jantan maupun kambing betina sama-sama diperbolehkan dan sah dijadikan hewan kurban selama memenuhi syarat yang telah ditentukan.

Pendakwah Indonesia, Buya Yahya, pernah menjelaskan bahwa tidak ada larangan menggunakan kambing betina untuk ibadah kurban.

Menurutnya, anggapan bahwa kambing jantan selalu lebih utama sebagian besar muncul karena faktor kebiasaan masyarakat dan kondisi fisik hewan yang umumnya lebih besar.

“Sebetulnya itu hanya penafsirannya saja. Umumnya kalau kambing jantan gagah, besar, maka dianggap lebih utama,” ujar Buya Yahya dalam salah satu kajian yang ditayangkan kanal YouTube Al Bahjah TV.

Ia menegaskan bahwa apabila kambing betina memiliki ukuran lebih besar, lebih sehat, dan lebih bermanfaat untuk dibagikan kepada masyarakat, maka kambing betina justru bisa lebih diprioritaskan dibanding kambing jantan yang kecil atau kurus.

Pandangan tersebut sejalan dengan penjelasan para ulama fikih bahwa inti kurban bukan terletak pada jenis kelamin hewan, melainkan kualitas dan kelayakan hewan yang dipersembahkan karena Allah SWT.

Baca juga: Kurban Kambing untuk Satu Keluarga, Ini Ketentuan dan Hukumnya dalam Islam

Apa yang Lebih Utama dalam Memilih Hewan Kurban?

Dalam kitab Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab, Imam Nawawi menjelaskan bahwa hewan kurban terbaik adalah yang paling sempurna fisiknya, paling sehat, dan paling banyak manfaat dagingnya bagi penerima kurban.

Karena itu, ukuran, kesehatan, dan kualitas hewan menjadi pertimbangan penting dibanding sekadar memilih jantan atau betina.

Dalam buku Fiqih Sunnah karya Sayyid Sabiq dijelaskan bahwa hewan kurban sebaiknya dipilih dari hewan yang gemuk, sehat, tidak cacat, dan cukup umur sesuai ketentuan syariat.

Artinya, jika kambing betina lebih sehat dan lebih besar dibanding kambing jantan, maka tidak ada masalah menjadikannya sebagai hewan kurban.

Hal serupa juga diterangkan dalam buku Panduan Qurban dan Akikah karya Yusuf Qardhawi bahwa Islam sangat menekankan kualitas kurban sebagai bentuk ketakwaan dan penghambaan kepada Allah SWT.

Mengapa Kambing Jantan Sering Lebih Mahal?

Di banyak pasar hewan, kambing jantan memang cenderung dijual lebih mahal dibanding kambing betina.

Hal ini bukan semata karena aturan agama, tetapi lebih dipengaruhi faktor ekonomi dan budaya masyarakat.

Kambing jantan biasanya memiliki tubuh lebih besar, tanduk lebih menarik, dan dianggap lebih “gagah” sehingga banyak dicari untuk kurban.

Selain itu, sebagian peternak mempertahankan kambing betina untuk kebutuhan reproduksi ternak sehingga jumlah kambing betina yang dijual kadang lebih sedikit.

Meski demikian, para ulama menegaskan bahwa harga mahal tidak otomatis menjadikan hewan tersebut lebih utama di sisi Allah SWT jika tidak dibarengi niat ikhlas dan ketakwaan.

Baca juga: Kenapa Hewan Kurban Harus Jantan? Ini Penjelasan Syariat Islam dan Pandangan Ulama

Kurban adalah Simbol Ketakwaan

Dalam Al Quran, Allah SWT menegaskan bahwa yang sampai kepada-Nya bukanlah darah atau daging hewan kurban, melainkan ketakwaan orang yang berkurban.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Hajj ayat 37:

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.”

Ayat ini menunjukkan bahwa ibadah kurban sejatinya adalah bentuk penghambaan dan ketaatan seorang Muslim kepada Allah SWT.

Dalam buku Tafsir Al-Misbah, Quraish Shihab menjelaskan bahwa kurban bukan sekadar ritual penyembelihan hewan, melainkan latihan spiritual untuk menumbuhkan keikhlasan, kepedulian sosial, dan ketaatan kepada Allah SWT.

Kisah Nabi Ibrahim dan Makna Idul Adha

Hari Raya Idul Adha tidak bisa dipisahkan dari kisah pengorbanan Nabi Ibrahim dan putranya, Nabi Ismail.

Kisah tersebut menjadi simbol kepatuhan total seorang hamba kepada perintah Allah SWT.
Saat Nabi Ibrahim diperintahkan menyembelih putranya, beliau menjalankan perintah tersebut dengan penuh keikhlasan.

Namun sebelum penyembelihan terjadi, Allah SWT mengganti Nabi Ismail dengan seekor hewan sembelihan.

Peristiwa itulah yang kemudian diperingati umat Islam melalui ibadah kurban setiap Hari Raya Idul Adha.

Dalam buku Sejarah Ibadah karya Ali Syariati dijelaskan bahwa ibadah kurban mengandung pesan tentang pengorbanan, kepedulian sosial, dan perjuangan melawan sifat egois manusia.

Baca juga: Pemkot Padang Beri Tips Memilih Hewan Kurban, Cek Label Putih dan Tanda-tanda Ini

Syarat Hewan Kurban yang Perlu Diperhatikan

Selain memilih antara jantan atau betina, umat Islam juga perlu memastikan hewan kurban memenuhi syarat sah menurut syariat.

Berikut beberapa syarat umum hewan kurban:

  • Hewan ternak seperti kambing, domba, sapi, atau unta
  • Cukup umur sesuai ketentuan syariat
  • Sehat dan tidak cacat
  • Tidak kurus berlebihan
  • Memiliki kondisi fisik yang layak

Dalam hadis riwayat Abu Dawud, Rasulullah SAW melarang penggunaan hewan cacat untuk kurban, seperti hewan yang sakit parah, pincang, atau buta sebelah dengan jelas.

Karena itu, memilih hewan sehat jauh lebih penting dibanding hanya mempertimbangkan jenis kelamin hewan.

Jangan Galau Memilih Hewan Kurban

Menjelang Idul Adha, banyak orang merasa bingung ketika harus memilih antara kambing jantan atau betina.

Padahal, keduanya sama-sama sah dan diperbolehkan dalam Islam selama memenuhi syarat kurban.

Yang paling utama justru memilih hewan terbaik sesuai kemampuan, sehat, cukup umur, dan diniatkan ikhlas karena Allah SWT.

Sebab pada akhirnya, ibadah kurban bukan soal gengsi memilih hewan paling mahal, tetapi tentang ketakwaan dan kesungguhan seorang Muslim dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui pengorbanan terbaik yang dimilikinya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Puasa Daud: Niat, Tata Cara, Keutamaan, dan Hukumnya Lengkap
Puasa Daud: Niat, Tata Cara, Keutamaan, dan Hukumnya Lengkap
Doa dan Niat
Kemenhaj Ingatkan Calon Jemaah Haji Bangkalan Terkait Batasan Maksimal Bawa Rokok ke Tanah Suci
Kemenhaj Ingatkan Calon Jemaah Haji Bangkalan Terkait Batasan Maksimal Bawa Rokok ke Tanah Suci
Aktual
8 Calon Jemaah Haji Cadangan Asal Sumenep Berangkat Lebih Dulu dari Jemaah Reguler
8 Calon Jemaah Haji Cadangan Asal Sumenep Berangkat Lebih Dulu dari Jemaah Reguler
Aktual
Bukan Perjalanan Spiritual Biasa, Teuku Zulkhairi: Ibadah Haji Sebaiknya Jadi Impian Sejak Usia Dini
Bukan Perjalanan Spiritual Biasa, Teuku Zulkhairi: Ibadah Haji Sebaiknya Jadi Impian Sejak Usia Dini
Aktual
Pilih Kambing Jantan atau Betina untuk Kurban? Ini Kata Ulama
Pilih Kambing Jantan atau Betina untuk Kurban? Ini Kata Ulama
Aktual
PPIH Makassar Ingatkan Jemaah Haji Jangan Nekat Bawa Pulang Air Zamzam di Koper
PPIH Makassar Ingatkan Jemaah Haji Jangan Nekat Bawa Pulang Air Zamzam di Koper
Aktual
Jadwal dan Niat Puasa Zulhijah, Tarwiyah, dan Arafah Mei 2026 Lengkap dengan Keutamaannya
Jadwal dan Niat Puasa Zulhijah, Tarwiyah, dan Arafah Mei 2026 Lengkap dengan Keutamaannya
Aktual
Jangan Asal Beli, Ini Oleh-oleh Haji yang Dilarang di Pesawat
Jangan Asal Beli, Ini Oleh-oleh Haji yang Dilarang di Pesawat
Aktual
Museum Biografi Nabi Muhammad di Madinah, Wisata Religi Futuristik Dekat Masjid Nabawi
Museum Biografi Nabi Muhammad di Madinah, Wisata Religi Futuristik Dekat Masjid Nabawi
Aktual
Nekat Jalan Kaki Lewat Gurun ke Makkah, 5 WN Afghanistan Ditahan
Nekat Jalan Kaki Lewat Gurun ke Makkah, 5 WN Afghanistan Ditahan
Aktual
Daker Bandara Jeddah Terima 49 Koper Cadangan untuk Jamaah Haji yang Kopernya Rusak
Daker Bandara Jeddah Terima 49 Koper Cadangan untuk Jamaah Haji yang Kopernya Rusak
Aktual
Jelang Haji 2026, Saudi Siapkan Call Center 24 Jam dalam 11 Bahasa
Jelang Haji 2026, Saudi Siapkan Call Center 24 Jam dalam 11 Bahasa
Aktual
Pernah Overstay di Arab Saudi, JCH Asal Polman Gagal Berangkat Haji 2026 karena Dicekal Imigrasi
Pernah Overstay di Arab Saudi, JCH Asal Polman Gagal Berangkat Haji 2026 karena Dicekal Imigrasi
Aktual
Harga Sapi Kurban Naik Tajam, Warga Yogyakarta Diprediksi Beralih ke Kambing dan Domba
Harga Sapi Kurban Naik Tajam, Warga Yogyakarta Diprediksi Beralih ke Kambing dan Domba
Aktual
Hukum Nikah Siri Tanpa Sepengetahuan Orang Tua, Sah atau Tidak? Ini Penjelasan Kemenag
Hukum Nikah Siri Tanpa Sepengetahuan Orang Tua, Sah atau Tidak? Ini Penjelasan Kemenag
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com