Editor
KOMPAS.com - Setelah momen hangat libur Lebaran berlalu—silaturahmi, kumpul keluarga, makanan enak, dan suasana bahagia—tidak sedikit orang justru merasa kosong, lelah, bahkan seperti kehilangan semangat hidup.
Fenomena ini nyata dan punya istilah dalam dunia psikologi: post-holiday blues.
Bukan berarti Anda lemah. Justru ini adalah respons normal otak manusia setelah fase “bahagia intens” berakhir.
Dilansir dari Charlie Health, Post-holiday blues adalah kondisi penurunan suasana hati setelah periode liburan atau perayaan selesai, ditandai dengan perasaan sedih, lelah, dan kurang motivasi.
Baca juga: Outfit Lebaran Idul Adha 2026: Dari Shalat Id hingga Nonton Kurban, Hindari Warna Mencolok
Kondisi ini bisa muncul setelah liburan panjang, termasuk setelah Lebaran. Gejalanya antara lain merasa kosong atau hampa; malas kembali kerja; mudah lelah; kehilangan semangat, dan; sulit fokus.
Bahkan, sebagian orang merasa seperti “down tanpa alasan jelas”.
Selama Lebaran, emosi kita berada di level tinggi:
Begitu semua selesai, otak mengalami penurunan drastis (emotional crash).
Ahli menyebut ini sebagai efek “letdown after excitement”—rasa hampa setelah momen besar berakhir.
Ibaratnya begini: Dari 100 turun ke 40 dalam waktu cepat.
Setelah Lebaran biasanya kita dihadapi dengan pekerjaan numpuk, deadline menunggu dan rutinitas balik lagi.
Perubahan mendadak ini bikin otak merasa “kaget”.
Penelitian yang dipublikasikan oleh PubMed, kondisi tersebut menunjukkan efek positif liburan cepat hilang saat kembali bekerja.
Selama Lebaran biasanya rumah ramai, aktivitas padat, dan interaksi sosial tinggi. Kita berkumpul dan bercanda ria bersama keluarga yang sudah lama tidak bertemu.
Namun setelah itu, tiba-tiba sepi. Perubahan ini, menurut Rosecrance, menciptakan kekosongan emosional yang terasa nyata.
Realita pahit setelah Lebaran:
Stres finansial ini terbukti bisa memicu kecemasan dan penurunan mood.
Lebaran sering jadi momen refleksi:
Menurut studi, periode liburan sering memicu evaluasi diri yang berujung rasa gagal atau penyesalan.
Selama Lebaran, kita biasanya kurang tidur, makan berlebihan, dan aktivitas padat. Hal itu berakibat turunnya energi dan mood.
Kondisi ini bisa bikin kita merasa lelah secara fisik dan emosional sekaligus.
Penting dibedakan antara post-holiday blues dan depresi klinis.
Menurut Rosecrance, post-holiday blues bersifat sementara. Biasanya hilang dalam beberapa hari atau minggu.
Sementara, depresi klinis biasanya berlangsung lebih dari 2 minggu dan sangat mengganggu aktivitas. Kondisi ini, menurut studi, memerlukan bantuan profesional.
Psikolog menjelaskan bahwa saat liburan terjadi lonjakan dopamin (hormon bahagia). Lalu setelah itu dopamin mengalami penurunan drastis.
Akibatnya, tubuh mengalami “emotional withdrawal” atau penarikan dari kondisi bahagia.
Kalau kamu lagi ngerasain ini, lakukan hal simpel:
Kasih waktu adaptasi 1–2 hari.
Misalnya ngopi favorit, jalan santai atau menonton film keusakaan.
Misalnya dengan tidur cukup, kurangi gula dan junk food, serta olahraga ringan.
Jangan langsung “hilang” dari sosial.
Perasaan sedih setelah Lebaran itu bukan aneh. Justru itu tanda bahwa kamu baru saja mengalami momen yang sangat berarti.
Masalahnya bukan di kamu, tapi di kontras antara “bahagia intens” dan “realita sehari-hari”.
Baca juga: Lebaran Haji 2026 Tanggal Berapa? Ini Jadwal dan Cuti Bersama
Kalau kamu merasa kosong setelah Lebaran, ingat satu hal bahwa kamu tidak sendiri.
Banyak orang mengalami hal yang sama—dan itu normal.
Yang penting bukan menghindari rasa itu, tetapi memahami dan pelan-pelan kembali ke ritme hidup.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang