KOMPAS.com - Bulan Syaban menempati posisi strategis dalam kalender Hijriah karena berada di antara dua bulan agung, yaitu Rajab dan Ramadan.
Dalam tradisi Islam, Syaban dikenal sebagai bulan persiapan spiritual sebelum memasuki Ramadan. Salah satu amalan utama yang sangat dianjurkan pada bulan ini adalah puasa sunnah Syaban.
Mengutip buku 200 Amalan Ringan Berpahala Istimewa karya Abdillah F. Hasan, Syaban merupakan momentum pembiasaan ibadah agar umat Islam siap secara fisik dan rohani menyambut kewajiban puasa Ramadan. Rasulullah SAW pun mencontohkan praktik puasa yang intensif pada bulan ini.
Baca juga: Keistimewaan Bulan Syaban: Bulannya Rasulullah, Alquran, dan Diangkatnya Amal
Puasa Syaban memiliki kedudukan istimewa karena berkaitan langsung dengan pengangkatan amal manusia. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Usamah bin Zaid, Rasulullah SAW bersabda:
"Itulah bulan yang sering dilalaikan manusia antara Rajab dan Ramadan. Pada bulan itu amal-amal diangkat kepada Rabb semesta alam, dan aku ingin amalanku diangkat dalam keadaan berpuasa." (HR. An-Nasa’i)
Hadis lain yang diriwayatkan oleh Aisyah RA juga menegaskan intensitas ibadah Rasulullah di bulan Syaban:
"Aku tidak pernah melihat Rasulullah SAW berpuasa sunnah lebih banyak daripada di bulan Syaban." (HR. Bukhari dan Muslim)
Menurut kitab Fiqh Sunnah karya Sayyid Sabiq, puasa Syaban bukan sekadar ibadah sunnah, tetapi juga latihan spiritual untuk membangun konsistensi ibadah sebelum Ramadan tiba.
Baca juga: Niat Puasa Nisfu Syaban: Bacaan, Dalil, Jadwal, dan Keutamaannya
Berdasarkan Kalender Hijriah Indonesia terbitan Kementerian Agama RI, 1 Syaban 1447 Hijriah diprediksi jatuh pada Selasa, 20 Januari 2026.
Sementara Muhammadiyah juga menetapkan awal Syaban pada tanggal yang sama melalui metode hisab hakiki wujudul hilal.
Meski demikian, penetapan resmi tetap menunggu hasil rukyatul hilal yang dilakukan menjelang akhir bulan Rajab oleh Kemenag dan ormas Islam.
Pada bulan Syaban, umat Islam dianjurkan melaksanakan beberapa jenis puasa sunnah yang memiliki dasar kuat dalam hadis Nabi. Berikut rincian puasa yang dapat diamalkan:
Puasa sunnah ini rutin dilakukan Rasulullah SAW karena pada hari tersebut amal manusia dilaporkan kepada Allah SWT. Mengacu pada kalender Syaban 2026, puasa Senin dan Kamis diperkirakan jatuh pada:
Kamis, 22 Januari 2026 (3 Syaban)
Senin, 26 Januari 2026 (7 Syaban)
Kamis, 29 Januari 2026 (10 Syaban)
Senin, 2 Februari 2026 (14 Syaban)
Kamis, 5 Februari 2026 (17 Syaban)
Senin, 9 Februari 2026 (21 Syaban)
Kamis, 12 Februari 2026 (24 Syaban)
Senin, 16 Februari 2026 (28 Syaban)
Baca juga: Mengapa Nisfu Syaban Baca Yasin 3 Kali? Ini Penjelasannya
Puasa Ayyamul Bidh dilaksanakan pada pertengahan bulan Hijriah, yaitu tanggal 13, 14, dan 15. Pada Syaban 2026, puasa ini diperkirakan jatuh pada:
Minggu, 1 Februari 2026 (13 Syaban)
Senin, 2 Februari 2026 (14 Syaban)
Selasa, 3 Februari 2026 (15 Syaban/Nisfu Syaban)
Dalam buku Riyadhus Shalihin karya Imam An-Nawawi dijelaskan bahwa puasa Ayyamul Bidh memiliki keutamaan setara puasa sepanjang tahun karena konsistensinya dilakukan setiap bulan.
Sebagian sahabat meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW hampir berpuasa penuh di bulan Syaban, meskipun tidak sampai satu bulan penuh secara mutlak. Hal ini menunjukkan fleksibilitas dalam memperbanyak puasa sunnah sesuai kemampuan.
Baca juga: Niat Puasa Syaban: Panduan Lengkap, Keutamaan, dan Dalilnya
Terkait larangan puasa setelah pertengahan Syaban, terdapat perbedaan pendapat ulama. Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitab Fathul Bari menjelaskan bahwa mayoritas ulama membolehkan puasa sunnah setelah Nisfu Syaban, terutama bagi orang yang sudah terbiasa berpuasa.
Adapun mengenai puasa pada hari ragu (30 Syaban), Syekh Ibnu Qasim Al-Ghazi dalam Fathul Qarib menyatakan hukumnya makruh tahrim, sedangkan Syekh Khatib Asy-Syirbini menyebutnya makruh tanzih.
Niat puasa Syaban dilakukan pada malam hari sebelum fajar. Berikut lafaz niat puasa sunnah Syaban:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ شَعْبَانَ لِلَّهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma ghadin ‘an adā’i sunnati Sya‘bāna lillāhi ta‘ālā.
Artinya "Saya niat puasa sunnah Syaban esok hari karena Allah Ta’ala."
Menurut kitab Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab karya Imam An-Nawawi, niat merupakan rukun utama puasa yang menentukan sah atau tidaknya ibadah.
Baca juga: Amalan Malam Nisfu Syaban: Keutamaan, Dalil, dan Panduan Ibadah
Puasa Syaban tidak hanya berdimensi ibadah ritual, tetapi juga memiliki nilai edukatif dan spiritual.
Dalam buku Tazkiyatun Nafs karya Syekh Sa’id Hawwa, dijelaskan bahwa puasa sunnah melatih pengendalian diri, memperkuat keikhlasan, dan membangun kesiapan mental menghadapi ibadah wajib Ramadan.
Dengan memperbanyak puasa Syaban, umat Islam diharapkan memasuki Ramadan dalam kondisi iman yang stabil, fisik yang terbiasa berpuasa, serta hati yang lebih bersih.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang