Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Setelah Lebaran, Kenapa Orang Tiba-tiba Depresi? Ini Penjelasannya

Kompas.com, 14 April 2026, 12:50 WIB
Farid Assifa

Editor

KOMPAS.com - Setelah momen hangat libur Lebaran berlalu—silaturahmi, kumpul keluarga, makanan enak, dan suasana bahagia—tidak sedikit orang justru merasa kosong, lelah, bahkan seperti kehilangan semangat hidup.

Fenomena ini nyata dan punya istilah dalam dunia psikologi: post-holiday blues.

Bukan berarti Anda lemah. Justru ini adalah respons normal otak manusia setelah fase “bahagia intens” berakhir.

Apa Itu Post-Holiday Blues?

Dilansir dari Charlie Health, Post-holiday blues adalah kondisi penurunan suasana hati setelah periode liburan atau perayaan selesai, ditandai dengan perasaan sedih, lelah, dan kurang motivasi.

Baca juga: Outfit Lebaran Idul Adha 2026: Dari Shalat Id hingga Nonton Kurban, Hindari Warna Mencolok

Kondisi ini bisa muncul setelah liburan panjang, termasuk setelah Lebaran. Gejalanya antara lain merasa kosong atau hampa; malas kembali kerja; mudah lelah; kehilangan semangat, dan; sulit fokus.

Bahkan, sebagian orang merasa seperti “down tanpa alasan jelas”.

Kenapa Setelah Lebaran Justru Drop?

1. Turun dari Puncak Bahagia

Selama Lebaran, emosi kita berada di level tinggi:

  • Ketemu keluarga
  • Dapat THR
  • Libur panjang

Begitu semua selesai, otak mengalami penurunan drastis (emotional crash).

Ahli menyebut ini sebagai efek “letdown after excitement”—rasa hampa setelah momen besar berakhir.

Ibaratnya begini: Dari 100 turun ke 40 dalam waktu cepat.

2. Kembali ke Realita yang Berat

Setelah Lebaran biasanya kita dihadapi dengan pekerjaan numpuk, deadline menunggu dan rutinitas balik lagi.

Perubahan mendadak ini bikin otak merasa “kaget”.

Penelitian yang dipublikasikan oleh PubMed, kondisi tersebut menunjukkan efek positif liburan cepat hilang saat kembali bekerja.

3. Efek “Kosong Setelah Ramai”

Selama Lebaran biasanya rumah ramai, aktivitas padat, dan interaksi sosial tinggi. Kita berkumpul dan bercanda ria bersama keluarga yang sudah lama tidak bertemu.

Namun setelah itu, tiba-tiba sepi. Perubahan ini, menurut Rosecrance, menciptakan kekosongan emosional yang terasa nyata. 

4. Tekanan Finansial Setelah THR

Realita pahit setelah Lebaran:

  • THR habis
  • Pengeluaran naik
  • Tagihan datang

Stres finansial ini terbukti bisa memicu kecemasan dan penurunan mood.

5. Refleksi Hidup yang “Ngena”

Lebaran sering jadi momen refleksi:

  • “Kenapa hidup gue masih gini?”
  • “Kok belum berhasil?”

Menurut studi, periode liburan sering memicu evaluasi diri yang berujung rasa gagal atau penyesalan.

6. Tubuh dan Mental Ikut Capek

Selama Lebaran, kita biasanya kurang tidur, makan berlebihan, dan aktivitas padat. Hal itu berakibat turunnya energi dan mood.

Kondisi ini bisa bikin kita merasa lelah secara fisik dan emosional sekaligus.

Apakah Ini Termasuk Depresi?

Penting dibedakan antara post-holiday blues dan depresi klinis.

Menurut Rosecrance, post-holiday blues bersifat sementara. Biasanya hilang dalam beberapa hari atau minggu.

Sementara, depresi klinis biasanya berlangsung lebih dari 2 minggu dan sangat mengganggu aktivitas. Kondisi ini, menurut studi, memerlukan bantuan profesional.

Kenapa Ini Wajar Terjadi?

Psikolog menjelaskan bahwa saat liburan terjadi lonjakan dopamin (hormon bahagia). Lalu setelah itu dopamin mengalami penurunan drastis.

Akibatnya, tubuh mengalami “emotional withdrawal” atau penarikan dari kondisi bahagia.

Cara Mengatasi (Biar Gak Berlarut)

Kalau kamu lagi ngerasain ini, lakukan hal simpel:

1. Jangan langsung “gas kerja”

Kasih waktu adaptasi 1–2 hari.

2. Buat hal kecil yang ditunggu

Misalnya ngopi favorit, jalan santai atau menonton film keusakaan.

