Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Gaza Butuh 450 Ton Tepung per Hari, Baru Tersedia 200 Ton, Jutaan Warga Terancam Kelaparan

Kompas.com, 12 April 2026, 20:49 WIB
Add on Google
Khairina

Editor

KOMPAS.com-Krisis kemanusiaan di Gaza terus memburuk di tengah keterbatasan pasokan pangan, terutama tepung sebagai bahan makanan pokok.

Kantor media pemerintah Gaza pada Minggu (12/4/2026) menyebut wilayah tersebut membutuhkan sekitar 450 ton tepung per hari, tetapi yang tersedia saat ini hanya sekitar 200 ton.

Kondisi ini memicu kekhawatiran akan krisis kelaparan yang semakin meluas di tengah situasi konflik yang belum sepenuhnya pulih.

Baca juga: Dapur Umum Arab Saudi di Gaza Bagikan 24.000 Makanan per Hari Selama Ramadhan

Dalam pernyataan resminya yang dilansir Saudi Gazette, otoritas Gaza menuduh Israel memperketat pembatasan distribusi bantuan, termasuk tepung, yang mereka sebut sebagai kebijakan “kelaparan yang direkayasa”.

Padahal, perjanjian gencatan senjata sebenarnya telah membuka akses masuk bagi sekitar 600 truk bantuan setiap hari.

Namun, realisasinya jauh dari harapan, karena hanya sekitar 38 persen dari total pasokan sebelum perang yang diizinkan masuk ke wilayah tersebut.

Kondisi semakin sulit setelah sejumlah organisasi kemanusiaan mengurangi bahkan menghentikan operasinya.

World Central Kitchen yang sebelumnya menyuplai 20 hingga 30 ton tepung per hari kini telah menghentikan bantuan.

Baca juga: Video Viral, Ayah di Gaza Saring Reruntuhan Cari Tulang Istri dan Anak

Sementara itu, Program Pangan Dunia (World Food Program) juga memangkas distribusi dari 300 ton menjadi sekitar 200 ton per hari.

Penghentian dan pengurangan bantuan ini turut berdampak pada distribusi roti dan tepung di masyarakat.

Beberapa organisasi kemanusiaan lainnya bahkan dilaporkan menghentikan program distribusi pangan, sehingga memperparah kelangkaan bahan makanan.

Di sisi lain, kondisi pengungsian juga belum membaik.

Sekitar 1,9 juta warga Gaza dari total populasi 2,4 juta masih hidup sebagai pengungsi di tempat penampungan darurat.

Banyak dari mereka tinggal di kondisi yang sulit setelah rumah-rumah hancur akibat konflik berkepanjangan.

Meski gencatan senjata telah berlaku sejak 10 Oktober 2025, situasi di lapangan belum menunjukkan perbaikan signifikan.

Kekurangan pangan, obat-obatan, serta bahan bangunan untuk tempat tinggal masih terus terjadi.

Konflik di Gaza sendiri telah menelan korban jiwa dalam jumlah besar.

Lebih dari 72.000 warga Palestina dilaporkan meninggal dunia, sementara sekitar 172.000 lainnya mengalami luka-luka.

Selain itu, sekitar 90 persen infrastruktur sipil di wilayah tersebut mengalami kerusakan atau kehancuran.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com