Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

PBNU Soroti Adanya Dugaan Makar, Dinilai Bahayakan Bangsa dan Negara

Kompas.com, 11 April 2026, 08:30 WIB
Add on Google
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Yahya Cholil Staquf, menyoroti munculnya pernyataan bernada provokatif yang dinilai berpotensi mengarah pada upaya makar di tengah situasi global yang penuh tekanan.

Pernyataan itu disampaikan Gus Yahya dalam konferensi pers di Kantor PBNU, Jakarta, Jumat (10/4/2026), saat merespons dinamika politik yang muncul bersamaan dengan meningkatnya ketegangan geopolitik dunia, khususnya konflik di kawasan Timur Tengah.

“Saya juga menentang pihak mana pun yang hendak memanfaatkan keadaan di tengah tantangan-tantangan berat ini untuk memicu dinamika politik yang membahayakan bangsa dan negara,” ujar Gus Yahya.

Ia menilai, situasi global yang sedang tidak stabil seharusnya tidak dimanfaatkan untuk kepentingan politik jangka pendek yang justru berpotensi memperkeruh kondisi dalam negeri.

Baca juga: PBNU Apresiasi Saudi dan Negara Teluk yang Tak Balas Serangan Iran

Sinyal Provokasi hingga Dugaan Makar

Menurut Yahya, dalam beberapa waktu terakhir muncul pernyataan-pernyataan yang secara politis berbahaya.

Bahkan, ia menyebut sebagian pihak menilai narasi tersebut sudah mengarah pada percobaan makar.

“Saya kira ada pernyataan-pernyataan yang secara politis sangat berbahaya. Saya bahkan cenderung menyebutnya sebagai provokasi. Beberapa orang yang saya ajak berdiskusi menyebutnya sebagai percobaan makar,” tuturnya.

Ia mencontohkan adanya seruan-seruan politik ekstrem di tengah situasi krisis, termasuk tuntutan terhadap kepemimpinan nasional, yang dinilai tidak tepat dalam kondisi saat ini.

“Di tengah situasi perang begini tiba-tiba ada tuntutan presiden mundur. Saya juga melihat di media sosial. Itu berbahaya sekali,” kata Yahya.

Baca juga: PBNU Apresiasi Gencatan Senjata AS-Iran, Serukan Hentikan Perang Timur Tengah

Ancaman di Tengah Krisis Global

Yahya menegaskan bahwa Indonesia saat ini sedang menghadapi tantangan berat akibat dinamika global, termasuk dampak konflik internasional terhadap ekonomi dan stabilitas nasional.

Dalam kondisi seperti ini, menurutnya, bangsa Indonesia tidak bisa menanggung tambahan tekanan dari dinamika politik internal yang tidak konstruktif.

“Kita tidak bisa menanggungkan anomali politik apa pun di tengah keadaan ini. Kita butuh bertahan bersama, kita harus survive bersama,” ujarnya.

Ia mengingatkan bahwa setiap bentuk provokasi politik yang memecah belah justru akan memperlemah daya tahan bangsa dalam menghadapi krisis yang lebih besar.

Baca juga: Gus Yahya Ingatkan Ancaman Krisis Minyak, Konflik Timur Tengah Bisa Guncang Indonesia

Dorong Dialog dan Konsolidasi Nasional

Sebagai langkah respons, PBNU telah melakukan konsolidasi internal untuk memperkuat kesiapan organisasi dalam menghadapi situasi global.

Yahya juga menyatakan akan memperluas komunikasi dengan berbagai elemen masyarakat, termasuk organisasi keagamaan dan komunitas lintas sektor.

“PBNU telah melakukan konsolidasi sejak awal minggu ini. Kami mengonsolidasikan instrumen organisasi yang ada, dan setelah ini saya akan aktif berdialog dengan elemen-elemen masyarakat yang lain,” jelasnya.

Ia menekankan pentingnya membangun ketahanan sosial (societal resilience) sebagai fondasi utama dalam menghadapi tekanan global.

Menurutnya, kekuatan masyarakat di tingkat akar rumput menjadi kunci untuk menjaga stabilitas nasional.

“Kita harus berkonsolidasi secara menyeluruh. Kita tidak boleh memanfaatkan keadaan untuk kepentingan politik parsial,” tegasnya.

Ajakan Jaga Persatuan

Di akhir pernyataannya, Yahya mengajak seluruh elemen bangsa untuk mengedepankan persatuan dan menahan diri dari narasi yang dapat memicu konflik.

Ia menegaskan bahwa situasi global saat ini membutuhkan solidaritas nasional, bukan perpecahan.

“Kita harus hadapi keadaan ini bersama-sama. Ini tantangan berat, dan tidak bisa diselesaikan kalau kita justru saling melemahkan,” pungkasnya.

Pernyataan Yahya Cholil Staquf tersebut menegaskan bahwa di tengah ancaman krisis global, stabilitas dalam negeri menjadi faktor krusial.

Upaya menjaga persatuan dan menghindari provokasi politik dinilai sebagai langkah penting agar Indonesia tetap kuat menghadapi berbagai tekanan yang ada.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Bolehkah Langsung Membunuh Ular yang Masuk Rumah? Ini Penjelasan Ulama
Bolehkah Langsung Membunuh Ular yang Masuk Rumah? Ini Penjelasan Ulama
Aktual
Operasional Haji 2026 Masuk Hari ke-25, 159 Ribu Jemaah Tiba di Saudi
Operasional Haji 2026 Masuk Hari ke-25, 159 Ribu Jemaah Tiba di Saudi
Aktual
Bolehkah Puasa Dzulhijjah Digabung Qadha Ramadhan? Ini Hukumnya
Bolehkah Puasa Dzulhijjah Digabung Qadha Ramadhan? Ini Hukumnya
Aktual
Tawakkalna Hadirkan 19 Bahasa untuk Haji 2026, Termasuk Indonesia!
Tawakkalna Hadirkan 19 Bahasa untuk Haji 2026, Termasuk Indonesia!
Aktual
Kapan Batas Akhir Potong Kuku bagi Shahibul Kurban 2026? Cek Tanggalnya
Kapan Batas Akhir Potong Kuku bagi Shahibul Kurban 2026? Cek Tanggalnya
Aktual
Jelang Puncak Haji 2026, Saudi Pastikan Kesiapan 33 Ribu Bus di Arafah
Jelang Puncak Haji 2026, Saudi Pastikan Kesiapan 33 Ribu Bus di Arafah
Aktual
Menjejakkan Kaki di Al-Balad Jeddah, Gerbang Haji Masa Lampau Menuju Makkah
Menjejakkan Kaki di Al-Balad Jeddah, Gerbang Haji Masa Lampau Menuju Makkah
Aktual
Jelang Haji 2026, Saudi Periksa 33.000 Tempat Usaha di Makkah
Jelang Haji 2026, Saudi Periksa 33.000 Tempat Usaha di Makkah
Aktual
19 WNI Diamankan di Saudi, Ini Nasib Pelaku Rekam Perempuan Tanpa Izin
19 WNI Diamankan di Saudi, Ini Nasib Pelaku Rekam Perempuan Tanpa Izin
Aktual
Apa Itu Sedekah Barcode? Solusi Jemaah Haji Bisa Masuk Raudhah
Apa Itu Sedekah Barcode? Solusi Jemaah Haji Bisa Masuk Raudhah
Aktual
Lebih dari 860.000 Jemaah Tiba di Arab Saudi Jelang Puncak Haji 2026
Lebih dari 860.000 Jemaah Tiba di Arab Saudi Jelang Puncak Haji 2026
Aktual
Kapan Idul Adha 2026 di Arab Saudi? Cek Jadwal Wukuf dan Hari Tasyrik
Kapan Idul Adha 2026 di Arab Saudi? Cek Jadwal Wukuf dan Hari Tasyrik
Aktual
Bus Hidrolik Mudahkan Jemaah Haji Lansia Naik Bus tanpa Turun dari Kursi Roda
Bus Hidrolik Mudahkan Jemaah Haji Lansia Naik Bus tanpa Turun dari Kursi Roda
Aktual
Jelang Idul Adha, Kemenag Ponorogo Tambah Juru Sembelih Halal untuk Ribuan Masjid dan Mushalla
Jelang Idul Adha, Kemenag Ponorogo Tambah Juru Sembelih Halal untuk Ribuan Masjid dan Mushalla
Aktual
Khutbah Jumat 15 Mei 2026 tentang Haji, Luruskan Niat Sebelum ke Tanah Suci
Khutbah Jumat 15 Mei 2026 tentang Haji, Luruskan Niat Sebelum ke Tanah Suci
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com