3. Jaga rutinitas sehat

Misalnya dengan tidur cukup, kurangi gula dan junk food, serta olahraga ringan.

4. Tetap terhubung

Jangan langsung “hilang” dari sosial.

Intinya…

Perasaan sedih setelah Lebaran itu bukan aneh. Justru itu tanda bahwa kamu baru saja mengalami momen yang sangat berarti.

Masalahnya bukan di kamu, tapi di kontras antara “bahagia intens” dan “realita sehari-hari”.

Baca juga: Lebaran Haji 2026 Tanggal Berapa? Ini Jadwal dan Cuti Bersama

Kalau kamu merasa kosong setelah Lebaran, ingat satu hal bahwa kamu tidak sendiri.

Banyak orang mengalami hal yang sama—dan itu normal.

Yang penting bukan menghindari rasa itu, tetapi memahami dan pelan-pelan kembali ke ritme hidup.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Hukum Mengumandangkan Adzan untuk Jenazah Saat Dimakamkan, Begini Penjelasan Ulama
Hukum Mengumandangkan Adzan untuk Jenazah Saat Dimakamkan, Begini Penjelasan Ulama
Aktual
Doa Masuk dan Keluar Kamar Mandi Lengkap: Arab, Latin, Arti, serta Hadis Anjuran Membacanya
Doa Masuk dan Keluar Kamar Mandi Lengkap: Arab, Latin, Arti, serta Hadis Anjuran Membacanya
Doa dan Niat
4 Keutamaan Menjaga Wudhu, dari Penghapus Dosa hingga Menjadi Cahaya di Hari Kiamat
4 Keutamaan Menjaga Wudhu, dari Penghapus Dosa hingga Menjadi Cahaya di Hari Kiamat
Aktual
Doa Setelah Adzan dan Iqomah Lengkap: Arab, Latin, Arti, serta Keutamaannya
Doa Setelah Adzan dan Iqomah Lengkap: Arab, Latin, Arti, serta Keutamaannya
Doa dan Niat
Keutamaan Membaca Surat Al-Ikhlas: Setara Sepertiga Al-Quran hingga Dibangunkan Rumah di Surga
Keutamaan Membaca Surat Al-Ikhlas: Setara Sepertiga Al-Quran hingga Dibangunkan Rumah di Surga
Aktual
Menko Zulhas Prioritaskan MBG untuk Pesantren dan Wilayah 3T
Menko Zulhas Prioritaskan MBG untuk Pesantren dan Wilayah 3T
Aktual
Ketua MPR: Transformasi Pesantren Bukan Lagi Pilihan, tetapi Keharusan
Ketua MPR: Transformasi Pesantren Bukan Lagi Pilihan, tetapi Keharusan
Aktual
Guru Besar UGM Desak MUI Keluarkan Fatwa Haram Intervensi Politik di Pengadilan
Guru Besar UGM Desak MUI Keluarkan Fatwa Haram Intervensi Politik di Pengadilan
Aktual
Baznas: Zakat ASN Sukarela, Bukan Pungutan Wajib Negara
Baznas: Zakat ASN Sukarela, Bukan Pungutan Wajib Negara
Aktual
Syarat Sah Membaca Surat Al-Fatihah Saat Shalat, Muslim Wajib Memahaminya
Syarat Sah Membaca Surat Al-Fatihah Saat Shalat, Muslim Wajib Memahaminya
Aktual
Sejumlah Perkara yang Membuat Shalat Tidak Sah, Muslim Wajib Tahu
Sejumlah Perkara yang Membuat Shalat Tidak Sah, Muslim Wajib Tahu
Aktual
Bacaan Lafadz Adzan, Lengkap dengan Hukum, Dalil, dan Pahala Mengumandangkannya
Bacaan Lafadz Adzan, Lengkap dengan Hukum, Dalil, dan Pahala Mengumandangkannya
Aktual
6 Kesalahan Saat Shalat yang Sering Dilakukan, Bisa Mengurangi Kesempurnaan Ibadah
6 Kesalahan Saat Shalat yang Sering Dilakukan, Bisa Mengurangi Kesempurnaan Ibadah
Aktual
Dari Penerima Jadi Pemberi, Petani Ini Setor Zakat Pertanian Rp 16 Juta
Dari Penerima Jadi Pemberi, Petani Ini Setor Zakat Pertanian Rp 16 Juta
Aktual
MUI Apresiasi Prabowo Jalankan Ekonomi Kerakyatan, Sebut Baru Kali Ini Presiden Tegas Terapkan Pasal 33 UUD 1945
MUI Apresiasi Prabowo Jalankan Ekonomi Kerakyatan, Sebut Baru Kali Ini Presiden Tegas Terapkan Pasal 33 UUD 1945
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar