KOMPAS.com – Telinga berdengung kerap dialami banyak orang secara tiba-tiba. Sebagian masyarakat mengaitkannya dengan mitos, misalnya pertanda sedang dibicarakan orang lain.
Namun dalam Islam, fenomena ini memiliki penjelasan yang lebih kompleks, berada di antara dimensi spiritual dan pengetahuan medis.
Lantas, benarkah telinga berdengung berarti ada yang membicarakan kita? Ataukah ia sekadar gejala kesehatan biasa? Berikut penjelasan lengkapnya.
Dalam tradisi Islam, telinga berdengung pernah dikaitkan dengan anjuran untuk mengingat Rasulullah SAW.
Hal ini merujuk pada beberapa riwayat hadis yang menyebutkan bahwa ketika telinga berdengung, seseorang dianjurkan untuk bershalawat.
Dalam kitab al-Jami’ al-Shaghir karya Imam As-Suyuthi disebutkan:
“Jika telinga salah seorang dari kalian berdengung, maka hendaklah ia mengingatku dan bershalawat kepadaku.”
Riwayat serupa juga disebutkan dalam al-Mu’jam al-Kabir karya Imam Ath-Thabrani. Dari sini, sebagian ulama memahami bahwa telinga berdengung bisa menjadi “pengingat spiritual” agar seorang Muslim kembali mengingat Nabi dan memperbanyak shalawat.
Namun, penting dicatat bahwa sebagian ahli hadis menilai riwayat ini memiliki kelemahan (dhaif).
Dalam Zaad al-Ma’ad, Ibnu Qayyim bahkan menyatakan bahwa hadis tentang telinga berdengung tidak memiliki dasar yang kuat.
Artinya, pemaknaan fenomena ini tidak bisa dijadikan keyakinan pasti, melainkan sebatas anjuran spiritual yang bersifat umum.
Baca juga: 4 Malaikat yang Datang Saat Seseorang Sakit, Salah Satunya Bertugas Menghapus Dosa
Di kalangan masyarakat, berkembang keyakinan bahwa telinga berdengung adalah tanda seseorang sedang dibicarakan.
Dalam literatur Islam klasik, terdapat penafsiran yang mendekati anggapan ini, meski tidak bersifat mutlak.
Dalam kitab al-Tanwir Syarah al-Jami’ al-Shaghir, Imam As-Shan’ani menjelaskan bahwa telinga berdengung dapat dimaknai sebagai isyarat adanya orang yang menyebut kebaikan seseorang.
Sementara dalam al-Taysir, Imam Al-Munawi mengaitkannya dengan dimensi ruhani, bahwa seseorang disebut dalam “perkumpulan yang baik”.
Meski demikian, para ulama menegaskan bahwa hal ini bukan akidah yang pasti. Tidak ada dalil kuat yang menyatakan secara tegas bahwa setiap telinga berdengung pasti karena ada yang membicarakan kita.
Dengan kata lain, anggapan tersebut lebih dekat pada interpretasi spiritual, bukan kepastian syariat.
Terlepas dari perbedaan pendapat, Islam memberikan arahan sederhana dan positif ketika seseorang mengalami kondisi ini.
Mengingat Nabi Muhammad SAW dan bershalawat menjadi amalan utama. Ini bukan hanya sebagai respons terhadap fenomena telinga berdengung, tetapi juga bentuk kecintaan kepada Rasul.
Doa yang sering dianjurkan adalah:
“Dzakarallahu man dzakarani bi khairin”
Artinya: “Semoga Allah mengingat orang yang mengingatku dengan kebaikan.”
Doa ini juga disebut dalam buku 300 Doa dan Dzikir Pilihan, sebagai bentuk balasan kebaikan bagi sesama.
Momentum ini bisa dimanfaatkan untuk kembali mengingat Allah SWT. Dalam Ihya Ulumuddin, Imam Al-Ghazali menekankan bahwa dzikir adalah sarana menghidupkan hati yang sering lalai.
Baca juga: Doa Susah Tidur, Amalan yang Diajarkan Rasulullah SAW untuk Atasi Insomnia
Di sisi lain, dunia medis menjelaskan telinga berdengung sebagai kondisi yang disebut tinnitus.
Ini adalah persepsi suara tanpa sumber eksternal, yang bisa berupa dengungan, desisan, atau nada tinggi.
Menurut literatur medis seperti yang dijelaskan dalam berbagai jurnal kesehatan dan referensi klinis, tinnitus bukan penyakit, melainkan gejala dari kondisi tertentu.
Penyebab Umum Tinnitus:
Dalam buku Oxford Handbook of Audiology, tinnitus dijelaskan sebagai kondisi yang berkaitan erat dengan sistem saraf pendengaran, bukan fenomena supranatural.
Jika telinga berdengung terjadi sesekali, biasanya tidak berbahaya. Namun perlu perhatian medis jika:
Penanganannya bisa berupa terapi suara, pengelolaan stres, hingga terapi perilaku kognitif (CBT).
Baca juga: Doa Rasulullah untuk Mengusir Jin: Arab, Latin, dan Artinya, Dibaca Saat Terkena Gangguan Gaib
Islam tidak menolak penjelasan ilmiah. Justru, keduanya bisa berjalan beriringan. Fenomena telinga berdengung dapat dipahami sebagai:
Dalam buku The Study Quran, dijelaskan bahwa Islam mendorong keseimbangan antara akal dan iman. Artinya, setiap fenomena bisa dilihat dari dua sisi tanpa harus saling meniadakan.
Telinga berdengung bukan sekadar suara tanpa makna. Ia bisa menjadi pengingat, baik secara fisik maupun spiritual.
Apakah benar ada yang membicarakan kita? Tidak ada kepastian dalam ajaran Islam yang menegaskan hal tersebut. Namun, yang pasti, setiap momen bisa menjadi jalan untuk mendekat kepada Allah.
Di situlah letak hikmahnya, bukan pada bunyi yang terdengar, tetapi pada bagaimana kita meresponsnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang