Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Singgih Tri Sulistiyono
Guru Besar Sejarah Maritim Universitas Diponegoro

Guru Besar Sejarah Maritim pada Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro dan anggota Editor Umum penulisan kembali Sejarah Indonesia

Haji di Bawah Bayang Perang: Dari Ritual Spritual Menuju Gerakan Pencerahan

Kompas.com, 28 Mei 2026, 10:03 WIB
Add on Google
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

TAHUN ini, ibadah haji berlangsung dalam suasana dunia yang tidak biasa. Di tengah jutaan umat Islam yang melantunkan talbiyah di Tanah Suci, kawasan Timur Tengah justru kembali dipenuhi ketegangan geopolitik, perang, dan krisis kemanusiaan.

Konflik yang disulut oleh Israel dan Amerika Serikat yang menyerang Iran ini telah membuat dunia Islam berada dalam situasi paradoksal: pusat spiritual umat berada di tengah pusaran konflik global.

Di satu sisi, umat Islam berkumpul dalam simbol persaudaraan universal. Namun di sisi lain, dunia menyaksikan pembantaian, pengungsian, ketakutan, dan polarisasi politik yang semakin tajam.

Situasi ini memunculkan pertanyaan penting: apakah haji hari ini masih memiliki daya transformasi sosial dan moral bagi umat manusia, ataukah ia perlahan berubah menjadi ritual besar yang kehilangan energi pencerahan dan pembebasannya?

Dalam konteks inilah pemikiran seorang pemikir Islam progresif, Ali Shariati, menjadi penting untuk dibaca kembali.

Haji sebagai Gerakan Pencerahan dan Pembebasan

Dalam bukunya Haji, Ali Shariati memandang ibadah haji bukan sekadar kumpulan ritual keagamaan yang diulang setiap tahun, melainkan “drama simbolik” tentang perjalanan eksistensial manusia menuju pembebasan sejati.

Haji, bagi Shariati, adalah panggung besar tempat manusia diajak keluar dari keterasingannya, dari kepalsuan identitas sosial, dan dari sistem kehidupan yang membuat manusia kehilangan makna kemanusiaannya sendiri.

Shariati membaca setiap tahapan haji bukan hanya sebagai kewajiban syariat, tetapi sebagai bahasa simbolik yang menyimpan kritik mendalam terhadap struktur ketidakadilan dunia.

Karena itu, haji dalam pandangannya bukan sekadar ibadah spiritual individual, melainkan proses pembentukan kesadaran sosial dan moral.

Ihram, misalnya, bukan hanya pakaian putih tanpa jahitan. Dalam pembacaan Shariati, ihram adalah simbol penghancuran seluruh atribut palsu yang selama ini melekat pada manusia: kekuasaan, status sosial, ras, kebangsaan, kelas, bahkan ego dirinya sendiri.

Ketika jutaan manusia mengenakan pakaian yang sama, manusia dipaksa meninggalkan identitas-identitas artifisial yang selama ini membelah dan menghierarkikan kehidupan.

Raja dan rakyat biasa berdiri dalam bentuk yang sama. Yang kaya dan miskin melebur dalam simbol kesetaraan yang radikal. Di hadapan Tuhan, manusia tidak lagi dinilai dari simbol duniawinya, melainkan dari kualitas moral dan kemanusiaannya.

Tawaf juga tidak dipahami Shariati sekadar sebagai gerakan mengelilingi Ka’bah. Ia melihatnya sebagai simbol tentang pusat kehidupan manusia.

Manusia modern, menurut Shariati, sering menjadikan uang, kekuasaan, negara, ideologi, atau bahkan dirinya sendiri sebagai “tuhan-tuhan kecil” yang mengendalikan orbit kehidupannya.

Tawaf mengajarkan bahwa hanya Tuhan yang layak menjadi pusat orientasi hidup manusia. Ketika manusia kehilangan pusat moral itu, maka lahirlah kerakusan, perang, kolonialisme, dan penindasan.

Demikian pula Sa’i antara Shafa dan Marwah. Dalam ritual itu, Shariati melihat kisah Hajar bukan sekadar sejarah keluarga Nabi Ibrahim, melainkan simbol perjuangan manusia yang paling universal: perjuangan melawan keputusasaan.

Hajar adalah representasi manusia tertindas yang tidak menyerah pada keadaan. Ia berlari bukan karena kepastian, tetapi karena harapan. Ia mencari air di tengah padang tandus demi menyelamatkan kehidupan.

Karena itu, Sa’i bagi Shariati adalah simbol bahwa iman tidak pernah identik dengan pasrah tanpa usaha. Iman justru menuntut perjuangan aktif untuk menghadirkan kehidupan, keadilan, dan harapan bagi manusia lain.

Sedangkan Arafah dipahami sebagai puncak kesadaran. Di sana manusia berhenti dari seluruh hiruk-pikuk dunia untuk berhadapan dengan dirinya sendiri.

Shariati memandang Arafah sebagai ruang refleksi eksistensial: tempat manusia bertanya siapa dirinya, untuk apa ia hidup, dan kepada siapa ia berpihak.

Dalam kesadaran itu, manusia seharusnya menyadari bahwa agama bukan sekadar identitas formal, melainkan tanggung jawab moral terhadap sesama manusia.

Karena itulah Shariati melihat haji sebagai latihan besar untuk melahirkan manusia baru: manusia yang sadar, egaliter, anti-penindasan, dan berpihak pada kemanusiaan.

Haji seharusnya tidak berhenti di Mekkah, tetapi terus hidup setelah seseorang kembali ke negerinya. Orang yang pulang haji semestinya bukan hanya berubah gelar sosialnya, melainkan berubah cara pandangnya terhadap dunia dan penderitaan manusia.

Dari sinilah kritik Shariati menjadi sangat tajam dan tetap relevan hingga hari ini. Kritik utamanya sebenarnya bukan kepada ritual haji itu sendiri, melainkan kepada umat Islam yang menjalankan ritual tanpa transformasi sosial.

Haji sering berhasil menjadi pengalaman spiritual yang mengharukan, tetapi gagal menjadi kekuatan moral yang mengubah masyarakat.

Orang bisa menangis di depan Ka’bah, tetapi tetap diam terhadap ketidakadilan. Orang bisa khusyuk berdoa di Arafah, tetapi tetap hidup dalam egoisme sosial ketika kembali ke rumahnya.

Bagi Shariati, tragedi terbesar agama bukan ketika manusia meninggalkan ritual, melainkan ketika ritual kehilangan ruh pembebasannya.

Ketika haji hanya menjadi perjalanan fisik tanpa perjalanan kesadaran, maka agama perlahan berubah menjadi simbol yang megah, tetapi kehilangan daya transformasi bagi kemanusiaan.

Perang Timur Tengah

Relevansi terbesar pemikiran Ali Shariati hari ini terletak pada keberaniannya membaca agama bukan sekadar sebagai wilayah ibadah personal, tetapi sebagai sumber kesadaran moral untuk menghadapi krisis kemanusiaan.

Di tengah perang Timur Tengah yang terus meluas, pesan itu terasa semakin penting karena dunia modern sedang mengalami krisis yang bukan hanya politik, melainkan juga krisis nurani.

Konflik Gaza memperlihatkan paradoks besar peradaban manusia hari ini. Teknologi komunikasi berkembang sangat maju sehingga penderitaan dapat disaksikan secara langsung dari layar telepon genggam.

Dunia melihat anak-anak kehilangan keluarganya, rumah-rumah runtuh, rumah sakit hancur, dan ribuan manusia hidup tanpa kepastian.

Namun pada saat yang sama, kedekatan visual itu justru sering tidak melahirkan kedekatan emosional. Tragedi kemanusiaan perlahan berubah menjadi rutinitas informasi yang dikonsumsi setiap hari.

Manusia modern akhirnya hidup dalam situasi yang aneh: mengetahui banyak hal, tetapi semakin sulit merasakan penderitaan secara mendalam.

Di sinilah kritik Shariati menemukan relevansinya. Ia sejak awal mengingatkan bahwa ritual keagamaan akan kehilangan makna apabila tidak melahirkan perubahan kesadaran sosial.

Agama bisa tetap ramai dipraktikkan, tetapi pada saat yang sama kehilangan daya moralnya. Orang dapat khusyuk beribadah, tetapi tetap membiarkan ketidakadilan berlangsung tanpa kegelisahan batin.

Karena itu, dalam konteks perang Timur Tengah hari ini, haji seharusnya dibaca sebagai proses pemulihan sensitivitas kemanusiaan.

Ketika jutaan manusia berkumpul di Tanah Suci dengan pakaian ihram yang sama, sesungguhnya ada pesan mendalam bahwa seluruh manusia memiliki martabat yang setara.

Tidak ada bangsa yang lebih mulia karena kekuatan militernya. Tidak ada manusia yang lebih tinggi karena kekayaan atau pengaruh geopolitiknya. Semua kembali sebagai manusia yang rapuh di hadapan Tuhan.

Namun, justru di luar ruang spiritual itu, dunia terus bergerak dalam logika yang bertolak belakang: logika dominasi, kepentingan strategis, dan perebutan pengaruh global.

Kekuatan besar berbicara tentang demokrasi dan hak asasi manusia, tetapi pada saat yang sama tetap terlibat dalam produksi perang dan industri senjata. Dunia modern tampak semakin maju secara teknologi, tetapi semakin miskin secara moral.

Dalam situasi seperti ini, haji tidak cukup dipahami sebagai ritual individual menuju kesalehan pribadi. Haji seharusnya menjadi ruang lahirnya kesadaran global bahwa penderitaan manusia di belahan dunia mana pun adalah persoalan bersama.

Spirit universal haji semestinya melampaui batas nasionalisme sempit, rivalitas sektarian, dan polarisasi politik yang selama ini memecah dunia Islam.

Dalam konteks itu, pesan Shariati sebenarnya bukan sekadar ajakan untuk memahami simbol-simbol haji, melainkan ajakan untuk membangun manusia yang memiliki keberanian moral.

Manusia yang tidak hanya sibuk menyelamatkan dirinya sendiri, tetapi juga merasa terpanggil membela martabat kemanusiaan ketika dunia kehilangan arah etiknya.

Dan mungkin di situlah relevansi terdalam haji hari ini: bukan hanya mengajarkan bagaimana manusia mendekat kepada Tuhan, tetapi juga bagaimana manusia kembali menjadi manusia.

Perang Algoritma dan Krisis Kesadaran

Meski pemikiran Ali Shariati tetap relevan, dunia yang dihadapi umat manusia hari ini sesungguhnya jauh lebih kompleks dibanding konteks abad ke-20 ketika ia menulis tentang haji dan pembebasan.

Shariati berbicara dalam bayang-bayang kolonialisme klasik, kapitalisme global, dan dominasi politik Barat terhadap dunia Islam. Namun, kekuasaan modern kini bekerja dengan cara yang jauh lebih halus, lebih cair, dan sering kali tidak terlihat.

Hari ini, manusia tidak hanya hidup di bawah ancaman perang fisik, tetapi juga di tengah perang persepsi dan perang kesadaran.

Kekuasaan tidak lagi semata-mata hadir melalui pendudukan militer atau penjajahan teritorial, melainkan melalui media, algoritma, citra digital, dan industri informasi global yang setiap hari membentuk cara manusia memahami realitas.

Jika kolonialisme lama menguasai tanah dan sumber daya, maka kolonialisme baru berusaha menguasai perhatian, emosi, dan kesadaran manusia.

Di era digital, perang tidak selalu dimenangkan oleh siapa yang paling kuat secara militer, tetapi oleh siapa yang mampu mengendalikan narasi.

Kebenaran tidak lagi sepenuhnya ditentukan oleh fakta, melainkan oleh siapa yang paling berhasil memproduksi opini, mengendalikan arus informasi, dan memainkan emosi publik.

Dalam situasi seperti ini, manusia perlahan hidup dalam realitas yang terus dibentuk oleh algoritma.

Media sosial memang membuat tragedi kemanusiaan terasa dekat. Dunia dapat menyaksikan perang, kelaparan, dan penderitaan secara real time.

Namun kedekatan visual itu tidak selalu melahirkan kedalaman empati. Justru sebaliknya, banjir informasi sering membuat manusia mengalami kelelahan moral.

Tragedi datang silih berganti tanpa jeda refleksi. Kekerasan terus muncul di layar hingga perlahan kehilangan daya kejutnya.

Akibatnya, manusia modern mudah marah, tetapi cepat lupa. Mudah tersentuh, tetapi sulit berubah. Simpati sering berhenti pada unggahan, tagar, atau ledakan emosi sesaat yang segera tenggelam oleh arus informasi berikutnya.

Di titik inilah tantangan haji hari ini menjadi jauh lebih berat dibanding masa Shariati. Haji tidak lagi cukup dimaknai hanya sebagai perjalanan spiritual individual, tetapi perlu dibaca sebagai ruang pemulihan kesadaran manusia yang tercerai-berai oleh dunia digital.

Manusia modern hidup dalam konektivitas tanpa kedalaman, kedekatan tanpa kehangatan, dan komunikasi tanpa perjumpaan batin. Teknologi mempercepat hubungan antarmanusia, tetapi sering gagal memperdalam kemanusiaannya.

Karena itu, makna haji hari ini menjadi semakin penting. Di tengah dunia yang dipenuhi citra digital dan identitas virtual, haji menghadirkan pengalaman yang sangat manusiawi: manusia hadir secara fisik, berdiri sejajar, bergerak bersama, merasakan panas, lelah, takut, harap, dan doa secara nyata. Haji mengembalikan manusia pada pengalaman otentik tentang kerentanan dan kesetaraan.

Lebih dari itu, haji sebenarnya menawarkan kritik diam-diam terhadap dunia modern yang terlalu dikuasai konsumerisme dan politik identitas.

Di saat manusia modern sibuk membangun citra diri, haji justru meminta manusia menanggalkan atributnya.

Di saat dunia dipenuhi kompetisi untuk tampil paling menonjol, haji justru menghapus pembeda-pembeda simbolik manusia. Semua melebur dalam kesederhanaan ihram dan kesadaran akan kefanaan.

Jika dulu Shariati berbicara tentang pembebasan dari kolonialisme dan materialisme, maka manusia hari ini menghadapi bentuk penindasan baru yang lebih subtil: kolonialisme digital, manipulasi persepsi, polarisasi algoritmik, dan dehumanisasi global yang bekerja perlahan melalui rutinitas teknologi sehari-hari.

Manusia modern akhirnya bukan hanya berisiko kehilangan kebebasan politik, tetapi juga kehilangan kemampuan untuk berpikir jernih, merasakan penderitaan orang lain secara utuh, dan mempertahankan nurani di tengah banjir informasi.

Dalam konteks itulah, haji dapat dibaca kembali sebagai ruang penyadaran. Bukan sekadar untuk mendekat kepada Tuhan, tetapi juga untuk menyelamatkan kembali kemanusiaan manusia yang perlahan tergerus oleh dunia yang terlalu bising, terlalu cepat, dan terlalu dangkal.

Haji dan Krisis Kemanusiaan Global

Makna terdalam haji sesungguhnya terletak pada pengakuan bahwa seluruh manusia setara di hadapan Tuhan.

Dalam ruang spiritual itu, manusia datang tanpa membawa hierarki duniawinya. Tidak ada pembatas antara kaya dan miskin, antara bangsa besar dan bangsa kecil, antara warna kulit, bahasa, ataupun status sosial. Semua berdiri dalam kesadaran yang sama: manusia hanyalah makhluk yang rapuh, fana, dan saling membutuhkan.

Karena itu, haji pada hakikatnya bukan sekadar ritual keagamaan umat Islam, melainkan juga pesan universal tentang kemanusiaan. Di dalamnya terkandung nilai perdamaian, anti-rasisme, anti-penindasan, dan solidaritas lintas batas.

Haji mengajarkan bahwa kemuliaan manusia tidak diukur dari kekuatan, kekayaan, atau dominasi politik, tetapi dari kualitas moral dan keberpihakannya terhadap nilai kemanusiaan.

Namun, pesan besar itu sering kali kalah oleh realitas dunia modern yang brutal. Peradaban manusia hari ini mengalami kemajuan teknologi yang luar biasa. Dunia menjadi semakin cepat, semakin canggih, dan semakin terkoneksi.

Pada saat yang sama, manusia justru gagal membangun keadaban global yang adil dan setara. Kemajuan ilmu pengetahuan ternyata tidak selalu berjalan seiring dengan kemajuan moral.

Negara-negara besar berbicara tentang demokrasi, hak asasi manusia, dan perdamaian dunia, tetapi dalam praktiknya tetap terlibat dalam produksi perang, industri persenjataan, dan perebutan pengaruh geopolitik.

Dunia modern tampak sangat maju dalam menciptakan teknologi kehidupan, tetapi juga sangat canggih dalam menciptakan teknologi kematian.

Di sinilah relevansi moral haji menjadi sangat penting. Haji sesungguhnya menghadirkan kritik diam-diam terhadap sistem dunia yang kehilangan dimensi etiknya.

Dalam setiap ritualnya, terdapat pesan kemanusiaan yang sangat mendalam apabila dibaca melampaui aspek formal keagamaannya.

Jika dimaknai secara serius, seluruh rangkaian haji sesungguhnya merupakan manifesto kemanusiaan universal. Ia mengajarkan bahwa agama tidak boleh berhenti pada ritual simbolik, tetapi harus melahirkan keberanian moral untuk melawan ketidakadilan, kekerasan, dan dehumanisasi.

Karena itu, di tengah krisis kemanusiaan global hari ini, haji seharusnya tidak hanya dipahami sebagai perjalanan menuju Tanah Suci, tetapi juga perjalanan untuk menyelamatkan kembali nilai-nilai kemanusiaan yang perlahan terkikis oleh perang, keserakahan, dan politik kekuasaan global.

Sebab pada akhirnya, persoalan terbesar dunia modern mungkin bukan kurangnya kemajuan, melainkan hilangnya rasa kemanusiaan di tengah kemajuan itu sendiri.

Dari Ritual Menuju Gerakan Pencerahan

Persoalan terbesar umat Islam hari ini mungkin bukan kurangnya ritual keagamaan, melainkan lemahnya daya transformasi sosial dari ritual itu sendiri.

Dunia Islam dipenuhi aktivitas religius yang sangat besar: masjid terus dibangun, pengajian berlangsung di mana-mana, jutaan orang menunaikan umrah dan haji setiap tahun.

Namun pada saat yang sama, banyak masyarakat Muslim masih bergulat dengan konflik internal, ketimpangan sosial, korupsi, intoleransi, kemiskinan pengetahuan, dan ketergantungan terhadap kekuatan global.

Di titik inilah muncul pertanyaan yang sangat mendasar: mengapa ritual yang begitu besar tidak selalu melahirkan perubahan sosial yang sebanding?

Pertanyaan ini penting karena agama pada hakikatnya tidak hanya hadir untuk menghubungkan manusia dengan Tuhan, tetapi juga untuk membentuk kualitas kemanusiaan manusia itu sendiri.

Ketika ritual berhenti pada aspek seremonial, sementara realitas sosial tetap dipenuhi ketidakadilan dan kekerasan, maka sesungguhnya terdapat jarak yang semakin lebar antara simbol keagamaan dan praktik kehidupan.

Haji menjadi contoh paling nyata dari paradoks tersebut. Setiap tahun jutaan manusia berkumpul di Tanah Suci dalam simbol kesetaraan universal. Mereka menangis, berdoa, dan merasakan pengalaman spiritual yang sangat mendalam.

Namun, setelah kembali ke negaranya masing-masing, dunia tetap dipenuhi permusuhan, polarisasi, dan perebutan kepentingan yang sering kali justru melibatkan sesama umat Islam sendiri.

Artinya, problem utama haji hari ini bukan pada ritualnya, tetapi pada kegagalan mentransformasikan pengalaman spiritual menjadi kesadaran sosial yang hidup.

Karena itu, haji perlu direvitalisasi bukan hanya sebagai kewajiban ibadah, tetapi sebagai gerakan pencerahan.

Pencerahan dalam arti yang paling mendalam: membangunkan kembali kesadaran manusia agar mampu berpikir kritis, memiliki keberanian moral, dan tidak kehilangan keberpihakan terhadap kemanusiaan.

Pencerahan berarti keberanian untuk mempertanyakan ketidakadilan, bahkan ketika ketidakadilan itu telah dianggap normal.

Pencerahan berarti kemampuan melihat penderitaan manusia bukan sebagai statistik, tetapi sebagai luka kemanusiaan yang menuntut tanggung jawab moral.

Pencerahan juga berarti kesediaan untuk keluar dari egoisme kelompok, fanatisme sempit, dan politik identitas yang selama ini memecah masyarakat.

Dalam konteks dunia modern yang dipenuhi perang, manipulasi informasi, dan dehumanisasi global, haji seharusnya melahirkan manusia yang lebih sensitif terhadap penderitaan sesama.

Orang yang berhaji semestinya tidak hanya membawa gelar sosial baru, tetapi juga membawa cara pandang baru terhadap kehidupan: lebih rendah hati, lebih adil, lebih peduli, dan lebih berani membela martabat manusia.

Karena itu, ukuran keberhasilan haji sesungguhnya tidak berhenti pada sempurnanya manasik ritual, tetapi pada sejauh mana ibadah itu mengubah orientasi moral seseorang setelah kembali ke kehidupan sosialnya.

Apakah ia menjadi lebih jujur ketika memiliki kekuasaan? Lebih adil ketika memiliki pengaruh? Lebih peduli ketika melihat penderitaan? Lebih berani bersuara ketika menyaksikan ketidakadilan?

Tanpa transformasi seperti itu, haji berisiko hanya menjadi pengalaman spiritual yang menggetarkan secara emosional, tetapi lemah secara sosial dan historis. Ia mampu menyentuh perasaan sesaat, tetapi gagal membangun kesadaran yang bertahan lama.

Padahal, sejarah menunjukkan bahwa peradaban besar tidak lahir hanya dari banyaknya ritual, melainkan dari kemampuan mengubah nilai spiritual menjadi energi moral dan tindakan sosial.

Dan mungkin di situlah tantangan terbesar umat Islam hari ini: bagaimana menjadikan haji bukan sekadar perjalanan menuju Tanah Suci, tetapi juga perjalanan menuju lahirnya manusia yang lebih tercerahkan dan dunia yang lebih manusiawi.

Haji dan Masa Depan Kemanusiaan

Di tengah bayang-bayang perang Timur Tengah yang terus membara tahun ini, haji kembali menghadirkan peringatan moral bagi dunia modern: bahwa umat manusia sedang berada dalam krisis kemanusiaan yang mendalam.

Perang, kebencian, manipulasi informasi, dan perebutan kekuasaan telah membuat manusia semakin jauh dari nilai-nilai universal yang seharusnya menjadi fondasi kehidupan bersama.

Ali Shariati sejak lama telah mengingatkan bahwa haji bukan sekadar perjalanan geografis menuju Ka’bah, melainkan perjalanan kesadaran menuju pembebasan manusia. Gagasannya tetap relevan hingga hari ini.

Namun dunia kontemporer menghadapi tantangan yang bahkan lebih kompleks dibanding zamannya: perang algoritma, kolonialisme digital, industri disinformasi, serta krisis nurani global yang perlahan mengikis sensitivitas manusia terhadap penderitaan sesamanya.

Karena itu, haji masa kini tidak cukup dipahami hanya sebagai ibadah spiritual individual yang selesai pada dimensi ritual. Haji perlu dimaknai kembali sebagai energi etik dan moral untuk membangun solidaritas kemanusiaan universal di tengah dunia yang semakin terpecah oleh kepentingan politik, identitas, dan kekuasaan.

Pada akhirnya, ukuran penting haji bukanlah semata-mata berapa juta manusia datang ke Mekkah setiap tahun, melainkan apakah mereka pulang dengan kesadaran baru untuk menjaga martabat kemanusiaan.

Apakah haji mampu melahirkan manusia yang lebih adil, lebih peka terhadap penderitaan, lebih berani melawan ketidakadilan, dan lebih mampu melihat sesama manusia sebagai bagian dari keluarga besar kemanusiaan.

Sebab persoalan terbesar dunia hari ini mungkin bukan kekurangan agama, bukan pula kekurangan simbol-simbol kesalehan, keberadaan organisasi ulama, ataupun santri.

Dunia justru sedang mengalami kekurangan rasa kemanusiaan dan toleransi. Dan di masa depan, Islam yang akan terus menemukan relevansinya bukanlah Islam yang sibuk membangun eksklusivisme identitas, melainkan Islam yang mampu menghadirkan kasih sayang, keadilan, dan pembelaan terhadap martabat manusia dan alam secara universal.

Karena sejak awal, Islam tidak hadir hanya sebagai rahmatan lil muslimin, melainkan rahmatan lil ‘alamin, yakni rahmat bagi seluruh semesta dan seluruh umat manusia.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Haji di Bawah Bayang Perang: Dari Ritual Spritual Menuju Gerakan Pencerahan
Haji di Bawah Bayang Perang: Dari Ritual Spritual Menuju Gerakan Pencerahan
Aktual
Tekan Sampah Plastik, Warga Sumenep Bungkus Daging Kurban dengan Daun Pisang
Tekan Sampah Plastik, Warga Sumenep Bungkus Daging Kurban dengan Daun Pisang
Aktual
Hari Tasyrik Berapa Hari? Ini Penjelasan Lengkap, Larangan Puasa hingga Amalan Utamanya
Hari Tasyrik Berapa Hari? Ini Penjelasan Lengkap, Larangan Puasa hingga Amalan Utamanya
Aktual
Kemenag Tegaskan Pelaku Cabul di Pekalongan Bukan Pimpinan Pesantren, tapi Pengasuh Padepokan
Kemenag Tegaskan Pelaku Cabul di Pekalongan Bukan Pimpinan Pesantren, tapi Pengasuh Padepokan
Aktual
Polemik Sapi Kurban Presiden dari APBN, Ini Penjelasan Guru Besar UIN
Polemik Sapi Kurban Presiden dari APBN, Ini Penjelasan Guru Besar UIN
Aktual
Tebuireng Bahas Hukum Basmi Ikan Sapu dan Lebur Jasad Manusia, Ini Penjelasannya
Tebuireng Bahas Hukum Basmi Ikan Sapu dan Lebur Jasad Manusia, Ini Penjelasannya
Aktual
Seluruh Jemaah Haji Indonesia Tiba di Mina, Kemenhaj Ingatkan Jadwal Jumrah
Seluruh Jemaah Haji Indonesia Tiba di Mina, Kemenhaj Ingatkan Jadwal Jumrah
Aktual
Arab Saudi Dilanda Gelombang Panas, Suhu Bisa Sentuh 50 Derajat Celsius
Arab Saudi Dilanda Gelombang Panas, Suhu Bisa Sentuh 50 Derajat Celsius
Aktual
Raja Salman Bersyukur Bisa Layani Jemaah Haji, Sampaikan Pesan Idul Adha
Raja Salman Bersyukur Bisa Layani Jemaah Haji, Sampaikan Pesan Idul Adha
Aktual
Saat Waktu Berhenti Sejenak di Arafah...
Saat Waktu Berhenti Sejenak di Arafah...
Aktual
Jumlah Jemaah Haji 2026 Capai 1,7 Juta Orang dari 165 Negara
Jumlah Jemaah Haji 2026 Capai 1,7 Juta Orang dari 165 Negara
Aktual
Jangan Puasa Ayyamul Bidh pada 13 Zulhijah, Ini Alasannya
Jangan Puasa Ayyamul Bidh pada 13 Zulhijah, Ini Alasannya
Doa dan Niat
Bolehkah Kurban Idul Adha Pakai Uang APBN? Ini Penjelasan MUI
Bolehkah Kurban Idul Adha Pakai Uang APBN? Ini Penjelasan MUI
Aktual
Kemenag: Matahari di Atas Ka'bah 27-28 Mei, Saatnya Cek Arah Kiblat
Kemenag: Matahari di Atas Ka'bah 27-28 Mei, Saatnya Cek Arah Kiblat
Aktual
Daging Kurban Alot dan Bau? Ini Cara Mengolahnya agar Lebih Empuk
Daging Kurban Alot dan Bau? Ini Cara Mengolahnya agar Lebih Empuk
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com