KOMPAS.com - Di antara debu, beton yang runtuh, dan bau kehancuran yang masih menyelimuti Jalur Gaza, seorang ayah Palestina berjuang seorang diri dengan saringan sederhana di tangannya.
Ia bukan sedang mencari harta atau barang berharga. Tujuannya hanya satu: mengumpulkan sisa-sisa tulang istri dan kelima anaknya yang tewas tertimbun reruntuhan setelah serangan Israel menghancurkan gedung enam lantai tempat keluarganya berlindung.
Pemandangan memilukan itu terekam dalam sebuah video yang beredar luas di media sosial dilansir oleh Middle East Eye, Selasa (20/1/2026).
Dalam rekaman tersebut, pria itu terlihat berjongkok, menyaring tanah bercampur puing bangunan, lalu berhenti setiap kali menemukan potongan tulang kecil.
Dengan suara bergetar, ia menyebut satu per satu temuan yang baginya bukan sekadar fragmen jasad, melainkan kenangan terakhir keluarganya.
“Ada tulang di sini, ini sisa-sisa istri dan anak-anak saya,” ujarnya dalam video.
Ia juga mengungkap bahwa salah satu korban adalah bayi perempuannya yang baru berusia tiga hari, meninggal setelah lahir di tengah kondisi layanan kesehatan Gaza yang lumpuh akibat perang.
Baca juga: Musim Dingin Ekstrem Menguji Pengungsi Gaza Utara, Selimut Hangat Jadi Penyelamat
Selama berhari-hari, pria itu kembali ke lokasi gedung yang telah rata dengan tanah. Tanpa alat berat, tanpa bantuan memadai, ia menyaring puing demi puing menggunakan tangan kosong dan peralatan seadanya.
Setiap potongan tulang yang ditemukan ia kumpulkan dengan hati-hati, berharap dapat memberikan pemakaman yang layak bagi keluarganya. Ia mengaku telah meminta bantuan, tetapi tidak ada yang datang.
“Kami meminta pertolongan dari semua orang, tetapi kami tidak menerima apa-apa. Jadi saya terpaksa memungut tulang mereka seperti ini,” katanya.
Di balik kalimat itu, tersimpan keputusasaan sekaligus keteguhan seorang ayah yang menolak membiarkan keluarganya hilang tanpa jejak.
Bagi banyak warga Gaza, menemukan jasad orang tercinta bukan sekadar proses fisik, melainkan juga upaya menutup luka batin.
Dalam tradisi Islam, memakamkan jenazah dengan layak adalah bentuk penghormatan terakhir kepada mereka yang telah wafat.
Di tengah perang, kewajiban kemanusiaan ini berubah menjadi perjuangan yang nyaris mustahil.
Tragedi yang dialami pria tersebut bukanlah kasus tunggal. Badan Pertahanan Sipil Gaza memperkirakan sekitar 10.000 jenazah masih terjebak di bawah reruntuhan bangunan.
Lebih dari 60 juta ton puing menutupi wilayah Gaza, sementara akses jalan hancur dan peralatan berat sangat terbatas, dilansir dari theguardian, Selasa (20/1/2026).
Kepala pertahanan sipil Gaza utara, Khaled al-Ayoubi, menjelaskan bahwa pada tahap awal, tim penyelamat hanya mampu mengumpulkan jenazah yang tergeletak di jalanan. Banyak korban lainnya masih tertimbun di gedung-gedung bertingkat yang runtuh.
“Kami bekerja perlahan karena puing-puing juga dipenuhi bom dan amunisi yang belum meledak,” ujarnya.
Badan pertahanan sipil, Dr. Mohammed al-Mugheer menambahkan, tanpa masuknya alat berat, proses evakuasi dapat memakan waktu hingga satu tahun. Namun bagi keluarga korban, menunggu selama itu terasa terlalu lama.
Baca juga: MUI Kecam Israel Larang Organisasi Kemanusiaan Beroperasi di Gaza
Di Jabaliya, Gaza utara, Ghali Khadr, 40 tahun, mengalami nasib serupa. Ia menghabiskan dua hari membujuk orang tuanya agar mengungsi ke selatan.
Ayahnya menolak. Tak lama berselang, serangan udara menghantam rumah mereka dan mengubur kedua orang tuanya di bawah reruntuhan.
Ketika Khadr kembali setelah gencatan senjata diumumkan yang ia temukan hanyalah pecahan tengkorak dan bagian tangan.
Ia membawa sisa jasad itu ke pemakaman, namun mendapati area tersebut juga telah hancur. Akhirnya, ia menguburkan orang tuanya di samping beberapa makam yang masih utuh.
“Kami hanya ingin menguburkan mereka dengan layak,” kata Khadr.
Kalimat sederhana yang menggambarkan kerinduan akan ketenangan batin di tengah kekacauan perang.
Yahya al-Muqra, 32 tahun, juga masih mencari saudaranya yang hilang setelah serangan udara menghantam rumah mereka pada Juli lalu.
Ia berharap menemukan setidaknya sepotong pakaian atau fragmen tulang sebagai bukti keberadaan sang saudara.
“Bahkan satu tulang pun akan membuat kami bisa memakamkannya dan merasa sedikit lega,” ujarnya.
Bagi banyak keluarga Gaza, ketidakpastian tentang nasib orang tercinta adalah luka yang terus terbuka.
Mereka menunggu di tepi reruntuhan, berharap tim penyelamat menemukan sesuatu yang bisa dijadikan tempat berpamitan terakhir.
Baca juga: IZI Kirim 189,7 Ton Bantuan Kemanusiaan untuk Gaza lewat Mesir
Kisah pria yang menyaring puing demi mengumpulkan tulang istri dan anak-anaknya telah menyentuh hati jutaan orang di media sosial.
Banyak warganet menyebutnya sebagai simbol penderitaan warga sipil Gaza dan potret paling sunyi dari tragedi kemanusiaan yang sedang berlangsung.
Lebih dari sekadar viral, peristiwa ini menjadi pengingat bahwa di balik angka korban dan laporan konflik, ada manusia yang kehilangan keluarga, rumah, dan masa depan mereka.
Di antara reruntuhan, seorang ayah berlutut, bukan hanya mencari tulang-belulang, tetapi juga mencoba merajut kembali makna hidup setelah segalanya direnggut oleh perang.
Di Gaza, puing-puing bangunan telah menjadi saksi bisu duka yang tak terucap. Dan di antara debu yang beterbangan, tersisa doa paling sederhana agar tragedi serupa tidak terus berulang, dan kemanusiaan kembali menemukan tempatnya di tengah konflik yang berkepanjangan.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang