Editor
KOMPAS.com - AlUla merupakan salah satu destinasi bersejarah di Arab Saudi yang kini berkembang menjadi pusat wisata budaya dan arkeologi dunia.
Kawasan ini dulunya menjadi persimpangan peradaban kuno dan bagian dari Kerajaan Nabataean.
AlUla juga menjadi rumah bagi situs warisan dunia pertama Saudi, yakni Hegra.
Perpaduan nilai sejarah dan kemewahan modern menjadikan AlUla sebagai destinasi unik yang terus menarik wisatawan global.
Dilansir dari laman UNESCO dan Visit Saudi, berikut adalah ulasan singkat mengenai AlUla.
Baca juga: 7 Destinasi Wisata di AlUla Arab Saudi, Coba Lihat Milky Way di Gurun
Terletak di Provinsi Madinah, wilayah barat laut Arab Saudi, AlUla dikenal sebagai oasis subur di tengah gurun yang telah lama menjadi pusat aktivitas manusia.
Kawasan ini dulunya menjadi titik persinggahan penting dalam jalur perdagangan kuno yang menghubungkan Semenanjung Arab dengan peradaban besar di Timur dan Barat.
Wisatawan datang untuk menikmati kekayaan sejarah sekaligus pengalaman wisata modern.
Mulai dari menjelajahi Kota Tua AlUla, mengunjungi formasi batu unik seperti Elephant Rock, hingga menghadiri konser di Maraya Concert Hall, bangunan cermin terbesar di dunia.
Baca juga: Sejarah Al Ula, Kota di Arab Saudi yang Dipercaya Terkutuk
Hegra atau Al-Hijr merupakan kota kuno selatan milik bangsa Nabataean yang kini berstatus situs Warisan Dunia UNESCO.
Terdapat 111 makam yang dipahat langsung pada batu-batu gurun, memperlihatkan perpaduan budaya dari berbagai peradaban.
Dari fasad makam, para arkeolog menemukan pengaruh Mesopotamia, Mesir, hingga Yunani-Romawi.
Banyak makam juga memuat tulisan kuno yang menunjukkan identitas pemiliknya atau doa perlindungan.
Sekitar 2.000 tahun lalu, Hegra berkembang pesat berkat jalur perdagangan kafilah. Oasis AlUla itu menjadi tempat penting untuk mengisi perbekalan seperti air dan kurma.
Pada abad pertama Masehi, Hegra bahkan menjadi ibu kota selatan bangsa Nabataean, peradaban yang juga membangun Petra di Yordania.
Salah satu peninggalan sejarah di AlUla, Saudi Arabia.Pada 2016, pemerintah Arab Saudi meluncurkan visi besar untuk mendiversifikasi ekonomi, termasuk mengembangkan sektor pariwisata.
Dibentuklah Royal Commission for AlUla untuk melindungi dan mengembangkan warisan budaya AlUla.
Sejak itu, para ahli dari berbagai negara—mulai dari arkeolog hingga arsitek—dilibatkan dalam transformasi AlUla menjadi pusat budaya global.
Targetnya, kawasan ini mampu menarik hingga satu juta wisatawan per tahun pada 2030.
Sejumlah hotel besar dan akomodasi telah dibangun sejak 2018, serta pengembangan bandara AlUla untuk mendukung lonjakan wisatawan.
AlUla kini menjadi “tambang emas” bagi para arkeolog. Ribuan temuan arkeologi telah diidentifikasi di kawasan ini.
Sejak 2017, puluhan misi penelitian dari lebih 20 negara dilakukan untuk mengungkap sejarah panjang wilayah ini.
Penemuan penting termasuk kapak batu terbesar di dunia yang diperkirakan berusia 200.000 tahun.
Selain itu, ditemukan pula struktur batu besar berbentuk persegi panjang yang disebut mustatils, yang diperkirakan digunakan untuk ritual sekitar 7.000 tahun lalu.
Temuan ini menunjukkan bahwa AlUla pada masa lampau kemungkinan memiliki kondisi subur seperti wilayah Bulan Sabit Subur di Mesopotamia.
Salah satu situs paling menarik adalah Jabal Ikmah yang dikenal sebagai “perpustakaan terbuka”. Situs ini masuk dalam daftar Memory of the World UNESCO pada 2023.
Di dinding batu lembah ini terdapat sekitar 300 ukiran tulisan kuno dari berbagai bahasa seperti Aram, Safaitik, Minaik, dan Nabataean.
Mayoritas tulisan menggunakan bahasa Dadanitik, bahasa dari kerajaan kuno Dadan dan Lihyan yang berkembang antara 800 hingga 100 SM.
Tulisan-tulisan ini membantu para peneliti mengungkap sejarah peradaban lokal yang pernah berjaya di kawasan tersebut.
Situs Dadan menjadi bukti kejayaan kota kuno di AlUla. Salah satu ciri khasnya adalah makam berbentuk lubang persegi di tebing batu yang dijaga patung singa.
Batu hasil pahatan makam digunakan kembali untuk membangun permukiman di sekitarnya. Hingga kini, kawasan ini masih menjadi lokasi penelitian arkeologi penting.
Meja dan kursi dengan latar suasana di AlUla, Madinah, Arab Saudi.Salah satu temuan penting adalah prasasti Arab Islam tertua bertanggal 644 Masehi yang berbunyi:
“In the name of God, I Zuhair wrote the date of death of Omar the year four and twenty.”
Temuan ini menunjukkan peran AlUla sebagai jalur penting dalam perjalanan haji dari Damaskus menuju Mekkah.
Pada abad ke-12, kawasan ini berkembang menjadi kota baru yang kini dikenal sebagai Kota Tua AlUla.
Kini, AlUla tidak hanya menawarkan sejarah, tetapi juga pengalaman wisata modern.
Pengunjung dapat menjelajahi Kota Tua AlUla yang telah direstorasi, lengkap dengan kafe, toko kerajinan, dan jalur pedestrian.
Jika dahulu para pelancong datang dengan unta, kini wisatawan dapat menggunakan bus listrik.
Namun, tradisi lama tetap terasa, termasuk sajian kurma khas AlUla yang masih menjadi bagian dari pengalaman perjalanan.
AlUla menghadirkan perpaduan unik antara warisan sejarah, penemuan arkeologi, dan pengembangan modern, menjadikannya salah satu destinasi paling menarik di dunia saat ini.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang