Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mengintip AlUla, Oasis Gurun Warisan Dunia UNESCO yang Menyimpan Jejak Peradaban Arab Kuno

Kompas.com, 12 April 2026, 18:21 WIB
Add on Google
Puspasari Setyaningrum

Editor

KOMPAS.com - AlUla merupakan salah satu destinasi bersejarah di Arab Saudi yang kini berkembang menjadi pusat wisata budaya dan arkeologi dunia.

Kawasan ini dulunya menjadi persimpangan peradaban kuno dan bagian dari Kerajaan Nabataean.

AlUla juga menjadi rumah bagi situs warisan dunia pertama Saudi, yakni Hegra.

Perpaduan nilai sejarah dan kemewahan modern menjadikan AlUla sebagai destinasi unik yang terus menarik wisatawan global.

Dilansir dari laman UNESCO dan Visit Saudi, berikut adalah ulasan singkat mengenai AlUla.

Baca juga: 7 Destinasi Wisata di AlUla Arab Saudi, Coba Lihat Milky Way di Gurun

AlUla, Oasis Bersejarah di Tengah Gurun

Terletak di Provinsi Madinah, wilayah barat laut Arab Saudi, AlUla dikenal sebagai oasis subur di tengah gurun yang telah lama menjadi pusat aktivitas manusia.

Kawasan ini dulunya menjadi titik persinggahan penting dalam jalur perdagangan kuno yang menghubungkan Semenanjung Arab dengan peradaban besar di Timur dan Barat.

Wisatawan datang untuk menikmati kekayaan sejarah sekaligus pengalaman wisata modern.

Mulai dari menjelajahi Kota Tua AlUla, mengunjungi formasi batu unik seperti Elephant Rock, hingga menghadiri konser di Maraya Concert Hall, bangunan cermin terbesar di dunia.

Baca juga: Sejarah Al Ula, Kota di Arab Saudi yang Dipercaya Terkutuk

Hegra, Situs Warisan Dunia UNESCO

Hegra atau Al-Hijr merupakan kota kuno selatan milik bangsa Nabataean yang kini berstatus situs Warisan Dunia UNESCO.

Terdapat 111 makam yang dipahat langsung pada batu-batu gurun, memperlihatkan perpaduan budaya dari berbagai peradaban.

Dari fasad makam, para arkeolog menemukan pengaruh Mesopotamia, Mesir, hingga Yunani-Romawi.

Banyak makam juga memuat tulisan kuno yang menunjukkan identitas pemiliknya atau doa perlindungan.

Sekitar 2.000 tahun lalu, Hegra berkembang pesat berkat jalur perdagangan kafilah. Oasis AlUla itu menjadi tempat penting untuk mengisi perbekalan seperti air dan kurma.

Pada abad pertama Masehi, Hegra bahkan menjadi ibu kota selatan bangsa Nabataean, peradaban yang juga membangun Petra di Yordania.

Salah satu peninggalan sejarah di AlUla, Saudi Arabia.Pexels/Kerim Kochekov Salah satu peninggalan sejarah di AlUla, Saudi Arabia.

Transformasi AlUla di Era Modern

Pada 2016, pemerintah Arab Saudi meluncurkan visi besar untuk mendiversifikasi ekonomi, termasuk mengembangkan sektor pariwisata.

Dibentuklah Royal Commission for AlUla untuk melindungi dan mengembangkan warisan budaya AlUla.

Sejak itu, para ahli dari berbagai negara—mulai dari arkeolog hingga arsitek—dilibatkan dalam transformasi AlUla menjadi pusat budaya global.

Targetnya, kawasan ini mampu menarik hingga satu juta wisatawan per tahun pada 2030.

Sejumlah hotel besar dan akomodasi telah dibangun sejak 2018, serta pengembangan bandara AlUla untuk mendukung lonjakan wisatawan.

Surga Penelitian Arkeologi

AlUla kini menjadi “tambang emas” bagi para arkeolog. Ribuan temuan arkeologi telah diidentifikasi di kawasan ini.

Sejak 2017, puluhan misi penelitian dari lebih 20 negara dilakukan untuk mengungkap sejarah panjang wilayah ini.

Penemuan penting termasuk kapak batu terbesar di dunia yang diperkirakan berusia 200.000 tahun.

Selain itu, ditemukan pula struktur batu besar berbentuk persegi panjang yang disebut mustatils, yang diperkirakan digunakan untuk ritual sekitar 7.000 tahun lalu.

Temuan ini menunjukkan bahwa AlUla pada masa lampau kemungkinan memiliki kondisi subur seperti wilayah Bulan Sabit Subur di Mesopotamia.

Jabal Ikmah, Perpustakaan Terbuka

Salah satu situs paling menarik adalah Jabal Ikmah yang dikenal sebagai “perpustakaan terbuka”. Situs ini masuk dalam daftar Memory of the World UNESCO pada 2023.

Di dinding batu lembah ini terdapat sekitar 300 ukiran tulisan kuno dari berbagai bahasa seperti Aram, Safaitik, Minaik, dan Nabataean.

Mayoritas tulisan menggunakan bahasa Dadanitik, bahasa dari kerajaan kuno Dadan dan Lihyan yang berkembang antara 800 hingga 100 SM.

Tulisan-tulisan ini membantu para peneliti mengungkap sejarah peradaban lokal yang pernah berjaya di kawasan tersebut.

Dadan, Kota Kuno yang Pernah Jaya

Situs Dadan menjadi bukti kejayaan kota kuno di AlUla. Salah satu ciri khasnya adalah makam berbentuk lubang persegi di tebing batu yang dijaga patung singa.

Batu hasil pahatan makam digunakan kembali untuk membangun permukiman di sekitarnya. Hingga kini, kawasan ini masih menjadi lokasi penelitian arkeologi penting.

Meja dan kursi dengan latar suasana di AlUla, Madinah, Arab Saudi.Pexels/Tyrrel Burns Meja dan kursi dengan latar suasana di AlUla, Madinah, Arab Saudi.

AlUla dan Jejak Awal Islam

Salah satu temuan penting adalah prasasti Arab Islam tertua bertanggal 644 Masehi yang berbunyi:

“In the name of God, I Zuhair wrote the date of death of Omar the year four and twenty.”

Temuan ini menunjukkan peran AlUla sebagai jalur penting dalam perjalanan haji dari Damaskus menuju Mekkah.

Pada abad ke-12, kawasan ini berkembang menjadi kota baru yang kini dikenal sebagai Kota Tua AlUla.

Wisata Modern di Kota Tua AlUla

Kini, AlUla tidak hanya menawarkan sejarah, tetapi juga pengalaman wisata modern.

Pengunjung dapat menjelajahi Kota Tua AlUla yang telah direstorasi, lengkap dengan kafe, toko kerajinan, dan jalur pedestrian.

Jika dahulu para pelancong datang dengan unta, kini wisatawan dapat menggunakan bus listrik.

Namun, tradisi lama tetap terasa, termasuk sajian kurma khas AlUla yang masih menjadi bagian dari pengalaman perjalanan.

AlUla menghadirkan perpaduan unik antara warisan sejarah, penemuan arkeologi, dan pengembangan modern, menjadikannya salah satu destinasi paling menarik di dunia saat ini.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
4 Amalan yang Dianjurkan pada Hari Tasyrik 11, 12, dan 13 Zulhijjah
4 Amalan yang Dianjurkan pada Hari Tasyrik 11, 12, dan 13 Zulhijjah
Aktual
Potret Toleransi dalam Perayaan Idul Adha di Gumuk Pasir Parangkusumo
Potret Toleransi dalam Perayaan Idul Adha di Gumuk Pasir Parangkusumo
Aktual
Irfan Hakim Bagikan Lebih dari 5.000 Paket Daging Kurban pada Idul Adha 1447 H
Irfan Hakim Bagikan Lebih dari 5.000 Paket Daging Kurban pada Idul Adha 1447 H
Aktual
Masjid Istiqlal Bagikan 10.728 Bungkus Daging Kurban, Ada Sapi Presiden
Masjid Istiqlal Bagikan 10.728 Bungkus Daging Kurban, Ada Sapi Presiden
Aktual
PPIH Arab Saudi Larang Jemaah Haji Lempar Jumrah Pukul 10.00-14.00 WAS
PPIH Arab Saudi Larang Jemaah Haji Lempar Jumrah Pukul 10.00-14.00 WAS
Aktual
Jemaah Haji NTB yang Meninggal di Arab Saudi Bertambah Jadi Lima Orang
Jemaah Haji NTB yang Meninggal di Arab Saudi Bertambah Jadi Lima Orang
Aktual
Idul Adha 1447 H Jadi Momentum Kompas Gramedia Perkuat Semangat Berbagi
Idul Adha 1447 H Jadi Momentum Kompas Gramedia Perkuat Semangat Berbagi
Aktual
Calon Haji Jambi Wafat di Arafah, Ibadah Hajinya Akan Dibadalkan
Calon Haji Jambi Wafat di Arafah, Ibadah Hajinya Akan Dibadalkan
Aktual
Khutbah Idul Adha Mendiktisaintek di ITB: Jaga Keikhlasan, Ketakwaan, dan Kepedulian Sesama
Khutbah Idul Adha Mendiktisaintek di ITB: Jaga Keikhlasan, Ketakwaan, dan Kepedulian Sesama
Aktual
Haji di Bawah Bayang Perang: Dari Ritual Spritual Menuju Gerakan Pencerahan
Haji di Bawah Bayang Perang: Dari Ritual Spritual Menuju Gerakan Pencerahan
Aktual
Tekan Sampah Plastik, Warga Sumenep Bungkus Daging Kurban dengan Daun Pisang
Tekan Sampah Plastik, Warga Sumenep Bungkus Daging Kurban dengan Daun Pisang
Aktual
Hari Tasyrik Berapa Hari? Ini Penjelasan Lengkap, Larangan Puasa hingga Amalan Utamanya
Hari Tasyrik Berapa Hari? Ini Penjelasan Lengkap, Larangan Puasa hingga Amalan Utamanya
Aktual
Kemenag Tegaskan Pelaku Cabul di Pekalongan Bukan Pimpinan Pesantren, tapi Pengasuh Padepokan
Kemenag Tegaskan Pelaku Cabul di Pekalongan Bukan Pimpinan Pesantren, tapi Pengasuh Padepokan
Aktual
Polemik Sapi Kurban Presiden dari APBN, Ini Penjelasan Guru Besar UIN
Polemik Sapi Kurban Presiden dari APBN, Ini Penjelasan Guru Besar UIN
Aktual
Tebuireng Bahas Hukum Basmi Ikan Sapu dan Lebur Jasad Manusia, Ini Penjelasannya
Tebuireng Bahas Hukum Basmi Ikan Sapu dan Lebur Jasad Manusia, Ini Penjelasannya
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com