Editor
KOMPAS.com-Doa menjadi bagian penting dalam kehidupan seorang Muslim sebagai bentuk ibadah dan penghambaan kepada Allah SWT.
Ajaran Islam menegaskan bahwa doa merupakan sarana memohon pertolongan dan menggantungkan harapan kepada Allah.
Namun, dalam praktiknya, tidak semua doa yang dipanjatkan langsung dikabulkan.
Para ulama menjelaskan adanya sejumlah faktor yang dapat menjadi penghalang terkabulnya doa seorang hamba.
Baca juga: Doa Mustajab di Makam Ibrahim Saat Tawaf, Ini Bacaan Lengkapnya
Dilansir dari laman Kemenag, doa merupakan salah satu bentuk ibadah yang memiliki kedudukan penting dalam Islam.
Rasulullah SAW bersabda:
الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ
Artinya: “Doa itu adalah ibadah.” (HR At-Tirmidzi).
Melalui doa, seorang Muslim dapat mencurahkan isi hati, memohon pertolongan, serta memperkuat hubungan dengan Allah SWT.
Baca juga: Doa Lunas Utang Agar Terhindar dari Gagal Bayar, Lengkap Arab, Latin, dan Artinya
Imam Ibnu Rajab dalam kitab Jami'ul 'Ulum wal Hikam menjelaskan terdapat enam perkara yang dapat menghalangi terkabulnya doa.
Mengonsumsi makanan, minuman, atau menggunakan barang haram dapat menjadi penghalang doa.
Rasulullah SAW bersabda:
أَطِبْ مَطْعَمَكَ تَكُنْ مُسْتَجَابَ الدَّعْوَةِ
Artinya: “Perbaikilah makananmu, niscaya doamu akan dikabulkan.”
Barang haram dapat berasal dari zatnya maupun dari cara memperolehnya yang tidak halal.
Kelalaian dalam menjalankan kewajiban seperti shalat dan puasa dapat menghambat terkabulnya doa.
Allah berfirman kepada Nabi Musa:
يَا مُوسَى، لَوْ رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى يَنْقَطِعَ مَا نَظَرْتُ فِي حَاجَتِهِ حَتَّى يَنْظُرَ فِي حَقِّي
Artinya: “Wahai Musa, sekalipun ia mengangkat kedua tangannya hingga putus, Aku tidak akan memperhatikan kebutuhannya sampai ia memperhatikan hak-Ku.”
Kurangnya amal saleh dapat menjadi penyebab doa sulit dikabulkan.
Wahb bin Munabbih mengibaratkan doa tanpa amal seperti memanah tanpa tali busur.
مَثَلُ الَّذِي يَدْعُو بِغَيْرِ عَمَلٍ كَمَثَلِ الَّذِي يَرْمِي بِغَيْرِ وَتَرٍ
Artinya: “Perumpamaan orang yang berdoa tanpa disertai dengan amal, seperti orang yang sedang memanah tanpa tali busur.”
Baca juga: Doa Susah Tidur, Amalan yang Diajarkan Rasulullah SAW untuk Atasi Insomnia
Sikap tidak berhati-hati terhadap perkara syubhat dan haram dapat menghalangi doa.
Sahabat Umar bin Khattab berkata:
بِالْوَرَعِ عَمَّا حَرَّمَ اللَّهُ يَقْبَلُ اللَّهُ الدُّعَاءَ وَالتَّسْبِيحَ
Artinya: “Dengan wara dari apa yang Allah haramkan, Allah akan menerima doa dan tasbih.”
Kebiasaan hanya mengingat Allah saat susah dan melupakan-Nya saat lapang menjadi penghalang doa.
نَحْنُ نَدْعُو الإِلٰهَ فِي كُلِّ كَرْبٍ * ثُمَّ نَنْسَاهُ عِنْدَ كَشْفِ الْكُرُوبِ
كَيْفَ نَرْجُو اسْتِجَابَةً لِدُعَاءٍ * قَدْ سَدَدْنَا طَرِيقَهَا بِالذُّنُوبِ
Artinya: “Kita berdoa kepada Allah di setiap kesusahan tetapi melupakan-Nya saat kesusahan diangkat, bagaimana berharap doa dikabulkan sementara jalan telah ditutup dengan dosa.”
Kebiasaan melakukan maksiat dapat melemahkan kekuatan doa.
Ibnu Rajab mengutip perkataan ulama salaf:
لَا تَسْتَبْطِئِ ٱلْإِجَابَةَ وَقَدْ سَدَدْتَ طُرُقَهَا بِٱلْمَعَاصِي
Artinya: “Janganlah kamu merasa ijabah doa terlambat, padahal kamu sendiri telah menutup jalannya dengan maksiat.”
Menjaga diri dari hal-hal yang dapat menghalangi doa menjadi bagian penting dalam kehidupan seorang Muslim.
Kebersihan hati, amal saleh, dan kepatuhan terhadap syariat menjadi faktor utama dalam mendukung terkabulnya doa.
Upaya tersebut diharapkan dapat membantu seorang hamba mendekatkan diri kepada Allah SWT dan meningkatkan kualitas ibadahnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang