Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kisah Abdurrahman bin Auf, Menjadi Kaya Tanpa Terikat Dunia

Kompas.com, 31 Desember 2025, 10:57 WIB
Norma Desvia Rahman,
Farid Assifa

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Di antara para sahabat Nabi Muhammad SAW, nama Abdurrahman bin Auf kerap disebut sebagai simbol paradoks yang indah.

Seorang saudagar kaya raya yang justru dikenal karena kezuhudan dan kedermawanannya. Ia membuktikan bahwa harta, dalam pandangan Islam, bukanlah tujuan, melainkan amanah, sesuatu yang harus dipertanggungjawabkan hingga detik terakhir kehidupan.

Abdurrahman bin Auf termasuk golongan awal yang menerima Islam. Ia masuk Islam melalui dakwah Abu Bakar ash-Shiddiq, pada fase ketika keimanan berarti risiko, bukan kehormatan.

Tekanan Quraisy tak membuatnya goyah. Ia hijrah ke Habasyah, lalu ke Madinah, meninggalkan seluruh hartanya di Makkah tanpa penyesalan.

Baca juga: Kisah Al Thufail, Penyair Masuk Islam karena Dengar Lantunan Al Quran

Dari Muhajirin hingga Imam Kaum Muslimin

Setibanya di Madinah, Abdurrahman dipersaudarakan oleh Rasulullah dengan Sa‘d bin Rabi‘ al-Anshari.

Sa‘d menawarkan separuh hartanya, bahkan salah satu istrinya. Tawaran itu ditolak dengan halus. Abdurrahman hanya meminta ditunjukkan letak pasar.

Dari situlah kisah ekonomi yang berakar pada kejujuran dimulai. Dengan ketekunan, ia kembali bangkit sebagai pedagang.

Namun kekayaan itu tidak menjauhkannya dari ibadah. Dalam satu peristiwa, Rasulullah SAW pernah terlambat datang dan Abdurrahman bin Auf maju menjadi imam shalat.

Rasulullah tidak menegur, bahkan menyempurnakan shalat bersama jamaah. Isyarat itu menandai kepercayaan dan kemuliaan spiritual yang dimilikinya.

Doa Rasulullah dan Keberkahan Harta

Dikutip dari buku 65 Kisah Teladan Sahabat Nabi karya Dr. Abdurrahman Ra'fat al-Basya, ketika Abdurrahman menikah, Rasulullah hanya bertanya sederhana, “Berapa mahar yang engkau berikan?” Ia menjawab, “Emas seberat biji kurma.”

Rasulullah mendoakan, “Baarakallahu laka.” Doa singkat itu menjadi penanda keberkahan yang menyertai setiap langkah ekonominya.

Keberkahan itu tidak berhenti pada akumulasi. Dalam banyak riwayat, Abdurrahman menjual tanah miliknya lalu membagikan hasilnya kepada Bani Zuhrah, kaum kerabat Rasulullah sebagai bentuk cinta dan tanggung jawab sosial. Harta baginya bukan simbol status, melainkan sarana pengabdian.

Baca juga: Kisah Utsman bin Affan: Khalifah Dermawan yang Gugur Syahid

Kafilah 700 Unta

Puncak kekayaannya tampak ketika suatu hari Madinah digemparkan oleh suara gemuruh. Ternyata, kafilah Abdurrahman bin Auf baru tiba dengan 700 unta yang bermuatan gandum, tepung, dan bahan pangan.

Aisyah RA mengingatkan sebuah hadis Rasulullah bahwa Abdurrahman akan masuk surga dengan merangkak karena kekayaannya.

Mendengar itu, Abdurrahman gemetar. Ia segera berkata bahwa seluruh kafilah itu ia sedekahkan di jalan Allah.

Sejarah mencatat, Madinah tidak hanya menyaksikan lalu-lalang harta, tetapi juga keikhlasan yang menjinakkannya.

Menjual Dunia Menjelang Wafat

Menjelang akhir hayat, ketakutan Abdurrahman bukan pada kemiskinan, melainkan pada hisab yang panjang.

Ia menangis ketika dihidangkan makanan enak, mengingat sahabat-sahabatnya yang wafat dalam kesederhanaan.

Ia membebaskan banyak budak sebagai penutup hidupnya. Ia berwasiat agar 400 dinar emas diberikan kepada setiap anggota Ahlul Badr yang masih hidup, sebuah penghormatan bagi para pejuang awal Islam.

Kepada Ummul Mukminin, istri-istri Rasulullah, ia menitipkan harta yang besar sebagai bentuk kesetiaan dan bakti.

Namun yang paling mencengangkan adalah warisan yang ditinggalkannya. Untuk ahli warisnya, ia masih meninggalkan 100 unta, 100 kuda, dan 3.000 domba.

Angka itu menunjukkan betapa besar kekayaannya dan betapa besar pula yang telah ia lepaskan.

Baca juga: Kisah Zaid bin Tsabit: Jalan Tekad Sang Penjaga Wahyu

Makna Kekayaan dalam Sejarah Islam

Abdurrahman bin Auf wafat pada masa Khalifah Utsman bin Affan. Ia tidak meninggalkan istana, tidak pula monumen.

Namun yang ia tinggalkan adalah teladan bahwa menjadi kaya tidak bertentangan dengan iman, selama harta tunduk kepada nilai.

Ia bukan zahid yang membenci dunia, melainkan mukmin yang menundukkan dunia. Dalam dirinya, Islam memperlihatkan wajah yang utuh, ibadah yang khusyuk, kerja yang tekun, dan derma yang melimpah.

Di tengah dunia modern yang kerap memuja akumulasi tanpa batas, kisah Abdurrahman bin Auf hadir sebagai pembelajaran.

Bahwa kekayaan sejati bukan pada seberapa banyak yang disimpan, melainkan seberapa lapang tangan melepaskannya.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Buku Karya Abdul Mu’ti Tentang Pluralisme dan Pendidikan Muhammadiyah Resmi Jadi Koleksi Perpustakaan OCIS Oxford
Buku Karya Abdul Mu’ti Tentang Pluralisme dan Pendidikan Muhammadiyah Resmi Jadi Koleksi Perpustakaan OCIS Oxford
Aktual
Di Hadapan Para Imam Besar di Istiqlal, Imam Masjid Al Aqsa Sampaikan Pesan Persatuan
Di Hadapan Para Imam Besar di Istiqlal, Imam Masjid Al Aqsa Sampaikan Pesan Persatuan
Aktual
MUI Akan Luncurkan Wajib Halal Oktober di Bengkulu pada 1 Oktober 2026
MUI Akan Luncurkan Wajib Halal Oktober di Bengkulu pada 1 Oktober 2026
Aktual
Imam Besar Dunia Shalat Jumat di Masjid Istiqlal, Doakan Persatuan Umat dan Kembalinya Masjid Al Aqsa
Imam Besar Dunia Shalat Jumat di Masjid Istiqlal, Doakan Persatuan Umat dan Kembalinya Masjid Al Aqsa
Aktual
Menag Ajak Imam Gunakan Bahasa Agama untuk Bangun Kesadaran Menjaga Lingkungan
Menag Ajak Imam Gunakan Bahasa Agama untuk Bangun Kesadaran Menjaga Lingkungan
Aktual
Menag: Imam Harus Jadi Jembatan Perdamaian dan Diplomat Komunitas
Menag: Imam Harus Jadi Jembatan Perdamaian dan Diplomat Komunitas
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar