Penulis
KOMPAS.com - Khulafaur Rasyidin artinya pengganti yang mendapat petunjuk. Secara istilah, Khulafaur Rasyidin adalah empat Khalifah pengganti Rasulullah SAW. Mereka memimpin dalam bimbingan nubuwah atau cahaya kenabian. Tidak ada penyimpangan selama keempatnya menjalankan amanah kepemimpinan.
Isyarat adanya Khulafaur Rasyidin yang memimpin atas dasar Nubuwah ini disampaikan dalam hadits berikut:
خِلاَفَةُ النُّبُوَّةِ ثَلاَثُوْنَ سَنَةً ثُمَّ يُؤْتِي اللهُ المُلْكَ أَوْ مُلْكَهُ مَنْ يَشَاءُ
Artinya: “Khilafah Nubuwwah itu selama 30 tahun. Kemudian Allah karuniakan kerajaan setelah itu." (HR. Abu Dawud).
Masa Khilafah Nubuwah ini adalah kepemimpinan Abu Bakar Ash Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib.
Untuk lebih memahami tentang Khulafaur Rasyidin, berikut penjelasan lengkapnya.
Baca juga: Ali bin Abi Thalib: Khalifah Di Tengah Umat yang Terpecah
Abu Bakar Ash Shiddiq adalah sahabat terdekat Nabi SAW dan orang pertama dari kalangan dewasa yang memeluk Islam. Gelar Ash-Shiddiq diberikan karena keteguhan imannya, terutama saat peristiwa Isra’ Mi’raj.
Pasca meninggalnya Rasulullah SAW, terjadi kekacauan untuk menentukan pemimpin selanjutnya. Kaum Muhajirin dan Anshar masing-masing merasa berhak memimpin. Masing-masing kaum mengadakan rapat untuk menentukan pemimpin selanjutnya.
Sempat terjadi ketegangan, sampai akhirnya umat sepakat untuk mengangkat Abu Bakar Ash Shiddiq sebagai pemimpin atau Khalifah pertama. Menurut Tarikh Ath Thabari, Abu Bakar dipilih menjadi khalifah melalui musyawarah di Saqifah Bani Sa’idah.
Masa kepemimpinan Abu Bakar Ash Shiddiq diwarnai berbagai permasalahan. Islam yang baru saja mencapai pencapaian luar biasa, dihadapkan pada tantangan golongan yang hendak memisahkan diri dari Islam dan munculnya Nabi-nabi palsu.
Secara umum, berikut beberapa tantangan yang dihadapi di masa Khalifah Abu Bakar Ash Shiddiq:
Tantangan kepemimpinan Abu Bakar Ash Shiddiq adalah mempertahankan Islam yang telah diwariskan Rasulullah SAW. jika gagal dalam memimpin, Islam bisa runtuh hanya beberapa saat setelah Nabi Wafat. Bukan hanya membangun negara, tetapi menjaga iman umat agar tidak hilang.
Baca juga: Kisah Utsman bin Affan: Khalifah Dermawan yang Gugur Syahid
Selama memimpin dalam waktu 2 tahun, Khalifah Abu Bakar Ash Shiddiq mempunyai pencapaian sebagai berikut:
Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah menyebut kebijakan Abu Bakar sebagai fondasi stabilitas umat Islam pasca wafat Nabi SAW.
Umar bin Khattab menjadi khalifah kedua setelah Abu Bakar Ash Shiddiq. Kememimpinan Umar bin Khattab ditunjuk langsung oleh Abu Bakar Ash Shiddiq sebelum wafat. Umat Islam pun segera membaiat manusia ketiga paling mulia setelah Rasulullah SAW dan Abu Bakar Ash Shiddiq.
Selama memimpin, fokus Umar bin Khattab adalah menata administrasi negara sekaligus melakukan invasi militer untuk memperluas dakwah dan wilayah kekuasaan Islam. Di bawah kepemimpinannya, wilayah Islam menjadi semakin luas.
Umar bin Khattab sendiri adalah pemimpin yang zuhud dan sangat sederhana. Ia tidak membutuhkan pengawalan dan protokol yang mewah. Namun ditangannya, keadilan menjadi supremasi tertinggi.
Imam As-Suyuthi dalam Tarikh al-Khulafa menyebut Umar bin Khattab sebagai penegak keadilan yang membuat setan gentar.
Baca juga: Usianya Belum 22 Tahun, Al-Fatih Taklukkan Kota yang Dianggap Mustahil
Tantangan kepemimpinan Umar bin Khattab bukan datang dari luar Islam, tetapi justru dari internal Islam. Diantara tantangan yang dihadapi Khalifah Umar bin Khattab adalah:
Selama 10 tahun memerintah, berikut pencapaian Khalifah Umar bin Khattab yang menjadi tonggak untuk perkembangan Islam selanjutnya:
Baca juga: Shalahuddin Al Ayyubi Sang Penakluk Yerusalem, Dihormati Kawan dan Disegani Lawan
Umar bin Khattab wafat setelah ditikam oleh Abu Lu'luah, orang Persia yang memendam dendam terhadap Khalifah Umar bin Khattab yang telah menghancurkan Kekaisaran Persia untuk selamanya.
Sebelum meninggal, Umar bin Khattab membentuk Dewan Syura untuk memilih khalifah yang baru. Dewan syura itu terdiri dari 6 sahabat utama, yaitu Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, Sa'ad bin Abi Waqqash, Thalhah bin Ubaidillah, dan Abdurrahman bin Auf. Dari musyawarah Dewan Syura, Utsman bin Affan terpilih sebagai khalifah ketiga.
Kememimpinan Utsman bin Affan diwarnai munculnya fitnah yang tidak menyenangkan. Utsman bin Affan yang sudah lanjut usia saat diangkat menjadi khalifah dianggap melakukan nepotisme karena mengangkat keluarganya pejabat negara.
Masa pemerintahan Utsman bin Affan selama 12 tahun diwarnai dengan mulai munculnya berbagai fitnah, Abdullah bin Saba' seorang Yahudi yang menyamar masuk Islam menebarkan berbagai fitnah, maka muncullah berbagai masalah di masa kepemimpinan Utsman bin Affan, diantanya adalah:
Adanya berbagai masalah ini membuat Khalifah Utsman mendapat tekanan untuk menggunakan kekerasan dalam menghadapi pemberontakan. Meski memiliki kekuatan untuk melawan, Utsman bin Affan memilih kesabaran.
Khalifah utsman berkata: “Aku tidak ingin menjadi khalifah pertama yang menumpahkan darah umat Islam."
Baca juga: Umar bin Abdul Aziz dan Kepemimpinan Singkat yang Menghadirkan Kemakmuran Rakyat
Selama kepemimpinan Utsman bin Affan, ada beberapa pencapaian yang dirasakan, meskipun berlangsung di tengah kekacauan:
Puncak fitnah dan pemberontakan yang muncul di masa Khalifah Utsman bin Affan adalah syahidnya Sang Khalifah. Tidak ada perlawanan yang berarti. Ia sudah tahu ajalnya akan tiba sebagaimana pernah disampaikan Rasulullah SAW.
Utsman bin Affan wafat saat sedang membaca Al Quran. Kememimpinan kemudian beralih kepada Ali bin Abi Thalib. Tetapi tidak sepenuhnya umat Islam membaiatnya. Muawiyah bin Abi Sufyan yang berada di Syam belum mengakui kememimpinan itu.
Masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib memasuki masa kelam umat Islam. Banyak perselisihan dan permasalahan terjadi.
Baca juga: Doa untuk Pemimpin: Amalan Sunyi yang Dampaknya Besar bagi Negeri
Di masa kepemimpinan Ali bin Abi Thalib, permasalahan umat Islam semakin besar dan pelik. Beberapa permasalahan besar yang terjadi adalah:
Kepemimpinan Ali bin Abi Thalib berakhir ketika ia menjadi syahid setelah ditusuk oleh seorang khawarij bernama Abdurrahman bin Muljam. Dengan meninggalnya Ali bin Abi Thalib, periode kepemimpinan Khulafaur Rasyidin berakhir.
Sebagian ulama ada yang menambahkan kepemimpinan Hasan bin Ali selama 6 bulan masuk ke dalam masa Khilafah Nubuwah utuk menggenapai hadits Nabi bahwa umur Kekhalifahan Nubuwah adalah 30 tahun.
Meskipun memimpin di tengah konflik dan perpecahan selam 5 tahun, ada beberapa pencapaian selama kepenimpinan Khalifah Ali bin Abi Thalib, antara lain:
Baca juga: 5 Hadits tentang Jabatan: Jabatan itu Amanah, Jangan Disalahgunakan
Kempemimpinan 4 Khalifah Rasyidah dibawah naungan Nubuwah itu sangat beragam dan menjadi prototipe kepemimpinan sesudahnya. Dalam pemilihan pemimpin, ada tiga cara yang diajarkan dalam Islam, yaitu:
1. Dipilih langsung oleh umat
2. Ditunjuk langsung oleh pemimpin sebelumnya
3. Dipilih oleh dewan syura yang telah ditunjuk.
Kepemimpinan Khulafaur Rasyidin ini menjadi teladan bagaimana ketegasan, keadilan, kesabaran, dan amanah harus dijunjung tinggi.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang