Editor
KOMPAS.com - Struktur batu misterius yang dikenal sebagai desert kites atau layang-layang gurun di wilayah barat Arab Saudi mengungkap kecerdikan luar biasa manusia purba dalam berburu massal.
Formasi kuno ini tersebar di kawasan vulkanik (harrats), khususnya di Harrat Khaybar, dan telah berusia lebih dari 5.000 tahun sejak Zaman Perunggu Awal.
Berdasarkan laporan Saudi Press Agency dan data dari Saudi Geological Survey, struktur ini merupakan salah satu monumen batu terbesar dan tertua di Semenanjung Arab.
Baca juga: Misteri “Desert Kites” di Arab Saudi Ungkap Kecerdasan Manusia Purba
Desert kites dirancang sebagai perangkap raksasa untuk menggiring hewan liar seperti gazelle dan ibex menuju satu titik jebakan.
Teknik ini menunjukkan bahwa manusia purba telah memiliki pemahaman mendalam tentang perilaku hewan serta kondisi lingkungan gurun.
Jika dilihat dari udara, bentuknya menyerupai layangan tradisional. Struktur ini terdiri dari dua “lengan” panjang yang membentang hingga ratusan meter dan menyempit menuju area tengah berupa kandang tertutup atau semi-tertutup.
Desain tersebut memungkinkan hewan-hewan liar diarahkan secara bertahap ke pusat jebakan, sehingga memudahkan perburuan dalam jumlah besar. Sistem ini mencerminkan kemampuan organisasi dan strategi berburu yang sangat maju pada masanya.
Penelitian terbaru di kawasan Jabal Qidr, utara Madinah, menunjukkan sebagian struktur ini bahkan tertutup aliran lava dari letusan gunung berapi yang terjadi kurang dari 1.000 tahun lalu. Hal ini menegaskan bahwa desert kites dibangun jauh lebih tua dari peristiwa tersebut.
Keberadaan lapisan-lapisan alami dan buatan manusia di lokasi ini menjadikan desert kites sebagai referensi penting bagi arkeolog dan geolog dalam memahami urutan peristiwa alam dan aktivitas manusia di masa lampau.
Baca juga: Ribuan Sumur Kuno di Gurun Arab Saudi Jadi Bukti Kecerdikan Peradaban Masa Lalu
Tak hanya itu, Jabal Qidr juga diakui sebagai salah satu dari 100 situs warisan geologi dunia oleh International Union of Geological Sciences, berkat nilai ilmiah, estetika, dan budayanya.
Penemuan ini semakin menegaskan bahwa manusia purba bukan sekadar bertahan hidup, tetapi juga mampu menciptakan teknologi berburu yang kompleks dan terorganisir—jauh melampaui perkiraan sebelumnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang