Editor
KOMPAS.com-Bulan Zulhijah menjadi salah satu momentum penting bagi umat Islam untuk memperkuat ketakwaan kepada Allah SWT melalui ibadah haji dan qurban.
Ibadah qurban tidak hanya menjadi bentuk ketaatan seorang hamba kepada perintah Allah, tetapi juga mengajarkan nilai keikhlasan, pengorbanan, dan kepedulian sosial kepada sesama.
Melalui qurban, umat Islam diajak meneladani keteguhan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS dalam menjalankan perintah Allah, sekaligus memperluas manfaat ibadah kepada keluarga, tetangga, fakir miskin, dan masyarakat sekitar.
Khutbah Jumat yang dibawakan Syarif Hidayatullah, SHI, C.LQ, Ketua Komisi Infokom MUI Kota Tangerang ini mengulas makna ibadah qurban sebagai syiar Allah, wujud syukur atas nikmat iman dan Islam, serta sarana mempererat solidaritas sosial di tengah masyarakat.
Baca juga: Khutbah Jumat 15 Mei 2026 tentang Haji, Luruskan Niat Sebelum ke Tanah Suci
الَسَّلامُ عَليْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُه
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِالتَّضْحِيَّةِ. وَبَلَّغَنَا إِلَى شَهْرِ ذِي الْحِجَّةِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ ذُوْ رَحْمَةٍ وَاسِعَةٍ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ تُرْجَى مِنْهُ الشَّفَاعَةُ.
أَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدِنِالنَّبِيِّ الرَّحْمَةِ، وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ ذَوِي الْعُقُوْلِ السَّلِيْمَةِ، صَلَاةً وَسَلَامًا مُتَلَازِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.
أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ الرَّحْمٰنِ، أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللّٰهِ الْمَنَّانِ، اَلْقَائِلِ فِيْ الْقُرْآنِ: إِنَّاأَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ
Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jumat Rahimakumullah,
Syukur, alhamdulillah, pada kesempatan hari ini kita tengah berada di bulan Dzulhijjah yang termasuk asyhurul hurum atau bulan-bulan yang dihormati. Bulan istimewa karena dua ibadah agung dilaksanakan pada bulan ini yang jatuh di penghujung tahun Hijriah, yaitu ibadah haji dan ibadah qurban.
Kedua ibadah tersebut disebut oleh Alquran sebagai salah satu syiar Allah SWT yang harus dihormati dan diagungkan oleh hamba-hamba-Nya. Dan mengagungkan syiar-syiar Allah merupakan pertanda dan bukti akan ketakwaan seseorang, seperti yang ditegaskan dalam firman-Nya :
ذٰلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللّٰهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ
“Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (QS. Al-Hajj: 32)
Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jumat Rahimakumullah,
Semua itu sebagai wujud syukur kita kepada Allah SWT atas segala nikmat yang tak terhingga yang dianugerahkan kepada kita; baik nikmat sehat wal afiyat, nikmat panjang umur, nikmat istiqamah dalam beribadah kepada Allah, dan nikmat berpegang kepada sunnah-sunnah Rasul-Nya.
Begitu juga nikmat yang terbesar, yang Allah berikan kepada kita yaitu nikmat iman dan Islam. Dengan adanya nikmat iman dan Islam, sekecil atau sedikit apa pun yang kita lakukan dalam bentuk kebaikan dan ketaatan akan berarti di sisi Allah.
Namun sebaliknya, tanpa adanya nikmat iman dan Islam yang Allah karuniakan, sebanyak dan sebesar apa pun kebaikan yang kita lakukan, maka semua itu tidak akan bernilai di sisi-Nya.
Allah SWT berfirman:
فَمَنْ يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَا كُفْرَانَ لِسَعْيِهِ وَإِنَّا لَهُ كَاتِبُونَ
“Maka barang siapa yang mengerjakan amal saleh, sedang ia beriman, maka tidak ada pengingkaran terhadap amalannya itu dan sesungguhnya Kami menuliskan amalannya itu untuknya.” (QS. Al-Anbiya: 94)
Baca juga: Khutbah Jumat 8 Mei 2026: Nasihat untuk Berkata yang Baik atau Diam
Oleh karena itu, marilah bersama-sama kita berusaha dan berupaya untuk terus meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan. Begitu juga kita tingkatkan kualitas pemahaman ilmu agama kita, agar ibadah kita mendapatkan predikat ibadah yang sah, yakni ibadah yang terpenuhi syarat dan rukunnya yang diterima Allah SWT, sebagaimana perkataan Ibnu Ruslan dalam kitab Zubad-nya:
فَكُلُّ مَنْ بِغَيْرِ عِلْمٍ يَعْمَلُ # أَعْمَالُهُ مَرْدُوْدَةٌ لَا تُقْبَلُ
“Maka setiap orang yang beribadah tanpa berlandaskan ilmu, ibadahnya akan tertolak, tidak akan diterima.”
Dengan ketakwaan dan amal shaleh yang kita lakukan, maka Allah akan senantiasa membersamai kita dalam bentuk pertolongan dan bantuan-Nya, dan jelas hal ini Allah nyatakan dalam firman-Nya:
إِنَّ اللّٰهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ
“Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. An-Nahl: 128)
Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jumat Rahimakumullah,
Ibadah qurban mengajarkan kepada kita nilai pengorbanan, keikhlasan, dan kepedulian sosial. Ibadah qurban bukan sekadar menyembelih hewan, tetapi juga menyembelih sifat egois dan menumbuhkan rasa cinta kepada sesama.
Allah Ta’ala berfirman:
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berqurbanlah.” (QS. Al-Kautsar: 2)
Dan Allah juga berfirman:
لَنْ يَنَالَ اللّٰهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنْكُمْ
“Daging dan darah hewan qurban itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.” (QS. Al-Hajj: 37)
Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jumat Rahimakumullah,
Qurban adalah ibadah yang memiliki dimensi sosial yang sangat besar. Melalui qurban, kaum fakir, dhuafa, dan masyarakat kecil dapat merasakan kebahagiaan di hari raya.
Diriwayatkan dari Sayyidah Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Rasulullah SAW bersabda:
مَا عَمِلَ ابْنُ آدَمَ يَوْمَ النَّحْرِ عَمَلًا أَحَبَّ إِلَى اللّٰهِ مِنْ إِهْرَاقِ الدَّمِ
“Tidak ada amalan yang dilakukan anak Adam pada Hari Nahr yang lebih dicintai Allah daripada mengalirkan darah (menyembelih hewan qurban).” (HR Tirmidzi)
Imam an-Nawawi rahimahullah menjelaskan dalam kitab Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab tentang hikmah qurban, sebagai berikut:
وَالْمَقْصُودُ مِنَ الْأُضْحِيَّةِ التَّقَرُّبُ إِلَى اللّٰهِ تَعَالَى وَإِحْيَاءُ سُنَّةِ إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ وَالتَّوْسِعَةُ عَلَى الْعِيَالِ وَالْفُقَرَاءِ
“Tujuan ibadah qurban adalah mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala, menghidupkan sunnah Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam, dan memberi kelapangan kepada keluarga serta orang-orang fakir.”
Maka, orang yang berqurban sejatinya sedang membangun solidaritas sosial, mempererat ukhuwah, dan membantu sesama.
Demikian pula Dr Hisyam al-Kamil Hamid di dalam kitab karya beliau, Is’ad al-Bariyyah fi Ahkaam al-Udhhiyyah menyatakan ada beberapa hikmah dalam ibadah qurban, sebagai berikut:
1. Ibadah qurban adalah ibadah dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah yang bersifat ta’abbudiyyah, yakni sami’na wa atho’na pada perintah Allah
2. Sebagai bentuk syukur kepada Allah atas nikmat yang telah diberikan
3. Memberikan kelapangan kepada keluarga, sahabat, dan faqir-miskin
4. Kemenangan dengan mendapat pahala dan ampunan dosa
5. Penguatan ikatan persaudaraan antarsesama muslim, dan tertanam ruh saling membantu dan saling mencintai
6. Menghidupkan makna dan semangat qurban yang telah dicontohkan oleh Nabi Ibrahim
7. Menghidupkan sunnah Nabi Ibrahim sebagai orang pertama yang berqurban sebagai bentuk taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah
8. Sebagai ujian dari Allah kepada hamba-Nya, yang mana nafsu ini lebih cenderung menumpuk harta, sedangkan ibadah qurban harus mengeluarkan harta
9. Mengajarkan kita berpegang pada waktu yang dimuliakan, sebagaimana ibadah qurban.
Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jumat Rahimakumullah,
Demikianlah khutbah Jumat singkat perihal ibadah qurban yang tidak bisa dilepaskan dari wujud kepedulian sosial.
Semoga apa yang khatib sampaikan ini menjadi khutbah yang membawa berkah dan bermanfaat bagi kita semua. Amin ya Rabbal ‘alamin.
بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللّٰهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَآئِرِ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هٰذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَٰنِ وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ وَٱلۡبَغۡيِۚ يَعِظُكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ، فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang