Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

PBNU Apresiasi Saudi dan Negara Teluk yang Tak Balas Serangan Iran

Kompas.com, 10 April 2026, 17:30 WIB
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Ketua Umum PBNU, Yahya Cholil Staquf, menyampaikan apresiasi terhadap sikap negara-negara Teluk yang memilih menahan diri dan tidak membalas serangan dari Iran di tengah memanasnya konflik di kawasan Timur Tengah.

“Saya juga ingin menyampaikan apresiasi kepada negara-negara Teluk, termasuk Saudi Arabia dan Jordan yang sampai hari ini sama sekali tidak membalas serangan kepada Iran,” ujar Yahya, saat konferensi pers di Gedung PBNU Jakarta, Jumat (10/4/2026).

Menurut Yahya, keputusan tersebut menunjukkan komitmen kuat terhadap stabilitas kawasan serta upaya mencegah eskalasi konflik yang lebih luas.

Ia menilai langkah menahan diri justru menjadi bentuk tanggung jawab besar dalam menjaga perdamaian internasional.

Ia mengungkapkan bahwa berdasarkan komunikasi langsung dengan para duta besar negara-negara terkait, sikap tersebut diambil meskipun beberapa negara Teluk sempat menerima serangan.

“Walaupun negara-negara tersebut mendapatkan serangan juga dari Iran, mereka tetap tidak membalas. Ini sangat kami apresiasi,” tegasnya.

Baca juga: PBNU Apresiasi Gencatan Senjata AS-Iran, Serukan Hentikan Perang Timur Tengah

Lebih lanjut, Yahya menyebut negara-negara Teluk juga mengambil langkah tegas dengan menolak penggunaan wilayah mereka sebagai basis militer untuk menyerang Iran.

“Bahkan menolak wilayah masing-masing untuk dijadikan basis menyerang Iran. Ini dinyatakan dengan tegas oleh para duta besar negara-negara Teluk dan kerajaan Jordan,” katanya.

Menurutnya, langkah tersebut merupakan sinyal penting bahwa negara-negara di kawasan lebih mengedepankan stabilitas dibanding memperluas konflik bersenjata.

Dalam pandangan Yahya, konflik di Timur Tengah memiliki dampak global yang luas dan tidak bisa dihindari oleh negara mana pun, termasuk Indonesia.

“Kita tidak bisa menutup mata bahwa perang dan kekerasan di mana saja, apapun alasannya, itu adalah bencana kemanusiaan yang harus kita cegah dan harus kita upayakan dihentikannya sesegera mungkin,” ungkapnya.

Baca juga: PBNU Gelar Rapat Terbatas, Gus Yahya Dorong Gerakan Ketahanan Sosial Berbasis Umat

Ia juga menyoroti dampak besar konflik terhadap sektor energi dunia, terutama jalur distribusi strategis yang terdampak ketegangan geopolitik.

“Sudah kita ketahui bersama bagaimana pengaruhnya terhadap suplai energi dari Selat Hormuz dan bagaimana pengaruhnya ke seluruh dunia, dan tidak ada yang bisa menghindar dari ini termasuk Indonesia,” kata Yahya.

Selain itu, ia menegaskan bahwa seluruh negara yang terlibat dalam konflik merupakan mitra strategis Indonesia, sehingga pendekatan yang diambil harus mengedepankan persahabatan dan keseimbangan.

“Iran jelas negara sahabat, Saudi negara sahabat, Emirat negara sahabat. Oleh karena itu kita harus menempatkan diri sebagai sahabat bagi semua,” tuturnya.

PBNU, lanjut Yahya, akan terus mendorong penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi dan dialog internasional.

Ia juga menyambut baik adanya upaya gencatan senjata yang mulai muncul, meskipun masih bersifat sementara.

Di sisi lain, Yahya mengingatkan pentingnya konsolidasi di dalam negeri untuk menghadapi dampak global dari konflik tersebut.

Baca juga: PBNU Kecam Serangan Israel, Gus Yahya Ajak Shalat Ghaib 3 Prajurit TNI

“Tidak ada yang bisa menghindar dari dampak ini. Semua negara terdampak dan semuanya bertanggung jawab untuk mengelola dan mengatasi dampak-dampak dari peperangan itu,” ujarnya.

PBNU sendiri, kata dia, tengah menginisiasi penguatan ketahanan sosial masyarakat atau societal resilience agar masyarakat mampu menghadapi tekanan ekonomi dan sosial akibat dinamika global.

Ia pun mengajak seluruh elemen bangsa untuk memperkuat solidaritas dan menghindari provokasi politik di tengah situasi global yang tidak menentu.

“Kita harus bertahan bersama, kita harus survive bersama. Tidak mungkin ada yang bisa selamat sendirian,” kata Yahya.

Di akhir pernyataannya, Yahya menegaskan kembali bahwa satu-satunya jalan keluar dari konflik adalah melalui dialog damai dan kesepakatan diplomatik yang adil.

“Semua kekerasan ini harus berhenti dan perbedaan kepentingan harus diselesaikan melalui perundingan damai dan jalan diplomatik,” pungkasnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Haji Furoda 2026 Ditiadakan, Kemenhaj Ingatkan Waspada Tawaran Haji Tanpa Antrean
Haji Furoda 2026 Ditiadakan, Kemenhaj Ingatkan Waspada Tawaran Haji Tanpa Antrean
Aktual
KH Anwar Zahid Ingatkan Bahaya Euforia usai Puasa: Jangan Balas Dendam Makan!
KH Anwar Zahid Ingatkan Bahaya Euforia usai Puasa: Jangan Balas Dendam Makan!
Aktual
Biaya Haji 2026 Naik Jadi Rp 8,46 T, Menhaj Pastikan Ditanggung Negara
Biaya Haji 2026 Naik Jadi Rp 8,46 T, Menhaj Pastikan Ditanggung Negara
Aktual
Petugas Haji RI Mulai Diberangkatkan 17 April 2026, Wamenhaj Ingatkan Bukan “Nebeng” Haji
Petugas Haji RI Mulai Diberangkatkan 17 April 2026, Wamenhaj Ingatkan Bukan “Nebeng” Haji
Aktual
Surat Yasin Lengkap 83 Ayat: Arab, Latin dan Artinya
Surat Yasin Lengkap 83 Ayat: Arab, Latin dan Artinya
Doa dan Niat
Arab Saudi Denda Rp 400 Juta dan Deportasi 10 Tahun untuk Haji Ilegal
Arab Saudi Denda Rp 400 Juta dan Deportasi 10 Tahun untuk Haji Ilegal
Aktual
6 Calon Petugas Haji 2026 Gugur saat Diklat PPIH Arab Saudi, Terkendala Masalah Kesehatan dan Disiplin
6 Calon Petugas Haji 2026 Gugur saat Diklat PPIH Arab Saudi, Terkendala Masalah Kesehatan dan Disiplin
Aktual
DPR Tegas! Kenaikan Biaya Penerbangan Haji Harus Ditanggung Negara, Bukan Jemaah
DPR Tegas! Kenaikan Biaya Penerbangan Haji Harus Ditanggung Negara, Bukan Jemaah
Aktual
Halalbihalal Kompas Gramedia: Tradisi Tahunan yang Menyatukan Keberagaman
Halalbihalal Kompas Gramedia: Tradisi Tahunan yang Menyatukan Keberagaman
Aktual
Pasutri Pedagang Pecel Lele di Bekasi Tertipu Modus Percepatan Haji, Uang Rp600 Juta Raib
Pasutri Pedagang Pecel Lele di Bekasi Tertipu Modus Percepatan Haji, Uang Rp600 Juta Raib
Aktual
Penipuan Percepatan Haji Ditemukan di Bekasi, Puluhan Warga Hampir Jadi Korban
Penipuan Percepatan Haji Ditemukan di Bekasi, Puluhan Warga Hampir Jadi Korban
Aktual
Persiapan Jemaah Haji Bengkulu Masuk Tahap Akhir, Jemaah Mulai Masuk Asrama 23 April
Persiapan Jemaah Haji Bengkulu Masuk Tahap Akhir, Jemaah Mulai Masuk Asrama 23 April
Aktual
Kesiapan Haji 2026 Dibahas di DPR, Menhaj Soroti Fasilitas hingga Biaya Penerbangan
Kesiapan Haji 2026 Dibahas di DPR, Menhaj Soroti Fasilitas hingga Biaya Penerbangan
Aktual
6 Penghalang Doa dalam Islam, Ini Penyebab Doa Sulit Dikabulkan
6 Penghalang Doa dalam Islam, Ini Penyebab Doa Sulit Dikabulkan
Doa dan Niat
Haji 2026 Hanya untuk Pemegang Visa Resmi, Arab Saudi Tegaskan Sanksi Berat bagi Pelanggar
Haji 2026 Hanya untuk Pemegang Visa Resmi, Arab Saudi Tegaskan Sanksi Berat bagi Pelanggar
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com