KOMPAS.com – Ibadah haji bukan sekadar perjalanan fisik menuju Tanah Suci, tetapi juga perjalanan spiritual yang penuh makna.
Setiap tahapan dalam haji telah diatur secara rinci dalam syariat Islam, termasuk rukun-rukun yang menjadi syarat sahnya ibadah ini.
Haji hanya dapat dilaksanakan pada bulan-bulan tertentu, yakni Syawal, Dzulqaidah, dan Dzulhijjah, dengan puncaknya pada 8 hingga 13 Dzulhijjah.
Pada fase inilah jutaan umat Islam dari seluruh dunia berkumpul di Mekkah untuk menunaikan rangkaian ibadah yang telah diwariskan sejak zaman Nabi Ibrahim AS.
Dalam pelaksanaannya, terdapat enam rukun haji yang wajib dilakukan secara berurutan. Rukun ini tidak bisa digantikan oleh orang lain dan tidak dapat ditebus dengan dam (denda). Jika salah satu rukun ditinggalkan, maka ibadah haji menjadi tidak sah.
Dalam literatur fikih, rukun haji diartikan sebagai amalan pokok yang harus dilakukan dalam ibadah haji. Berbeda dengan wajib haji yang masih bisa diganti dengan dam, rukun haji bersifat mutlak.
Dalam buku Fiqh Islam wa Adillatuhu karya Wahbah Az-Zuhaili dijelaskan bahwa rukun haji merupakan inti dari ibadah yang tidak boleh ditinggalkan dalam kondisi apa pun.
Hal ini menunjukkan bahwa haji bukan hanya ritual simbolik, melainkan ibadah dengan struktur yang sangat sistematis.
Baca juga: Jelang Haji 2026, Arab Saudi Terapkan Izin Masuk Makkah Secara Online, Begini Caranya
Rukun pertama adalah ihram, yaitu niat untuk memulai ibadah haji yang ditandai dengan mengenakan pakaian ihram. Proses ini dilakukan di tempat yang telah ditentukan, yang disebut miqat.
Lafaz niat haji berbunyi:
Nawaitul hajja wa ahramtu bihi lillahi ta’ala
Artinya: Aku berniat haji dengan berihram karena Allah Taala.
Setelah berihram, jemaah harus menjaga diri dari berbagai larangan, seperti menggunakan wewangian, memotong rambut atau kuku, hingga melakukan hubungan suami-istri.
Menurut Sayyid Sabiq dalam Fiqh Sunnah, ihram bukan hanya perubahan pakaian, tetapi juga simbol kesucian dan kesetaraan manusia di hadapan Allah.
Wukuf di Arafah merupakan inti dari ibadah haji. Rasulullah SAW bersabda, “Haji adalah Arafah.”
Pelaksanaan wukuf dilakukan pada 9 Dzulhijjah, mulai dari tergelincirnya matahari hingga terbenam.
Pada saat ini, jemaah dianjurkan memperbanyak doa, dzikir, istighfar, dan membaca Al-Qur’an.
Dalam buku Ar-Raheeq Al-Makhtum karya Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri, wukuf digambarkan sebagai momen refleksi total, di mana manusia berdiri di hadapan Allah dengan penuh kerendahan hati.
Rukun berikutnya adalah thawaf ifadhah, yaitu mengelilingi Kabah sebanyak tujuh kali.
Thawaf dimulai dari Hajar Aswad dan dilakukan dengan posisi Kabah berada di sebelah kiri jemaah.
Syarat utama thawaf adalah dalam keadaan suci dari hadas kecil maupun besar.
Menurut Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab, thawaf mencerminkan ketundukan total manusia kepada Allah sebagai pusat kehidupan.
Baca juga: Hanya Pemilik Salah Satu Dokumen Ini Bisa Masuk Makkah Jelang Haji 2026
Sai dilakukan dengan berjalan antara Bukit Safa dan Bukit Marwah sebanyak tujuh kali.
Ibadah ini mengenang perjuangan Siti Hajar saat mencari air untuk putranya, Nabi Ismail AS. Dari usaha itulah kemudian Allah menghadirkan air zamzam sebagai karunia.
Dalam buku Sejarah Haji karya F.E. Peters, sai disebut sebagai simbol usaha manusia yang tidak boleh berhenti, meski dalam kondisi sulit sekalipun.
Tahallul adalah mencukur atau memotong rambut sebagai tanda berakhirnya sebagian rangkaian ibadah haji.
Bagi laki-laki, disunnahkan mencukur habis rambut kepala. Sementara perempuan cukup memotong sebagian kecil rambut.
Tahallul terbagi menjadi dua, tahallul awwal dan tahallul tsani. Keduanya menandai tahapan kebebasan dari larangan ihram.
Rukun terakhir adalah tertib, yaitu melaksanakan seluruh rangkaian rukun haji secara berurutan.
Jika urutan ini tidak dipenuhi atau ada rukun yang terlewat, maka ibadah haji menjadi tidak sah.
Hal ini menegaskan bahwa haji bukan hanya soal pelaksanaan, tetapi juga tentang kedisiplinan dalam mengikuti ketentuan syariat.
Baca juga: Urutan Ibadah Haji 2026: Dari Tarwiyah hingga Tawaf Wada’
Keenam rukun haji tersebut menunjukkan bahwa ibadah ini bukan sekadar ritual, tetapi sistem ibadah yang menyentuh aspek fisik, spiritual, dan sosial sekaligus.
Dalam perspektif Islam, haji mengajarkan kesetaraan, kesabaran, dan ketundukan total kepada Allah. Jutaan manusia berkumpul tanpa membedakan status sosial, ras, maupun kebangsaan.
Sebagaimana dijelaskan dalam berbagai literatur klasik, haji merupakan miniatur kehidupan manusia, perjalanan yang penuh ujian, tetapi berujung pada penyucian diri.
Memahami rukun haji bukan hanya penting bagi calon jemaah, tetapi juga bagi setiap Muslim yang ingin memahami makna ibadah ini secara lebih dalam.
Dari ihram hingga tertib, setiap rukun menyimpan pesan spiritual yang mendalam. Ia mengajarkan bahwa dalam setiap langkah menuju Allah, ada aturan yang harus dijaga dan niat yang harus diluruskan.
Haji bukan sekadar perjalanan ke Mekkah, tetapi perjalanan menuju kesempurnaan iman.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang