KOMPAS.com - Dalam sejarah Islam, nama Khalid bin Walid menempati ruang yang khas. Ia bukan hanya panglima perang yang nyaris tak tersentuh kekalahan, tetapi juga simbol perubahan batin yang lahir dari perenungan panjang.
Dari sosok Quraisy yang memusuhi Nabi Muhammad SAW, Khalid menjelma menjadi “Saifullah al-Maslul”, pedang Allah yang terhunus.
Riwayat hidupnya menautkan keberanian, kecerdikan, dan iman dalam satu garis sejarah yang utuh.
Baca juga: Keimanan yang Dibayar Mahal, Kisah Keteguhan Khalid bin Said Al Ash
Khalid bin Walid lahir di Makkah dari Bani Makhzum, kabilah yang dikenal sebagai tulang punggung militer Quraisy.
Ayahnya, al-Walid bin al-Mughirah merupakan tokoh elite yang disegani. Sejak muda, Khalid dibesarkan dalam tradisi kepemimpinan dan kemiliteran.
Berkuda, memegang senjata, membaca medan tempur, semuanya menjadi bagian dari keseharian.
Watak keras dan percaya diri itu kelak membentuknya sebagai ahli strategi perang yang diperhitungkan lawan.
Baca juga: Dari Penentang Menjadi Pelindung, Kisah Umar bin Al-Khattab Memeluk Islam
Dikutip dari buku Al-Bidayah wa an-Nihayah karya Ibnu Katsir, perang Uhud menjadi panggung awal kejeniusannya.
Saat pasukan Muslim lengah karena sebagian pemanah meninggalkan pos, Khalid memimpin serangan kavaleri dari belakang.
Manuver itu mengubah arah pertempuran dan memberi kemenangan strategis bagi Quraisy. Dalam catatan sejarawan Muslim klasik, Uhud bukan sekadar kekalahan, tetapi pelajaran besar tentang disiplin sekaligus kepemimpinan dan Khalid berada di pusat peristiwa itu.
Meski menang di Uhud, Khalid tidak menemukan ketenangan. Perkembangan Islam yang kian menguat dan sikap Nabi Muhammad SAW yang konsisten, bahkan dalam tekanan, menggugah pertanyaannya.
Perjanjian Hudaibiyah menjadi titik balik penting. Bagi Khalid, langkah damai Nabi justru mencerminkan kekuatan visi yang melampaui kalkulasi perang. Ia mulai menyadari bahwa Islam bukan sekadar gerakan sesaat.
Pada tahun ke-7 Hijriah, Khalid mendatangi Madinah dan menyatakan keislamannya. Nabi Muhammad SAW menyambutnya dengan penuh penghargaan, seraya menyatakan bahwa Allah telah membuka hati Khalid pada kebenaran. Sejak itu, arah hidupnya berbalik sepenuhnya.
Baca juga: Kisah Abdurrahman bin Auf, Menjadi Kaya Tanpa Terikat Dunia
Masuk Islam tidak menghapus masa lalu Khalid, melainkan menempatkannya dalam bingkai pengabdian baru.
Dalam Perang Mu’tah, ketika tiga panglima gugur, Khalid mengambil alih komando dan menyelamatkan pasukan Muslim dari kehancuran total. Atas peristiwa itu, Nabi memberinya gelar “Saifullah al-Maslul”.
Pada masa Abu Bakar ash-Shiddiq, Khalid menjadi tokoh sentral dalam menghadapi gelombang kemurtadan dan nabi palsu.
Di bawah komandonya, stabilitas negara Islam yang rapuh berhasil dipertahankan. Bahkan ketika Umar bin Khattab mencopotnya dari jabatan panglima tertinggi, Khalid menerima keputusan itu tanpa perlawanan. Ia tetap bertempur sebagai prajurit biasa, sebuah pelajaran tentang ketaatan dan keikhlasan.
Baca juga: Kisah Utsman bin Affan: Khalifah Dermawan yang Gugur Syahid
Khalid bin Walid wafat di Homs, Suriah, bukan di medan perang. Tubuhnya penuh bekas luka, tetapi ajal datang di atas pembaringan.
Ia pernah berkata dengan nada getir, bahwa ia mencari syahid di setiap medan, namun kematian datang dengan cara lain.
Di situlah ironi sekaligus kemuliaannya, hidupnya diabdikan sepenuhnya, meski akhir hidupnya sederhana.
Khalid bin Walid dikenang bukan hanya karena pedangnya, tetapi karena kesediaannya berubah, tunduk, dan berjuang tanpa pamrih.
Ia membuktikan bahwa iman dapat menjinakkan ambisi dan kekuatan sejati lahir dari ketaatan.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang