Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tekan Sampah Plastik, Warga Sumenep Bungkus Daging Kurban dengan Daun Pisang

Kompas.com, 28 Mei 2026, 09:49 WIB
Add on Google
Nur Khalis,
Farid Assifa

Tim Redaksi

SUMENEP, KOMPAS.com - Saeni (58) tampak telaten membungkus potongan daging sapi kurban menggunakan daun pisang di Desa Juruan Daya, Kecamatan Batuputih, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, Kamis (28/5/2026).

Bersama sejumlah ibu-ibu lainnya, dia mengemas daging yang sebelumnya telah ditimbang untuk dibagikan kepada warga sekitar.

Warga setempat sengaja tidak menggunakan kantong plastik seperti umumnya pembagian daging kurban. Sebagai gantinya, mereka memanfaatkan daun pisang yang mudah ditemukan di sekitar desa.

“Daun pisang mudah dicari di sini,” kata Saeni sambil membungkus daging kurban.

Baca juga: Polemik Sapi Kurban Presiden dari APBN, Ini Penjelasan Guru Besar UIN

Suasana pembagian daging kurban berlangsung ramai. Ibu-ibu tampak kompak dan antusias membantu proses pengemasan hingga pendistribusian kepada warga yang membutuhkan.

Bagi warga setempat, kegiatan kurban memang bukan agenda yang rutin digelar setiap tahun dalam jumlah besar. Karena itu, penyembelihan sapi kurban kali ini disambut hangat masyarakat desa.

Horna (38), salah seorang warga, mengatakan penggunaan daun pisang sengaja dipilih untuk menekan penumpukan sampah plastik.

Menurut dia, penggunaan daun pisang sebagai pembungkus juga sudah cukup lumrah dilakukan warga Desa Juruan Daya dalam berbagai kegiatan. Selain praktis, cara tersebut dinilai lebih tradisional dan ramah lingkungan.

“Kalau daun pisang kan mudah didapat dan cepat terurai. Jadi lebih bagus dibanding plastik,” tambahnya.

Rencananya, daging kurban yang telah dikemas itu akan dibagikan kepada warga yang membutuhkan di desa setempat.

Sementara itu, Kepala Gadai Mas Nusantara Cabang Sumenep, Ingmatus Zahroh, mengatakan pemilihan Desa Juruan Daya sebagai lokasi penyaluran hewan kurban karena wilayah tersebut relatif jarang mendapatkan bantuan kurban.

“Di desa ini memang cukup jarang ada kegiatan kurban, sehingga kami memilih menyalurkan di sini,” ungkapnya.

Dia menjelaskan, penggunaan daun pisang juga menjadi bagian dari upaya mengurangi penggunaan sampah plastik sekali pakai. Terlebih, bahan alami tersebut sangat mudah ditemukan di desa setempat.

“Harapannya pemanfaatan daun pisang ini bisa menyadarkan masyarakat untuk mengurangi penggunaan plastik. Sampah plastik sulit terurai, sementara daun pisang lebih ramah lingkungan,” katanya.

Program penyaluran hewan kurban tersebut merupakan bagian dari kegiatan tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR Gadai Mas Nusantara.

Baca juga: Daging Kurban Alot dan Bau? Ini Cara Mengolahnya agar Lebih Empuk

Tahun ini, perusahaan menyalurkan 99 hewan kurban yang didistribusikan ke 33 cabang di berbagai daerah di Indonesia.

Penyaluran hewan kurban itu difokuskan ke wilayah-wilayah yang masih minim pelaksanaan kurban agar manfaatnya bisa lebih dirasakan masyarakat.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Haji di Bawah Bayang Perang: Dari Ritual Spritual Menuju Gerakan Pencerahan
Haji di Bawah Bayang Perang: Dari Ritual Spritual Menuju Gerakan Pencerahan
Aktual
Tekan Sampah Plastik, Warga Sumenep Bungkus Daging Kurban dengan Daun Pisang
Tekan Sampah Plastik, Warga Sumenep Bungkus Daging Kurban dengan Daun Pisang
Aktual
Hari Tasyrik Berapa Hari? Ini Penjelasan Lengkap, Larangan Puasa hingga Amalan Utamanya
Hari Tasyrik Berapa Hari? Ini Penjelasan Lengkap, Larangan Puasa hingga Amalan Utamanya
Aktual
Kemenag Tegaskan Pelaku Cabul di Pekalongan Bukan Pimpinan Pesantren, tapi Pengasuh Padepokan
Kemenag Tegaskan Pelaku Cabul di Pekalongan Bukan Pimpinan Pesantren, tapi Pengasuh Padepokan
Aktual
Polemik Sapi Kurban Presiden dari APBN, Ini Penjelasan Guru Besar UIN
Polemik Sapi Kurban Presiden dari APBN, Ini Penjelasan Guru Besar UIN
Aktual
Tebuireng Bahas Hukum Basmi Ikan Sapu dan Lebur Jasad Manusia, Ini Penjelasannya
Tebuireng Bahas Hukum Basmi Ikan Sapu dan Lebur Jasad Manusia, Ini Penjelasannya
Aktual
Seluruh Jemaah Haji Indonesia Tiba di Mina, Kemenhaj Ingatkan Jadwal Jumrah
Seluruh Jemaah Haji Indonesia Tiba di Mina, Kemenhaj Ingatkan Jadwal Jumrah
Aktual
Arab Saudi Dilanda Gelombang Panas, Suhu Bisa Sentuh 50 Derajat Celsius
Arab Saudi Dilanda Gelombang Panas, Suhu Bisa Sentuh 50 Derajat Celsius
Aktual
Raja Salman Bersyukur Bisa Layani Jemaah Haji, Sampaikan Pesan Idul Adha
Raja Salman Bersyukur Bisa Layani Jemaah Haji, Sampaikan Pesan Idul Adha
Aktual
Saat Waktu Berhenti Sejenak di Arafah...
Saat Waktu Berhenti Sejenak di Arafah...
Aktual
Jumlah Jemaah Haji 2026 Capai 1,7 Juta Orang dari 165 Negara
Jumlah Jemaah Haji 2026 Capai 1,7 Juta Orang dari 165 Negara
Aktual
Jangan Puasa Ayyamul Bidh pada 13 Zulhijah, Ini Alasannya
Jangan Puasa Ayyamul Bidh pada 13 Zulhijah, Ini Alasannya
Doa dan Niat
Bolehkah Kurban Idul Adha Pakai Uang APBN? Ini Penjelasan MUI
Bolehkah Kurban Idul Adha Pakai Uang APBN? Ini Penjelasan MUI
Aktual
Kemenag: Matahari di Atas Ka'bah 27-28 Mei, Saatnya Cek Arah Kiblat
Kemenag: Matahari di Atas Ka'bah 27-28 Mei, Saatnya Cek Arah Kiblat
Aktual
Daging Kurban Alot dan Bau? Ini Cara Mengolahnya agar Lebih Empuk
Daging Kurban Alot dan Bau? Ini Cara Mengolahnya agar Lebih Empuk
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com