Editor
KOMPAS.com - Taubat nasuha merupakan taubat yang dilakukan dengan sungguh-sungguh, disertai penyesalan mendalam, meninggalkan dosa, serta bertekad tidak mengulanginya lagi.
Dalam Islam, taubat nasuha menjadi jalan bagi seorang hamba untuk kembali kepada Allah SWT dan meraih ampunan-Nya.
Karena itu, sebesar apa pun dosa seseorang, pintu rahmat Allah tetap terbuka selama masih hidup dan benar-benar ingin memperbaiki diri.
Baca juga: Doa Sholat Taubat Nasuha Lengkap: Istighfar Nabi & Artinya
Pesan tersebut seperti disampaikan KH Drs. Gunarto Muchsin dalam pengajian Muhammadiyah Ranting Bulu Lor di halaman SMP Muhammadiyah 5 Semarang, Selasa (7/7/2026), yang dikutip dari laman muhammadiyahsemarangkota.org.
Dalam kajian tersebut, KH Gunarto Muchsin mengupas kandungan Surah Az-Zumar ayat 53 yang mengajak manusia agar tidak berputus asa dari rahmat Allah SWT.
Baca juga: Niat Mandi Taubat Nasuha Lengkap dengan Tata Cara Sholatnya
Menurutnya, rasa bersalah atas dosa masa lalu seharusnya menjadi dorongan untuk segera kembali kepada Allah, bukan justru membuat seseorang menjauh dari-Nya.
Ia menegaskan bahwa kesempatan bertobat akan selalu terbuka selama seseorang masih diberi kehidupan.
“Sebesar apa pun dosa manusia, selama masih hidup dan mau kembali kepada Allah dengan sungguh-sungguh, maka pintu ampunan selalu terbuka,” tegas Ustadz Gunarto.
KH Gunarto juga menjelaskan perbedaan antara dosa besar dan dosa kecil agar umat Islam memahami cara membersihkannya.
Menurutnya, dosa-dosa kecil dapat dihapus melalui ibadah yang dilakukan secara konsisten, seperti menyempurnakan wudu, menjaga salat lima waktu, serta memperbanyak amal saleh. Allah SWT, kata dia, senantiasa menghargai setiap ikhtiar hamba-Nya dalam memperbaiki diri.
“Allah mengampuni seluruh dosa bagi hamba yang benar-benar bertaubat,” tambahnya dengan nada meyakinkan.
Sementara itu, dosa besar memerlukan taubat nasuha, yakni taubat yang dilakukan secara tulus dan memenuhi syarat-syarat yang diajarkan dalam Islam.
KH Gunarto menjelaskan bahwa seseorang yang ingin menjalankan taubat nasuha harus menyesali perbuatan dosanya dengan sepenuh hati, segera menghentikan kemaksiatan yang dilakukan, serta memiliki tekad yang kuat untuk tidak mengulanginya kembali.
Komitmen tersebut tidak cukup diucapkan melalui lisan, tetapi harus dibuktikan melalui perubahan sikap dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari.
“Taubat bukan hanya di lisan, tetapi harus dibuktikan dengan perubahan perilaku. Orang yang benar-benar bertaubat akan memperbaiki amalnya dan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik,” tutur Ustadz Gunarto.
KH Gunarto menegaskan bahwa Islam adalah agama yang memberikan kesempatan kepada setiap hamba untuk memperbaiki diri. Kesalahan dan dosa di masa lalu tidak boleh menjadi alasan untuk berputus asa dari rahmat Allah SWT.
Sebaliknya, setiap Muslim didorong untuk segera kembali kepada-Nya dengan memenuhi syarat-syarat taubat nasuha.
Melalui taubat yang tulus dan disertai perubahan perilaku, seorang hamba diharapkan dapat menjalani kehidupan yang lebih tenang, bermakna, dan penuh keberkahan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang