Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Khalid bin Walid, Dari Lawan Tangguh Menjadi Pedang Allah

Kompas.com, 2 Januari 2026, 13:05 WIB
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Dalam sejarah Islam, nama Khalid bin Walid menempati ruang yang khas. Ia bukan hanya panglima perang yang nyaris tak tersentuh kekalahan, tetapi juga simbol perubahan batin yang lahir dari perenungan panjang.

Dari sosok Quraisy yang memusuhi Nabi Muhammad SAW, Khalid menjelma menjadi “Saifullah al-Maslul”, pedang Allah yang terhunus.

Riwayat hidupnya menautkan keberanian, kecerdikan, dan iman dalam satu garis sejarah yang utuh.

Baca juga: Keimanan yang Dibayar Mahal, Kisah Keteguhan Khalid bin Said Al Ash

Tumbuh di Lingkungan Kesatria Quraisy

Khalid bin Walid lahir di Makkah dari Bani Makhzum, kabilah yang dikenal sebagai tulang punggung militer Quraisy.

Ayahnya, al-Walid bin al-Mughirah merupakan tokoh elite yang disegani. Sejak muda, Khalid dibesarkan dalam tradisi kepemimpinan dan kemiliteran.

Berkuda, memegang senjata, membaca medan tempur, semuanya menjadi bagian dari keseharian.

Watak keras dan percaya diri itu kelak membentuknya sebagai ahli strategi perang yang diperhitungkan lawan.

Baca juga: Dari Penentang Menjadi Pelindung, Kisah Umar bin Al-Khattab Memeluk Islam

Uhud dan Nama yang Mulai Diperhitungkan

Dikutip dari buku Al-Bidayah wa an-Nihayah karya Ibnu Katsir, perang Uhud menjadi panggung awal kejeniusannya.

Saat pasukan Muslim lengah karena sebagian pemanah meninggalkan pos, Khalid memimpin serangan kavaleri dari belakang.

Manuver itu mengubah arah pertempuran dan memberi kemenangan strategis bagi Quraisy. Dalam catatan sejarawan Muslim klasik, Uhud bukan sekadar kekalahan, tetapi pelajaran besar tentang disiplin sekaligus kepemimpinan dan Khalid berada di pusat peristiwa itu.

Jalan Sunyi Menuju Keyakinan

Meski menang di Uhud, Khalid tidak menemukan ketenangan. Perkembangan Islam yang kian menguat dan sikap Nabi Muhammad SAW yang konsisten, bahkan dalam tekanan, menggugah pertanyaannya.

Perjanjian Hudaibiyah menjadi titik balik penting. Bagi Khalid, langkah damai Nabi justru mencerminkan kekuatan visi yang melampaui kalkulasi perang. Ia mulai menyadari bahwa Islam bukan sekadar gerakan sesaat.

Pada tahun ke-7 Hijriah, Khalid mendatangi Madinah dan menyatakan keislamannya. Nabi Muhammad SAW menyambutnya dengan penuh penghargaan, seraya menyatakan bahwa Allah telah membuka hati Khalid pada kebenaran. Sejak itu, arah hidupnya berbalik sepenuhnya.

Baca juga: Kisah Abdurrahman bin Auf, Menjadi Kaya Tanpa Terikat Dunia

Saifullah dan Medan Perjuangan

Masuk Islam tidak menghapus masa lalu Khalid, melainkan menempatkannya dalam bingkai pengabdian baru.

Dalam Perang Mu’tah, ketika tiga panglima gugur, Khalid mengambil alih komando dan menyelamatkan pasukan Muslim dari kehancuran total. Atas peristiwa itu, Nabi memberinya gelar “Saifullah al-Maslul”.

Pada masa Abu Bakar ash-Shiddiq, Khalid menjadi tokoh sentral dalam menghadapi gelombang kemurtadan dan nabi palsu.

Di bawah komandonya, stabilitas negara Islam yang rapuh berhasil dipertahankan. Bahkan ketika Umar bin Khattab mencopotnya dari jabatan panglima tertinggi, Khalid menerima keputusan itu tanpa perlawanan. Ia tetap bertempur sebagai prajurit biasa, sebuah pelajaran tentang ketaatan dan keikhlasan.

Baca juga: Kisah Utsman bin Affan: Khalifah Dermawan yang Gugur Syahid

Wafat dalam Sunyi, Nama dalam Sejarah

Khalid bin Walid wafat di Homs, Suriah, bukan di medan perang. Tubuhnya penuh bekas luka, tetapi ajal datang di atas pembaringan.

Ia pernah berkata dengan nada getir, bahwa ia mencari syahid di setiap medan, namun kematian datang dengan cara lain.

Di situlah ironi sekaligus kemuliaannya, hidupnya diabdikan sepenuhnya, meski akhir hidupnya sederhana.

Khalid bin Walid dikenang bukan hanya karena pedangnya, tetapi karena kesediaannya berubah, tunduk, dan berjuang tanpa pamrih.

Ia membuktikan bahwa iman dapat menjinakkan ambisi dan kekuatan sejati lahir dari ketaatan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Arab Saudi Perketat Umrah Ramadhan 2026: Pintu Masjidil Haram Pakai Indikator Hijau-Merah
Arab Saudi Perketat Umrah Ramadhan 2026: Pintu Masjidil Haram Pakai Indikator Hijau-Merah
Aktual
Jadwal Buka Puasa Kota Palembang Hari Ini, Minggu 22 Februari 2026
Jadwal Buka Puasa Kota Palembang Hari Ini, Minggu 22 Februari 2026
Aktual
Jadwal Buka Puasa Kota Tangerang Hari Ini, Minggu 22 Februari 2026
Jadwal Buka Puasa Kota Tangerang Hari Ini, Minggu 22 Februari 2026
Aktual
Jadwal Buka Puasa Kota Bekasi Hari Ini, Minggu 22 Februari 2026
Jadwal Buka Puasa Kota Bekasi Hari Ini, Minggu 22 Februari 2026
Aktual
Jadwal Buka Puasa Kota Banjarmasin Hari Ini, Minggu 22 Februari 2026
Jadwal Buka Puasa Kota Banjarmasin Hari Ini, Minggu 22 Februari 2026
Aktual
 Jadwal Buka Puasa Kota Padang Hari Ini, Minggu 22 Februari 2026
Jadwal Buka Puasa Kota Padang Hari Ini, Minggu 22 Februari 2026
Aktual
Jadwal Buka Puasa Kota Batam Hari Ini, Minggu 22 Februari 2026
Jadwal Buka Puasa Kota Batam Hari Ini, Minggu 22 Februari 2026
Aktual
5 Resep Kolak Terfavorit saat Buka Puasa Ramadhan untuk Obati Rasa Kangen Kampung Halaman
5 Resep Kolak Terfavorit saat Buka Puasa Ramadhan untuk Obati Rasa Kangen Kampung Halaman
Aktual
5 Resep Takjil Praktis Favorit Saat Ramadhan, Cocok untuk Anak Kos
5 Resep Takjil Praktis Favorit Saat Ramadhan, Cocok untuk Anak Kos
Aktual
Desainer Sebut Tren Baju Lebaran 2026 Lebih Tenang dan Timeless, Gen Z Disebut Suka yang Simple
Desainer Sebut Tren Baju Lebaran 2026 Lebih Tenang dan Timeless, Gen Z Disebut Suka yang Simple
Aktual
Masjidil Haram Gunakan Barcode untuk Pantau Kepadatan Tawaf dan Sa’i Selama Ramadhan
Masjidil Haram Gunakan Barcode untuk Pantau Kepadatan Tawaf dan Sa’i Selama Ramadhan
Aktual
Bansos Rp 15 Triliun Cair Jelang Lebaran 2026, Siapa Saja Penerimanya?
Bansos Rp 15 Triliun Cair Jelang Lebaran 2026, Siapa Saja Penerimanya?
Aktual
Jadwal Imsak dan Buka Kota Samarinda Hari Ini, 22 Februari 2026
Jadwal Imsak dan Buka Kota Samarinda Hari Ini, 22 Februari 2026
Aktual
Jadwal Imsak dan Buka Puasa Kota Pekanbaru Hari Ini, 22 Februari 2026
Jadwal Imsak dan Buka Puasa Kota Pekanbaru Hari Ini, 22 Februari 2026
Aktual
Jadwal Imsak dan Buka Puasa Kota Bandar Lampung Hari Ini, 22 Februari 2026
Jadwal Imsak dan Buka Puasa Kota Bandar Lampung Hari Ini, 22 Februari 2026
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com