Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Nabi Yahya AS, Iman sebagai Tindakan, Bukan Sekadar Kata

Kompas.com, 2 Januari 2026, 12:00 WIB
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Zakaria merupakan seorang tukang kayu sederhana yang diangkat menjadi utusan Allah.

Hidupnya jauh dari kemegahan, tetapi kaya dengan ketulusan. Dalam sunyi, Zakaria memanjatkan doa yang lembut dan penuh adab.

Ia menginginkan seorang putra, bukan demi kebanggaan duniawi, melainkan untuk menyambung keturunan ketakwaan dan menjaga nilai iman setelah ia tiada.

Permintaan itu terasa mustahil secara logika. Zakaria telah renta, istrinya pun mandul. Bahkan ada rasa malu dalam hatinya ketika memohon.

Baca juga: Kisah Nabi Yusuf di Balik Jeruji dan Makna Kekuasaan yang Adil

Namun ia percaya, Allah tidak pernah mengecewakan hamba yang berharap dengan tulus. Doa itu bukan lahir dari ambisi, melainkan dari kegelisahan akan masa depan nilai kebenaran.

Dan kabar itu datang. Allah menganugerahkan seorang putra bernama Yahya, nama yang bermakna hidup.

Sebuah penanda bahwa kehidupan sejati bukan semata bernapas, tetapi menjalani hidup dengan ketaatan.

Baca juga: Kisah Nabi Yusuf, Ketika Iman Mengalahkan Nafsu dan Kekuasaan

Anak yang Tumbuh dengan Kesadaran Moral

Dikutip dari buku Kisah-kisah Pembebasan dalam Qur'an karya Eko Prasetyo, sejak kecil, Yahya tampil berbeda.

Dalam satu riwayat disebutkan, ketika diajak bermain oleh anak seusianya, Yahya menjawab, “Kita tidak diciptakan untuk bermain.”

Kalimat itu bukan penolakan terhadap kegembiraan, melainkan cerminan kesadaran dini tentang tujuan hidup.

Yahya tumbuh dalam bimbingan Taurat. Kitab suci itu membentuk karakternya yang penuh kasih sayang, patuh kepada orang tua, rendah hati, dan tegas terhadap kebatilan.

Kesalehannya tidak lahir dari keterpaksaan, tetapi dari perenungan mendalam tentang makna hidup.

Dalam tradisi filsafat, Aristoteles menyebut kebajikan sebagai hasil kebiasaan yang dilatih terus-menerus.

Yahya adalah potret hidup dari prinsip itu. Kitab suci tidak berhenti sebagai teks, melainkan menjadi tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Baca juga: Kisah Musa dan Harun, Dakwah Lembut di Hadapan Penguasa Zalim

Agama Bukan Sekadar Doktrin

Yahya memahami agama bukan sebagai hafalan hukum, tetapi sebagai tanggung jawab moral. Ia meneladani roh ajaran Taurat, sebagaimana dirumuskan Hillel bahwa inti agama adalah menolak menyakiti sesama manusia. Selebihnya hanyalah penjelasan.

Dari kesadaran itu, Yahya tampil sebagai figur moral publik. Ia menyerukan pertobatan, memandikan para pendosa di Sungai Yordan sebagai simbol penyucian diri.

Dari sinilah ia dikenal sebagai Yahya Pembaptis. Sebuah sikap religius yang tegas, tetapi tidak brutal.

Bagi Yahya, dosa tidak bisa dihapus tanpa penyesalan. Kebenaran harus disuarakan, meski berisiko.

Baca juga: Kisah Nabi Syu’aib dan Bangsa Madyan, Ketika Kecurangan Menjadi Budaya

Ketika Kebenaran Berhadapan dengan Kekuasaan

Keberanian moral itu membawa Yahya ke jalur berbahaya. Pada masa itu, kekuasaan berada di tangan Raja Hirodus, penguasa zalim yang hendak menikahi kerabat dekatnya sendiri. Yahya menentang rencana itu secara terbuka karena bertentangan dengan hukum Musa.

Fatwa itu mengguncang istana. Hirodia, perempuan yang hendak dinikahi, murka. Kekuasaan pun menunjukkan wajah aslinya.

Yahya ditangkap dan dibunuh secara keji. Sebuah akhir tragis bagi seorang nabi yang menolak berkompromi dengan kebatilan.

Namun sejarah mencatatnya bukan sebagai kekalahan, melainkan sebagai syuhadah, kesaksian iman yang paling tinggi.

Baca juga: Kisah Nabi Musa AS Menurut Al Quran yang Penuh Hikmah

Syahid dan Makna Kehidupan Orang Beriman

Yahya wafat, tetapi namanya hidup. Ia menjadi simbol bahwa iman sejati sering kali menuntut harga yang mahal.

Ia syahid bukan hanya karena dibunuh, melainkan karena seluruh hidupnya diabdikan untuk menegakkan nilai.

Di tengah dunia yang kian dikuasai oleh uang, hasrat, dan kompromi moral, kisah Yahya terasa relevan.

Ia melawan nafsu kekuasaan di zamannya, sebagaimana manusia modern ditantang melawan penyembahan terhadap materi.

Baca juga: Abu Jahal: Musuh Nabi yang Sadar Kebenaran, tapi Menolaknya

Ayahnya, Zakaria, mengajarkan kesabaran dan doa. Saudaranya, Isa, mengajarkan cinta kasih. Yahya mempersatukan semuanya dalam tindakan.

Ia membuktikan bahwa iman bukan sekadar keyakinan batin, melainkan keberanian bertindak, bahkan ketika nyawa menjadi taruhannya.

Kisah Yahya mengingatkan bahwa hidup tidak diukur dari panjangnya usia, melainkan dari keberanian menjaga nilai hingga akhir. Sebuah teladan sunyi, tetapi menggema sepanjang zaman.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang



Terkini Lainnya
Khalid bin Walid, Dari Lawan Tangguh Menjadi Pedang Allah
Khalid bin Walid, Dari Lawan Tangguh Menjadi Pedang Allah
Aktual
Nabi Yahya AS, Iman sebagai Tindakan, Bukan Sekadar Kata
Nabi Yahya AS, Iman sebagai Tindakan, Bukan Sekadar Kata
Aktual
Sholat Sunah Rawatib, Amalan Pendamping Sholat Wajib yang Dianjurkan Rasulullah
Sholat Sunah Rawatib, Amalan Pendamping Sholat Wajib yang Dianjurkan Rasulullah
Aktual
Ketika Nabi Pergi, Umat Bertobat: Kisah Nabi Yunus AS
Ketika Nabi Pergi, Umat Bertobat: Kisah Nabi Yunus AS
Aktual
Khutbah Jumat 2 Januari 2026: Muhasabah Diri, Bekal Menghadapi Hisab di Akhirat
Khutbah Jumat 2 Januari 2026: Muhasabah Diri, Bekal Menghadapi Hisab di Akhirat
Aktual
Banyak yang Keliru, Surat Ini Lebih Dianjurkan Dibaca di Malam Jumat
Banyak yang Keliru, Surat Ini Lebih Dianjurkan Dibaca di Malam Jumat
Doa dan Niat
Mengapa Zohran Mamdani Memilih 3 Mushaf Alquran saat Pelantikan Wali Kota New York?
Mengapa Zohran Mamdani Memilih 3 Mushaf Alquran saat Pelantikan Wali Kota New York?
Aktual
Gelombang Dingin dan Al-Azeerq Melanda Arab Saudi, Warga Diminta Waspada
Gelombang Dingin dan Al-Azeerq Melanda Arab Saudi, Warga Diminta Waspada
Aktual
Kemenhaj Buka Pelunasan Haji Reguler Tahap II Mulai 2 Januari, Jamaah Diminta Bersiap
Kemenhaj Buka Pelunasan Haji Reguler Tahap II Mulai 2 Januari, Jamaah Diminta Bersiap
Aktual
Niat Puasa Ayyamul Bidh Januari 2026 di Bulan Rajab 1447 H, Lengkap dengan Jadwalnya
Niat Puasa Ayyamul Bidh Januari 2026 di Bulan Rajab 1447 H, Lengkap dengan Jadwalnya
Aktual
Pelunasan Haji Reguler Tahap II 2026 Dibuka, Simak Kriteria dan Syarat Terbarunya
Pelunasan Haji Reguler Tahap II 2026 Dibuka, Simak Kriteria dan Syarat Terbarunya
Aktual
Zohran Mamdani Wali Kota New York Pertama yang Disumpah dengan Al Quran
Zohran Mamdani Wali Kota New York Pertama yang Disumpah dengan Al Quran
Aktual
Doa Awal Tahun 2026: Doa Perlindungan untuk Satu Tahun Kedepan
Doa Awal Tahun 2026: Doa Perlindungan untuk Satu Tahun Kedepan
Aktual
Pelunasan Tersendat, 13 Asosiasi Nilai Penyelenggaraan Haji Khusus 2026 Berisiko Gagal
Pelunasan Tersendat, 13 Asosiasi Nilai Penyelenggaraan Haji Khusus 2026 Berisiko Gagal
Aktual
Khutbah Jumat 2 Januari 2026: Waktu Semakin Cepat, Persiapkan Bekal untuk Akhirat
Khutbah Jumat 2 Januari 2026: Waktu Semakin Cepat, Persiapkan Bekal untuk Akhirat
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com